Posts

Showing posts from 2013

Review Kuliner: Warung Sambel Welut Pak Sabar (Yogyakarta)

Image
Pesona Si Kulit Licin nan Bergizi Oleh: Fauzan Al-Asyiq Tidak semua orang suka mengkonsumsi hewan yang satu ini. Berbadan panjang tanpa kaki. Bagi orang yang tak pernah bertandang ke pedesaan, mungkin akan mengira makhluk ini sejenis ular. Nyatanya bukan. Belut, hewan ini biasa dipanggil, sama sekali tidak bersisik layaknya hewan melata tersebut. Badannya cokelat kehitaman dan licin, bermata kecil dan mulut menyerupai ikan. Habitat alaminya sawah dengan perairan yang memadai. Meski terkesan aneh, belut sudah sejak lama menjadi makanan favorit banyak orang. Selain dagingnya yang gurih, tulangnya pun tidak berduri tajam dan lebih lunak jika dibandingkan dengan tulang ikan. Belum lagi kandungan gizi didalamnya. Belut terkenal dengan tingkat proteinnya yang tinggi. Sehingga tidak jarang negara maju seperti Jepang bahkan mengimpor jutaan belut dari hasil peternakan Indonesia. Meski menjadi salah satu komoditi ekspor nasional, tidak banyak warung makan yang menyediakan menu belut ...

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)

Image
Bakmi yang Membisukanmu Oleh: Fauzan Al-Asyiq Masakan bakmi jawa selalu menjadi ciri khas kuliner Jawa Tengah danYogyakarta. Berbeda dengan mi instan, bakmi jawa yang sama-sama bisa digoreng maupun rebus, mempunyai rasa yang berbeda. Terkesan manis dan wangi. Ada ribuan pedagang bakmi jawa yang bisa ditemukan dipinggir jalan, kolong jembatan, maupun restoran bintang lima. Namun, hanya segelintir yang rasanya benar-benar mampu membuat saya terbisu, khusyuk menikmati suap demi suap bakmi yang tersaji hangat beruap.  Bakmi tersebut ialah bakmi Si Bisu atau sesuai yang tertulis di kaca gerobaknya, Shibitshu, warung bakmi sederhana yang berlokasi di Jalan Bantul (sekitar 100 meter utara Pasar Satwa Jogja). Jangan tertipu dengan bentuk warungnya yang sangat tradisional. Hanya gerobak berhias 2-3 meja besar dengan sekian hamparan tikar lusuh. Tapi jangan salah, setelah pukul 9 malam, warung tersebut dipastikan seakan menghilang tertelan pemandangan puluhan motor dan mobil yan...

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mengenai sisi emosionalnya, para pengidap LLI cenderung mampu mengendalikan mood mereka dan menjaganya tetap stabil, bahkan dalam keadaan tertekan sekalipun. Kebanyakan orang mungkin kurang bisa menjaga mood lantaran kondisi lingkungan dan sugesti orang lain (termasuk dirinya sendiri) yang terus terngiang-ngiang seperti suara yang berbicara didalam kepala mereka. Pengidap LLI hampir tidak pernah mengalami hal ini karena kontrol pikiran sepenuhnya berada dalam alam sadar mereka. Sayangnya, kondisi seperti ini justru berimbas pada pembawaan sang pengidap. Ekspresi mereka cenderung datar dan agak kurang bisa bersimpati terhadap keadaan orang lain. Meski bisa dibilang pengidap LLI mempunyai sedikit 'keistimewaan' dibanding manusia normal pada umumnya, bukan berarti mereka tak punya sisi humanisme yang dikorbankan. Satu kekurangan yang dimiliki pengidap LLI ialah ia kesulitan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, terutama melalui komunikas...

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Dalam sebuah sudut penjara di bilangan Illinois, Amerika Serikat, seorang pria terlihat mengendap-endap penuh waspada. Ia tengah bersembunyi dibalik rak besi yang berisi dokumen para tahanan yang disekap ditempat tersebut. Pria berkepala plontos itu merencanakan sebuah pelarian unik untuk melepaskan kakaknya, Lincoln Burrows dari jerat hukuman mati karena sebuah kasus berbahaya. Mata pria yang bernama Michael Scofield ini terus menatap sebuah kotak besi yang terletak 5 meter persis didepan batang hidungnya. Diatas kotak itu ada 9 tombol yang bertuliskan angka-angka, semacam kunci pengaman berpassword untuk mencegah orang yang tak diinginkan masuk ke lorong yang tak lain adalah sel tahanan. Tak berapa lama, seorang sipir penjara datang dan menekan beberapa angka kombinasi, lalu masuk begitu saja. Michael tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil membawa segenggam debu, ia bergerak mendekati kotak besi tersebut. Dengan satu tarikan nafas, ia lantas meni...

Embracing an Early Sunshine

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful . Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation. Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging , menantang. Setelah 3 tahun silam saya mend...

Jidatmu Identitasmu (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Semua Hal-hal tersebut seakan menjadi barcode khusus yang membedakan mereka dari produk-produk lain dipasaran. They just stand out among the others . Not in the good way, but in the very distinctive one.  Fakta inilah yang membuat saya (mungkin beberapa orang juga berpikiran sama) menjadi stereotype—hanya pada kaum tersebut diatas. Diluar, kami memang bebas dan terpisah untuk terjun ke ranah perjuangan masing-masing, namun sebenarnya ada benang merah yang dengan mudah mampu manyatukan kami kembali: kemampuan untuk mengenali kaum kami sendiri. Kalimat saya sebelumnya tolong jangan dinilai diskrimnatif. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya sulit menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menerjemahkan apa yang ada diotak saya saat ini. :) Sudah tak terhitung berapa kali saya bertemu teman satu sekolahan saya diluar. Mau masih nyantri ataupun yang sudah beranak cucu, yang kenal maupun yang belum pernah ketemu.

Jidatmu Identitasmu (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu saya sedang bersantai sembari berjaga di toko ketika 2 orang remaja putri datang untuk menanyakan tersedia atau tidaknya sebuah buku yang mereka cari. Melihat dari busananya, tak heran mereka mencari buku tersebut. Keduanya mengenakan jilbab lebar menutupi bahu, baju panjang diilengkapi rok gelap, tak lupa berkaos kaki. Saya tersenyum. Tipe-tipe busana seperti ini sangat tidak asing. Bukan yang sering saya pakai tentunya. Hanya saja ketika melihat perempuan berbusana demikian, atau laki-laki bercelana kain lebar, dandanan necis berbaju rapi, saya merasa mereka dan saya setidaknya pernah dibesarkan dalam satu lingkungan yang sama: Pesantren.  Ah, tadinya saya hendak menulis cerita lucu tentang buku yang mereka cari, tapi mari kita simpan sejenak hikayat tersebut.  Pendidikan nonstop 24 jam dalam lingkungan pesantren memang mencakup segala aspek. Dari terkecil hingga terbesar. Dari mulai bangun tidur hingga mata kembali memeja...

Review: This is The End (2013)

Image
This is How They Described Apocalypse. Literally. Oleh: Fauzan Al-Asyiq Entah apa yang merasuki pikiran para kritikus film Hollywood sehingga memberikan rating tinggi pada film ini. Jarang sekali ada film komedi memiliki rating 84% ( certified fresh ) di situs review film terkemuka: rottentomatoes . This is The End merupakan film yang menurut saya hanya sedikit diatas rata-rata, namun film ini saya akui menawarkan resep dan bumbu baru yang sangat segar. Oke, apocalypse-or-dooms-day-or-whatever-you-name-it memang tema lawas, tapi bagaimana jika aktor dan aktris masyhur Hollywood bermain sebagai dirinya sendiri? Well, this is good. Bagi penonton awam, mungkin sensasi menyaksikan hal demikian terkesan biasa saja, namun bagi saya—yang sudah sangat familiar dengan Seth Rogen, Jay Baruchel, James Franco, Jonah Hill, hingga Emma Watson— it’s just hillarious . Menyenangkan sekali menonton mereka memainkan dirinya sendiri, bergumul bersama, melontarkan humor slapstick me...

Product Placement Dalam Film (Part 2: End)

Image
BMW Vision dalam Mission Impossible: Ghost Protocol  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Tak jarang pula dalam satu film, terdapat keroyokan product placement dari berbagai merk, tapi merk-merk tersebut mempunyai perbedaan fungsi. Seperti misalnya Mission Impossible: Ghost Protocol. Film yang rilis di penghujung 2012 ini menampilkan jajaran merk mewah seperti Apple dengan produknya macam iPhone, iPad, dan Macbook Air, maupun BMW dengan konsep mobil futuristiknya, BMW Vision, yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mempunyai fitur display layar sentuh raksasa dibagian kemudinya.  But well, semua contoh diatas belum apa-apa jika dibandingkan dengan Sony, merk raksasa manufaktur elektronik Jepang. Sony begitu digdaya dalam mempromosikan produknya melalui film-film yang didistribusikan dibawah bendera Columbia Pictures dan Screen Gems. Keduanya merupakan anak perusahaan Sony. Bedanya, Columbia bergerak dalam distribusi film berbudget besar seperti franchise Spiderm...

Product Placement Dalam Film (Part 1)

Image
Honda Acura dalam film Marvel's The Avengers (2012) Oleh: Fauzan Al-Asyiq Sampai sekarang, saya masih tidak habis pikir ketika menyaksikan kejanggalan yang amat sangat mengganggu begitu melihat penampakan sebuah cemilan cokelat dalam sebuah film biografi yang bertajuk Habibie Ainun. Terlepas dari 4 juta pasang mata yang telah menontonnya, jujur saya sendiri tidak begitu antusias terhadap film tersebut. Bagi saya yang penikmat film, film ini luar biasa dari segi cerita dan isinya, namun sedikit kedodoran dibagian make up dan aspek keotentikan setting properti. Untuk alasan make up saya masih memaklumi karena mengubah raut wajah seseorang menjadi 20-30 tahun lebih tua tidaklah mudah bagi tim visual efek film Indonesia. Namun, atas nama seni, alasan kedua kurang bisa ditolerir dengan alasan apapun.  Habibie Ainun bukan satu-satunya film Indonesia yang secara gamblang memamerkan sebuah produk untuk kepentingan promosi. Jauh sebelum itu (meski tidak separah Habibie Ainun)...

Gontor itu Indah

Image
Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu. Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak "pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar-angkat koper"- demikian istilahnya di sana. Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar-angkat koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.  Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah men...

Review: Star Trek Into Darkness (2013)

Image
The Sequel That Deserves Another One Oleh: Fauzan Al-Asyiq The best science-fiction movie that I ever seen. Saya harap kalimat pertama tersebut bisa mewakili keseluruhan review yang saya tulis ini. Lupakan Saga Transformers yang bermandikan spesial efek, namun bernaskah cemen. Buang jauh-jauh Prometheus yang garing dan terlalu berfilosofis. Ah, mereview STID membuat saya melupakan film fiksi ilmiah apa saja yang telah saya tonton, hampir, semuanya tak begitu berkesan, tentu saja selain Star Trek (2009) itu sendiri, prekuel dari STID. Saya terhitung telat menyaksikan saga penjelajah luar angkasa ini. Terus terang, pada awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Star Trek karena sudah terlalu banyak diadaptasi menjadi berbagai media: film, serial tv, game, novel grafis, dsb. Lantaran Star Trek booming di era 80an, saya pikir saat ini sudah terlalu telat untuk mulai menyukainya.  But, guess what? Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mencintai sesuatu. Sem...

Review: Elysium (2013)

Image
Sometimes an Asshole Can Be a Hero Too  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Dalam menikmati sebuah film yang relatif asing bagi saya (film orisinil atau adaptasi dari source yang relatif belum pernah saya dengar), saya sering mengkategorikan film tersebut menjadi 2 hal: berbobot dan menghibur. Tidak banyak film yang mampu menyatukan keduanya dengan porsi seimbang, setidaknya belakangan ini, sampai saya menonton Elysium minggu kemarin. Film yang bergenre, science-fiction, adventure, dan action ini mengemas sebuah hiburan menegangkan dalam balutan sinematografi CGI ( Computer Generated Imagery ) yang dahsyat, tanpa harus mengorbankan esensi dari kritik sosial yang terkandung didalamnya. Ya, film ini berbobot dan menghibur.  Elysium ber plot maju, dengan beberapa flashback guna mendukung gaya penceritaan Neill Blompkamp, sang sutradara. Kisahnya diawali dengan penuturan keadaan bumi tahun 2153, dimana keadaannya sudah tidak layak dihuni karena overpopulated . Kondisi ini menyebabka...

Review: Sate Petir Pak Nano (Yogyakarta)

Image
The Silence of The Lambs  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Sebagai pecinta kuliner pedas, sate petir pak nano sudah lama menjadi peringkat teratas dalam top list schedule wisata kuliner saya. Alasannya sederhana saja; saya suka pedas, dan sate pak nano adalah sate daging kambing muda--tipe daging terlezat yang dianugerahkan Tuhan pada umat manusia. Dan, baru hari ini saya berkesempatan mencicipi sate yang konon katanya mampu memberikan sengatan petir pada lidah yang mengecapnya.  Spot kuliner ini berlokasi cukup jauh dari jantung kota Jogja, tepatnya di jalan lingkar selatan, desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Meski jauh, lokasinya mudah ditemukan karena terletak persis dipinggir jalan besar, tepat disebelah jembatan. Warung ini tidak hanya menyediakan sate, namun juga tongseng yang masih berbahan dasar sama, daging cempe (kambing ababil :P). Saya sendiri butuh waktu perjalanan sekitar 40 menit dari ujung ringroad utara Jogja. 

Review: The Man From Nowhere (2010)

Image
When Revenge is The Only Reason That Keeps You Alive Oleh: Fauzan Al-Asyiq The Man From Nowhere (2010):  One of the best vengeance movie out there, comes from a country of thousand revenge story, Korea. Featuring some-cool-but-deadly main character and his one and only friend, the-innocent-7-year-old-girls. When the kid was kidnapped, there's nothing in the world could stop him from taking a brutal revenge. Secara singkat, film ini menceritakan kisah tentang seorang pemuda pendiam, pemilik toko penggadaian barang, yang kesehariannya hanya ditemani gadis kecil, anak dari tetangganya—seorang janda yang bekerja di dunia malam. Tak lama kemudian, gembong narkoba dan penjualan organ manusia datang untuk menculik mereka berdua. Sebenarnya, pemuda itu tak begitu peduli dengan kehadiran gadis kecil tersebut, lantaran dimasa lalu ia kehilangan istri dan anaknya secara tragis, sehingga ia merasa tak memiliki apapun untuk meneruskan hidupnya.

The Untold Story: Glee and My School (Part 3)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Haduh, malah berasa panjang lebar ngejelasinnya. Intinya, saya cukup beruntung kala itu bisa merasakan sensasi menjadi anggota dari beberapa organisasi eksklusif di sekolah. Tentu banyak sekali kejadian-kejadian lucu dan memorable yang saya alami bersama kawan-kawan, yang tak mungkin bisa diingat satu-persatu. Berikut akan saya ceritakan sekilas mengenai keistimewaan organisasi tersebut—seperti sihir, membuat siswa terlihat berbeda dimata siswa lainnya. a. Bagian Penerimaan Telepon Description: Ok, yang pertama kali saya protes begitu mendengar nama organisasi ini adalah; nama yang amat sangat tidak keren. Fine, in english, it’s quite cool; Phone Reception Officer , atau dalam bahasa unta; Qismu-l-hatif . Tugasnya jelas; menerima telepon dari masyarakat luar, kebanyakan wali siswa yang ingin bercakap dengan anaknya— FYI , lokasi sekolah ini memang berada di negeri antah berantah, jauh dari peradaban. Organisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 3-...

The Untold Story: Glee and My School (Part 2)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq I don't think revealing my school's name is really necessary. Everyone who knows me must know where and what it is. By the end of article you will exactly know too. But, to make the reading easier and funner, let’s just call my school: MIBS.  Ada begitu banyak ekskul maupun klub disekolah ini. Bisa dibilang, setiap kepala siswa punya wadah yang menaunginya. Dari mulai klub olahraga dengan berbagai cabangnya (sepak bola, basket, futsal, bulutangkis, takraw, pingpong, voli, pencak silat, senam), klub jurnalisme, bahasa, dan kepenulisan, hingga klub seni. Setiap siswa bebas bergabung ke dalam klub manapun, dengan satu syarat; loyalitas. Berbeda dengan klub-klub sekolah lainnya, memasuki salah satu klub di sekolah ini berarti mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk klub tersebut, selama sang siswa masih bersekolah disana—bahkan tak jarang loyalitas pada klub berlanjut hingga menjadi alumni. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulny...

The Untold Story: Glee and My School (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Belakangan ini saya sering menikmati waktu luang dengan menonton Glee, sebuah serial televisi Amerika yang bergenre musical comedy . Season pertamanya ditayangkan pada tahun 2009, dan ditayangkan secara rutin setiap tahunnya hingga sekarang menginjak season ke lima ( released soon ). Terlepas dari temanya yang cliche, yaitu tentang drama lika-liku kehidupan remaja di sekolah ( high school ), Glee membawakan pesan moral yang cukup mendasar; menghargai perbedaan, persaingan, dan arti sebuah sahabat/keluarga. Full stop . Selebihnya, bagi saya, tidak ada yang patut ditelaah lebih lanjut dari serial ini karena luasnya cakupan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai ketimuran, ditampilkan secara gamblang. Kissing scene, teen pregnancy, cheating, and even worse than that. Thankfully , yang membuat saya tertarik menontonnya adalah kuatnya penjiwaan tiap karakter, serta alunan musik dan tarian yang mengiringi sepanjang film.

Sejenak Bersama Seorang Penasehat Kepresidenan

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Russy (20), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran UII, terlihat sedang memperagakan cara menjahit luka pada sebuah tangan palsu. Rekannya, Jeem (20) turut membantu menerangkan pada para siswa SMA yang sedang menyaksikan keahlian Russy memainkan jarum dan benang. Disudut lain, Sastro (21) tak kalah sibuk. Ia dengan semangat membagikan lembaran informasi fakultas kepada orang yang lewat. Suasana seperti itu tampak tidak asing terlihat di ruang Assembly Hall, gedung Jakarta Convention Center (JCC). Tak lain adalah karena saat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia sedang mengadakan acara Education & Training Expo 2011. Acara kali ini diklaim sebagai expo terbesar selama kurun waktu 20 tahun terakhir.  Dalam acara yang mendatangkan siswa dari 180 SMA di Jabodetabek tersebut, tak kurang dari 120 lembaga pendidikan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri turut serta. UII, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terbaik di Yog...

Sekelumit Opini tentang Media Dakwah (Part 2)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Landasan kedua adalah dasar psikologis. Pada waktu menyusun desain untuk media, tujuan dan sasaran media harus dirumuskan dengan jelas terlebih dahulu. ini berguna untuk mengantisipasi psikologis sasaran media yang berbeda-beda, dengan demikian mereka akan menangkap pesan dengan tanggapan yang berbeda pula. Jika sudah demikian, akan terjadi disordered massive interpretation. Sebuah kesalahan interpretasi secara masal, yang mana hal ini justru akan mengaburkan pesan sebenarnya dari media tadi. Tulisan ini tidak akan membahas mengenai seluruh media dari ketiga macam dakwah diatas, melainkan hanya salah satunya saja, yaitu media dakwah bil kitabah. Nah, mengapa penulis memilih membahas media tersebut? Pertama, adanya relevansi antara Sintaksis dengan metode dakwah bil kitabah. Kedua, potensi berdakwah dengan tulisan saat ini tidak hanya terletak pada pena-pena tua yang hampir kehabisan tinta, tapi juga pada generasi muda yang kian lihai memainkan jarinya ...

Sekelumit Opini Tentang Media Dakwah (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Sejak dahulu, jaminan kesejahteraan umat di dunia dan di akhirat ada pada konsistensi dakwah Islam yang berjalan saat itu. Dakwah itu sendiri berarti ajakan kepada kebaikan. Sesuai namanya, Islam merupakan jalan keselamatan bagi pemeluknya. Perintah pertama untuk berdakwah jatuh kepada Nabi Nuh. Seiring berjalannya zaman, tampaknya cara berdakwah pun ikut berkembang. Sampai masuk pada zaman hijriyah, Rasulullah SAW mendefinisikan dakwah bukan hanya berbentuk komunikasi lisan satu arah macam khutbah dan ceramah. Tapi mempunyai lingkup lebih luas. Beliau membagi dakwah menjadi 3 macam.  Pertama, dakwah bil lisan . Dakwah dengan lisan. Inilah cikal bakal dakwah yang paling sederhana, dimana Rasulullah pertama kali berdakwah dengan cara ini. Pada awalnya, beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi ( sirriyah ), kemudian melanjutkannya dengan terang-terangan ( jahriyah ). Dewasa ini, metode dakwah seperti ini sering disebut dengan khutbah atau ceramah....

Peta Buta Imajinasi Kita

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq “Anda seperti sebuah menara penyiaran, yang memancarkan frekuensi dengan pikiran-pikiran anda. Jika anda ingin mengubah sesuatu dalam hidup Anda, ubahlah frekuensi dengan mengubah pikiran Anda." Demikianlah penggalan kalimat yang dikemukakan Rhonda Byrne dalam bukunya yang fenomenal “The Secret” mengenai pentingnya sebuah pikiran, imajinasi, dan visi. Ketiga hal tersebut, walau bukan hal yang tangible, namun menjadi faktor utama penentu kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Bisa dipastikan hampir setiap dari kita pernah berimajinasi dan merancang akan seperti apa masa depannya, akan tetapi hanya segelintir orang yang berani mempertaruhkan segalanya, mau terombang-ambing ditengah kerasnya alur kehidupan, demi mewujudkan imajinasi masa depannya dan ia berhasil.  Ada dua jenis mimpi yang dapat mempengaruhi manusia. Pertama, adalah mimpi yang ia dapatkan ketika terlelap tidur, hal ini tentatif karena tidak dapat diwujudkan dengan s...

Pernikahan Dini: Sebuah Bahtera Berjuta Hikmah

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq "The word 'love' in the Qur'an appears on over 90 places but interestingly it doesn't define the word love, but speaks about the very first consequences about love; commitment. Islam talks about commitment, if you truly love something or someone, you commit. If you do not then your claim of 'true love' is not real at all." (Syaikh Yassir Fazaga) credit to Zhizhi Siregar Kecerundungan mahasiswa muslim untuk menikah dini tampaknya mulai menunjukkan trend peningkatan belakangan ini. Hal ini disebabkan oleh opini yang menuturkan bahwa pernikahan dini mampu mengatasi problem sosial yang ada. Problem sosial yang dimaksud disini adalah keberadaan ghorizatun nau’ (naluri melangsungkan keturunan) pada diri mahasiswa dalam konteks masyarakat sekuler yang liberal. Problem ini lahir karena dua faktor sosial. Pertama, masyarakat sekuler tersebut banyak menawarkan stimulus yang membangkitkan nafsu seksual, baik berupa kenyataan sos...

Dominasi Teknologi sebagai Aspek Budaya

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Perubahan dinamis dan arus globalisasi agaknya mulai menyebabkan masyarakat Indonesia yang dulunya memiliki beragam kebudayaan kini kurang memiliki kesadaran akan pentingnya memper-tahankan budaya lokal demi memperkokoh identitas dan nilai budaya bangsa. Menurut Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat.  Perubahan sosial yang kini banyak ditemukan di masyarakat tidak lain adalah bagian dari perubahan budaya. Dimana masyarakat mulai belajar menerima cara-cara baru yang diinjeksikan oleh bangsa luar sebagai produsen barang yang banyak dikonsumsi masyarakat saat ini. Ambil contoh Research in Motion (RIM) sebagai produsen Blackberry telah menyuguhkan cara baru untuk berkomunikasi jarak jauh dengan Blackberry Messangernya. Bagi masyarakat, hal ini praktis menjadi alternatif yang sangat efisien—mengingat aktivitas yang se...

Menuju World Class University

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Salah satu bentuk implikasi dari globalisasi, perdagangan bebas, dan juga termasuk didalamnya jasa pendidikan, adalah berubahnya paradigma persaingan bagi perguruan tinggi (PT). Dari yang awalnya merupakan persaingan sesama PT dalam sebuah negara, kini meluas hingga menjadi persaingan PT antar negara. Orientasi persaingan inilah yang kemudian memunculkan konsep World Class University (WCU) bagi beberapa PT di Indonesia.  Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, UII telah berupaya agar pendidikan di Indonesia dapat disetarakan dengan pendidikan di negara maju dan berkembang lainnya, yaitu dengan menjadikan tempat kita menimba ilmu ini berstandar “World Class University”.

Kepahlawanan di Mata Tuhan

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Bulir air mata tak henti-hentinya jatuh menyusuri pipi Salsa (7). Gadis kecil tersebut terus menangis sesenggukan dipelukan Ibunya, Wulandari (41), yang merupakan salah satu dari sekian ribu korban letusan gunung Merapi yang terjadi dari tanggal 26 Oktober 2010, hingga puncaknya pada 5 November 2010 silam. Suasana pengungsian yang ramai seolah menelan suara tangisan Salsa yang tidak lain disebabkan oleh kematian sapi kesayangannya, Rama (1,5) yang tewas terpanggang awan panas Merapi. Sapi remaja tersebut tidak sempat diselamatkan karena tim evakuasi hanya mempu membawa manusia.  Ketika ditemui di tempat pengungsian yang tidak jauh dari kampus, Wulandari memaparkan bahwa ia sekeluarga berhasil lolos dari kejaran wedhus gembel karena kecekatan tim evakuasi dalam menggiring warga kampungnya ke tempat yang lebih aman. Ia sangat bersyukur kepada Allah sekaligus sangat berterimakasih pada sang pahlawan yang datang tepat pada waktunya....

Investasi untuk Sebuah Regenerasi

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu, Ia tampak sedikit gelisah. Matahari sudah sedikit condong ke barat, tak lagi memamerkan teriknya pada manusia. Matanya tak pernah lepas dari satuan angka yang menunjukkan waktu di telepon selulernya. Ia berharap, Musyawarah Besar LDF JAM yang saat itu sedang diikutinya akan segera berakhir, dengan begitu ia masih punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada kamarnya, karena malam-malamnya kini tak bisa ia habiskan disana. Maklum, kini setiap sore ia harus bertolak menuju kaki Merapi demi menunaikan kewajiban akademik bertajuk KKN yang dijalaninya saat itu. Datang sore, pulang pagi, begitulah ritme hidup yang harus ditempuhnya selama hampir 45 hari.  Agaknya, bagi perempuan bernama lengkap Hemas Dea Suryanina ini, kegiatan sosial tersebut sedikit memberatkan. Pasalnya, gadis yang pada 6 April silam ini genap berusia 20 tahun mengaku, belum bisa mengatur waktu dan kegiatannya dengan baik. 

Review: Saving Private Ryan (1998)

Image
You’ll Never Go To The War Again!  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Sebuah masterpiece film kembali lahir dari tangan sutradara masyhur Steven Spielberg. Saving Private Ryan adalah sebuah film dokumenter yang bertutur tentang perjuangan sekelompok tentara Amerika Serikat dalam menyelamatkan anggotanya yang disandera militer Normandia. Film yang rilis tahun 1998 ini benar-benar digarap dengan tingkat artistik dan koreografi yang sempurna. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana sang sutradara dengan kepiawaiannya berhasil memvisualisasikan adegan perang dengan sangat realistis. Penonton dibuat seakan menahan napas ketika menyaksikan 25 menit pertama dari film ini.  Adegan pertama dimulai dengan perang yang bersettingkan pantai Omaha, 6 Juni 1944. Dentuman bom, rentetan timah panas, ratusan manusia bergelimpangan bersimbah darah, bahkan tak sedikit yang kehilangan bagian tubuh mereka, adalah bumbu utama film ini. Tak ayal lagi, $ 11.000.000,-pun (dari total estimasi biaya p...

Review: The Social Network (2010)

Image
Tirani di Balik Jejaring Sosial Oleh: Fauzan Al-Asyiq Jangan berharap film ini akan menyajikan kisah sukses dibalik fenomena Facebook, karena apa yang disajikan sutradara David Fincher dalam film ini adalah kebalikannya; seorang pemuda yang brilian dan kaya secara material, namun rusak secara moral dan sosial.  Mark Zuckerberg (Eisenberg) sebelum menjadi founder Facebook, hanyalah seorang mahasiswa Harvard yang biasa saja. Sampai kemudian ia membuat situs facemash.com, sebuah situs yang memuat foto-foto mahasiswi Harvard dan memungkinkan pengunjung untuk mengklik foto siapapun yang dianggap cantik. Setiap hal yang dilakukan manusia terkadang tidak hanya menuai cercaan, namun juga dukungan. Keusilan Mark dan keahlianya dibidang hacking ini ternyata didengar oleh Winklevoss bersaudara (Hammer) yang kemudian mengajak Mark bekerjasama mengembangkan situs tersebut. 

Balada Sang Joki: Sebuah Kesalahan Orientasi Pendidikan

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Pemuda itu memasuki ruang ujian. Matanya segera mencari tempat duduk yang strategis untuk melakukan aksinya. Begitu kertas jawaban dibagikan, ia segera menuliskan nama client-nya dikolom identitas, kemudian mengerjakan soal-soal yang mungkin terasa maha berat bagi peserta ujian lainnya namun tidak baginya. Tak lain karena ia sudah terbiasa. Gelagatnya pun sangat tenang sebab ia merasa tak ada yang mengenalnya. Tiga hari kemudian, sang client menghubungi pemuda tersebut dan menyatakan kepuasannya. Uang yang dijanjikan pun dibayarkan. Usailah misi pemuda tersebut. Misi berbahaya yang biasa disebut Joki.  Pada awal 1990an, istilah joki hanya dikenal di arena balap kuda. Lebih tepatnya sebutan bagi penunggang kuda balap. Namun beberapa tahun terakhir, joki menjadi istilah yang sering muncul pada saat seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi, terutama Negeri. Dengan datangnya saat Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi, entah ...

Atas Nama Seni

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Suasana malam yang sesekali diiringi hujan tampaknya tidak mengurangi niat orang untuk mengunjungi acara tersebut. Demikian pula dengan kami bertiga, dengan sepasang motor, berangkat menerobos padatnya arus lalu malam Minggu di Yogyakarta. Kalau boleh berterus terang, sebenarnya tidak ada yang menjanjikan dari acara itu. Acara yang bertajuk Festival Seni Islami itu tidak menghadirkan goresan kaligrafi Ahmad Nuril, lukisan Pak Tinosidin, apalagi buah tangan Pablo Picasso. Tapi entah mengapa, hati saya terpanggil untuk datang melihat. Mungkin karena ingin merasakan nostalgia ketika tangan ini masih sering berkutat dengan kuas, cat, kaleng bekas, dan menorehkannya diatas kanvas atau triplek.  Memasuki gerbang festival, suasana dingin mencekam tiba-tiba menyeruak. Andai saja tidak ada acara tersebut, lokasi Jogja Nasional Museum itu sangat cocok untuk syuting ‘dunia lain’. Jalan becek yang tidak rata, arsitektur kuno, penerangan yang minim, ser...

Review: Pacific Rim (2013)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Well made script, passionally acted and crafted precisely with reasonable hi-tech in not too distant future environment. Del Torro once again made a great job. This movie is huge, massive, although the ending was predictable, but it still manages audiences to hold their breath in the last 30 minutes. And for the final conclusion: "Sometimes you just gotta accept that some people can only be in your heart, in your memories, not in your life."

Pentingkah Akreditasi dalam Maksimalisasi Kualitas Perguruan Tinggi?

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Setibanya di parkiran, Adi (21) bergegas turun dari motornya untuk segera menuju kelas. Siang itu ia datang terlambat. Tidak seperti biasanya, ia terjebak macet di jalanan. Padahal, lokasi kostnya saja sudah cukup jauh dari kampus. Ia khawatir dosen tidak mengizinkannya mengikuti perkuliahan lantaran keterlambatannya yang terbilang lama, 30 menit.  Setelah naik 3 lantai, pria itu langsung masuk ke kelas. Tapi alangkah kagetnya ia ketika tidak mendapati seorang pun dikelas. Suasana hening. Pandangan matanya terhenti pada secarik kertas yang ditempel dekat pintu. Kuliah SIM kosong. Demikian kurang lebih isi tulisan kertas tersebut. Adi tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena keterlambatannya ternyata tidak dihitung. Sedih karena saat itu sudah hampir UAS, tapi kehadiran sang dosen masih sebatas hitungan jari. “Biasanya sih, senang kalau dosen sering kosong. Tapi sekarang baru kerasa. Sudah hampir UAS, tapi nggak ada ilmu...

Mengenal Seorang Agung Baskoro

Image
 Oleh:  Muhammad Fauzan Al-Asyiq “Kita menulis untuk mengubah peradaban.” Demikian pernyataan seorang Agung Baskoro diakhir pertemuannya dengan kami. Saya tentu tak akan begitu saja percaya kata-kata tersebut andai bukan ia yang bicara. Agung Baskoro bukan siapa-siapa sampai penghujung tahun 2004. Ia hanya seorang pria perantauan asal Medan yang mencoba menjawab takdir di Yogyakarta. Gagal diterima sebagai mahasiswa dikotanya membuatnya berani kabur dari rumah, dengan modal seadanya, nekad mengadu nasib. Dilihat sekilas, Agung Baskoro tampak seperti seorang mahasiswa kutu buku biasa. Ketika menemui kami disuatu sudut kampus FE UII, pria berkacamata itu mengenakan atasan hem biru kotak-kotak yang dibalut jaket—suasana pagi itu memang cukup dingin—dengan bawahan celana bahan biru dongker. Rambutnya yang klimis sederhana semakin menambahkan kesan ‘pria lugu dan innocent’ pada dirinya, namun setelah berkisah, siapapun tidak akan menyangka bahwa dibalik penampilannya t...