Posts

Showing posts with the label Stories

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mengenai sisi emosionalnya, para pengidap LLI cenderung mampu mengendalikan mood mereka dan menjaganya tetap stabil, bahkan dalam keadaan tertekan sekalipun. Kebanyakan orang mungkin kurang bisa menjaga mood lantaran kondisi lingkungan dan sugesti orang lain (termasuk dirinya sendiri) yang terus terngiang-ngiang seperti suara yang berbicara didalam kepala mereka. Pengidap LLI hampir tidak pernah mengalami hal ini karena kontrol pikiran sepenuhnya berada dalam alam sadar mereka. Sayangnya, kondisi seperti ini justru berimbas pada pembawaan sang pengidap. Ekspresi mereka cenderung datar dan agak kurang bisa bersimpati terhadap keadaan orang lain. Meski bisa dibilang pengidap LLI mempunyai sedikit 'keistimewaan' dibanding manusia normal pada umumnya, bukan berarti mereka tak punya sisi humanisme yang dikorbankan. Satu kekurangan yang dimiliki pengidap LLI ialah ia kesulitan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, terutama melalui komunikas...

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Dalam sebuah sudut penjara di bilangan Illinois, Amerika Serikat, seorang pria terlihat mengendap-endap penuh waspada. Ia tengah bersembunyi dibalik rak besi yang berisi dokumen para tahanan yang disekap ditempat tersebut. Pria berkepala plontos itu merencanakan sebuah pelarian unik untuk melepaskan kakaknya, Lincoln Burrows dari jerat hukuman mati karena sebuah kasus berbahaya. Mata pria yang bernama Michael Scofield ini terus menatap sebuah kotak besi yang terletak 5 meter persis didepan batang hidungnya. Diatas kotak itu ada 9 tombol yang bertuliskan angka-angka, semacam kunci pengaman berpassword untuk mencegah orang yang tak diinginkan masuk ke lorong yang tak lain adalah sel tahanan. Tak berapa lama, seorang sipir penjara datang dan menekan beberapa angka kombinasi, lalu masuk begitu saja. Michael tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil membawa segenggam debu, ia bergerak mendekati kotak besi tersebut. Dengan satu tarikan nafas, ia lantas meni...

Embracing an Early Sunshine

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful . Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation. Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging , menantang. Setelah 3 tahun silam saya mend...

Jidatmu Identitasmu (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Semua Hal-hal tersebut seakan menjadi barcode khusus yang membedakan mereka dari produk-produk lain dipasaran. They just stand out among the others . Not in the good way, but in the very distinctive one.  Fakta inilah yang membuat saya (mungkin beberapa orang juga berpikiran sama) menjadi stereotype—hanya pada kaum tersebut diatas. Diluar, kami memang bebas dan terpisah untuk terjun ke ranah perjuangan masing-masing, namun sebenarnya ada benang merah yang dengan mudah mampu manyatukan kami kembali: kemampuan untuk mengenali kaum kami sendiri. Kalimat saya sebelumnya tolong jangan dinilai diskrimnatif. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya sulit menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menerjemahkan apa yang ada diotak saya saat ini. :) Sudah tak terhitung berapa kali saya bertemu teman satu sekolahan saya diluar. Mau masih nyantri ataupun yang sudah beranak cucu, yang kenal maupun yang belum pernah ketemu.

Jidatmu Identitasmu (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu saya sedang bersantai sembari berjaga di toko ketika 2 orang remaja putri datang untuk menanyakan tersedia atau tidaknya sebuah buku yang mereka cari. Melihat dari busananya, tak heran mereka mencari buku tersebut. Keduanya mengenakan jilbab lebar menutupi bahu, baju panjang diilengkapi rok gelap, tak lupa berkaos kaki. Saya tersenyum. Tipe-tipe busana seperti ini sangat tidak asing. Bukan yang sering saya pakai tentunya. Hanya saja ketika melihat perempuan berbusana demikian, atau laki-laki bercelana kain lebar, dandanan necis berbaju rapi, saya merasa mereka dan saya setidaknya pernah dibesarkan dalam satu lingkungan yang sama: Pesantren.  Ah, tadinya saya hendak menulis cerita lucu tentang buku yang mereka cari, tapi mari kita simpan sejenak hikayat tersebut.  Pendidikan nonstop 24 jam dalam lingkungan pesantren memang mencakup segala aspek. Dari terkecil hingga terbesar. Dari mulai bangun tidur hingga mata kembali memeja...

Gontor itu Indah

Image
Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu. Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak "pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar-angkat koper"- demikian istilahnya di sana. Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar-angkat koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.  Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah men...

The Untold Story: Glee and My School (Part 3)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Haduh, malah berasa panjang lebar ngejelasinnya. Intinya, saya cukup beruntung kala itu bisa merasakan sensasi menjadi anggota dari beberapa organisasi eksklusif di sekolah. Tentu banyak sekali kejadian-kejadian lucu dan memorable yang saya alami bersama kawan-kawan, yang tak mungkin bisa diingat satu-persatu. Berikut akan saya ceritakan sekilas mengenai keistimewaan organisasi tersebut—seperti sihir, membuat siswa terlihat berbeda dimata siswa lainnya. a. Bagian Penerimaan Telepon Description: Ok, yang pertama kali saya protes begitu mendengar nama organisasi ini adalah; nama yang amat sangat tidak keren. Fine, in english, it’s quite cool; Phone Reception Officer , atau dalam bahasa unta; Qismu-l-hatif . Tugasnya jelas; menerima telepon dari masyarakat luar, kebanyakan wali siswa yang ingin bercakap dengan anaknya— FYI , lokasi sekolah ini memang berada di negeri antah berantah, jauh dari peradaban. Organisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 3-...

The Untold Story: Glee and My School (Part 2)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq I don't think revealing my school's name is really necessary. Everyone who knows me must know where and what it is. By the end of article you will exactly know too. But, to make the reading easier and funner, let’s just call my school: MIBS.  Ada begitu banyak ekskul maupun klub disekolah ini. Bisa dibilang, setiap kepala siswa punya wadah yang menaunginya. Dari mulai klub olahraga dengan berbagai cabangnya (sepak bola, basket, futsal, bulutangkis, takraw, pingpong, voli, pencak silat, senam), klub jurnalisme, bahasa, dan kepenulisan, hingga klub seni. Setiap siswa bebas bergabung ke dalam klub manapun, dengan satu syarat; loyalitas. Berbeda dengan klub-klub sekolah lainnya, memasuki salah satu klub di sekolah ini berarti mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk klub tersebut, selama sang siswa masih bersekolah disana—bahkan tak jarang loyalitas pada klub berlanjut hingga menjadi alumni. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulny...

The Untold Story: Glee and My School (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Belakangan ini saya sering menikmati waktu luang dengan menonton Glee, sebuah serial televisi Amerika yang bergenre musical comedy . Season pertamanya ditayangkan pada tahun 2009, dan ditayangkan secara rutin setiap tahunnya hingga sekarang menginjak season ke lima ( released soon ). Terlepas dari temanya yang cliche, yaitu tentang drama lika-liku kehidupan remaja di sekolah ( high school ), Glee membawakan pesan moral yang cukup mendasar; menghargai perbedaan, persaingan, dan arti sebuah sahabat/keluarga. Full stop . Selebihnya, bagi saya, tidak ada yang patut ditelaah lebih lanjut dari serial ini karena luasnya cakupan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai ketimuran, ditampilkan secara gamblang. Kissing scene, teen pregnancy, cheating, and even worse than that. Thankfully , yang membuat saya tertarik menontonnya adalah kuatnya penjiwaan tiap karakter, serta alunan musik dan tarian yang mengiringi sepanjang film.

Sejenak Bersama Seorang Penasehat Kepresidenan

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Russy (20), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran UII, terlihat sedang memperagakan cara menjahit luka pada sebuah tangan palsu. Rekannya, Jeem (20) turut membantu menerangkan pada para siswa SMA yang sedang menyaksikan keahlian Russy memainkan jarum dan benang. Disudut lain, Sastro (21) tak kalah sibuk. Ia dengan semangat membagikan lembaran informasi fakultas kepada orang yang lewat. Suasana seperti itu tampak tidak asing terlihat di ruang Assembly Hall, gedung Jakarta Convention Center (JCC). Tak lain adalah karena saat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia sedang mengadakan acara Education & Training Expo 2011. Acara kali ini diklaim sebagai expo terbesar selama kurun waktu 20 tahun terakhir.  Dalam acara yang mendatangkan siswa dari 180 SMA di Jabodetabek tersebut, tak kurang dari 120 lembaga pendidikan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri turut serta. UII, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terbaik di Yog...

Menuju World Class University

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Salah satu bentuk implikasi dari globalisasi, perdagangan bebas, dan juga termasuk didalamnya jasa pendidikan, adalah berubahnya paradigma persaingan bagi perguruan tinggi (PT). Dari yang awalnya merupakan persaingan sesama PT dalam sebuah negara, kini meluas hingga menjadi persaingan PT antar negara. Orientasi persaingan inilah yang kemudian memunculkan konsep World Class University (WCU) bagi beberapa PT di Indonesia.  Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, UII telah berupaya agar pendidikan di Indonesia dapat disetarakan dengan pendidikan di negara maju dan berkembang lainnya, yaitu dengan menjadikan tempat kita menimba ilmu ini berstandar “World Class University”.

Kepahlawanan di Mata Tuhan

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Bulir air mata tak henti-hentinya jatuh menyusuri pipi Salsa (7). Gadis kecil tersebut terus menangis sesenggukan dipelukan Ibunya, Wulandari (41), yang merupakan salah satu dari sekian ribu korban letusan gunung Merapi yang terjadi dari tanggal 26 Oktober 2010, hingga puncaknya pada 5 November 2010 silam. Suasana pengungsian yang ramai seolah menelan suara tangisan Salsa yang tidak lain disebabkan oleh kematian sapi kesayangannya, Rama (1,5) yang tewas terpanggang awan panas Merapi. Sapi remaja tersebut tidak sempat diselamatkan karena tim evakuasi hanya mempu membawa manusia.  Ketika ditemui di tempat pengungsian yang tidak jauh dari kampus, Wulandari memaparkan bahwa ia sekeluarga berhasil lolos dari kejaran wedhus gembel karena kecekatan tim evakuasi dalam menggiring warga kampungnya ke tempat yang lebih aman. Ia sangat bersyukur kepada Allah sekaligus sangat berterimakasih pada sang pahlawan yang datang tepat pada waktunya....

Investasi untuk Sebuah Regenerasi

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu, Ia tampak sedikit gelisah. Matahari sudah sedikit condong ke barat, tak lagi memamerkan teriknya pada manusia. Matanya tak pernah lepas dari satuan angka yang menunjukkan waktu di telepon selulernya. Ia berharap, Musyawarah Besar LDF JAM yang saat itu sedang diikutinya akan segera berakhir, dengan begitu ia masih punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada kamarnya, karena malam-malamnya kini tak bisa ia habiskan disana. Maklum, kini setiap sore ia harus bertolak menuju kaki Merapi demi menunaikan kewajiban akademik bertajuk KKN yang dijalaninya saat itu. Datang sore, pulang pagi, begitulah ritme hidup yang harus ditempuhnya selama hampir 45 hari.  Agaknya, bagi perempuan bernama lengkap Hemas Dea Suryanina ini, kegiatan sosial tersebut sedikit memberatkan. Pasalnya, gadis yang pada 6 April silam ini genap berusia 20 tahun mengaku, belum bisa mengatur waktu dan kegiatannya dengan baik. 

Balada Sang Joki: Sebuah Kesalahan Orientasi Pendidikan

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Pemuda itu memasuki ruang ujian. Matanya segera mencari tempat duduk yang strategis untuk melakukan aksinya. Begitu kertas jawaban dibagikan, ia segera menuliskan nama client-nya dikolom identitas, kemudian mengerjakan soal-soal yang mungkin terasa maha berat bagi peserta ujian lainnya namun tidak baginya. Tak lain karena ia sudah terbiasa. Gelagatnya pun sangat tenang sebab ia merasa tak ada yang mengenalnya. Tiga hari kemudian, sang client menghubungi pemuda tersebut dan menyatakan kepuasannya. Uang yang dijanjikan pun dibayarkan. Usailah misi pemuda tersebut. Misi berbahaya yang biasa disebut Joki.  Pada awal 1990an, istilah joki hanya dikenal di arena balap kuda. Lebih tepatnya sebutan bagi penunggang kuda balap. Namun beberapa tahun terakhir, joki menjadi istilah yang sering muncul pada saat seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi, terutama Negeri. Dengan datangnya saat Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi, entah ...

Atas Nama Seni

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Suasana malam yang sesekali diiringi hujan tampaknya tidak mengurangi niat orang untuk mengunjungi acara tersebut. Demikian pula dengan kami bertiga, dengan sepasang motor, berangkat menerobos padatnya arus lalu malam Minggu di Yogyakarta. Kalau boleh berterus terang, sebenarnya tidak ada yang menjanjikan dari acara itu. Acara yang bertajuk Festival Seni Islami itu tidak menghadirkan goresan kaligrafi Ahmad Nuril, lukisan Pak Tinosidin, apalagi buah tangan Pablo Picasso. Tapi entah mengapa, hati saya terpanggil untuk datang melihat. Mungkin karena ingin merasakan nostalgia ketika tangan ini masih sering berkutat dengan kuas, cat, kaleng bekas, dan menorehkannya diatas kanvas atau triplek.  Memasuki gerbang festival, suasana dingin mencekam tiba-tiba menyeruak. Andai saja tidak ada acara tersebut, lokasi Jogja Nasional Museum itu sangat cocok untuk syuting ‘dunia lain’. Jalan becek yang tidak rata, arsitektur kuno, penerangan yang minim, ser...

Pentingkah Akreditasi dalam Maksimalisasi Kualitas Perguruan Tinggi?

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq  Setibanya di parkiran, Adi (21) bergegas turun dari motornya untuk segera menuju kelas. Siang itu ia datang terlambat. Tidak seperti biasanya, ia terjebak macet di jalanan. Padahal, lokasi kostnya saja sudah cukup jauh dari kampus. Ia khawatir dosen tidak mengizinkannya mengikuti perkuliahan lantaran keterlambatannya yang terbilang lama, 30 menit.  Setelah naik 3 lantai, pria itu langsung masuk ke kelas. Tapi alangkah kagetnya ia ketika tidak mendapati seorang pun dikelas. Suasana hening. Pandangan matanya terhenti pada secarik kertas yang ditempel dekat pintu. Kuliah SIM kosong. Demikian kurang lebih isi tulisan kertas tersebut. Adi tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena keterlambatannya ternyata tidak dihitung. Sedih karena saat itu sudah hampir UAS, tapi kehadiran sang dosen masih sebatas hitungan jari. “Biasanya sih, senang kalau dosen sering kosong. Tapi sekarang baru kerasa. Sudah hampir UAS, tapi nggak ada ilmu...

Mengenal Seorang Agung Baskoro

Image
 Oleh:  Muhammad Fauzan Al-Asyiq “Kita menulis untuk mengubah peradaban.” Demikian pernyataan seorang Agung Baskoro diakhir pertemuannya dengan kami. Saya tentu tak akan begitu saja percaya kata-kata tersebut andai bukan ia yang bicara. Agung Baskoro bukan siapa-siapa sampai penghujung tahun 2004. Ia hanya seorang pria perantauan asal Medan yang mencoba menjawab takdir di Yogyakarta. Gagal diterima sebagai mahasiswa dikotanya membuatnya berani kabur dari rumah, dengan modal seadanya, nekad mengadu nasib. Dilihat sekilas, Agung Baskoro tampak seperti seorang mahasiswa kutu buku biasa. Ketika menemui kami disuatu sudut kampus FE UII, pria berkacamata itu mengenakan atasan hem biru kotak-kotak yang dibalut jaket—suasana pagi itu memang cukup dingin—dengan bawahan celana bahan biru dongker. Rambutnya yang klimis sederhana semakin menambahkan kesan ‘pria lugu dan innocent’ pada dirinya, namun setelah berkisah, siapapun tidak akan menyangka bahwa dibalik penampilannya t...

Ketika Hati Ingin Bertaut

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq                         Bagi Irham (19), sore itu tak seperti biasanya. Usai kuliah, ia bergegas kembali ke kamarnya untuk mencari sesuatu. Dengan nafas terburu, ia mengobrak-abrik hampir seluruh isi lemarinya. Tidak lama berselang, akhirnya lelaki berambut ikal tersebut menemukan benda yang harus ia kenakan malam itu. Benda yang dicari Irham tak lain adalah baju koko dan kain sarung yang hampir 1 tahun tidak pernah dipakainya lagi. Ia menepuk baju tersebut agar debu yang menempel hilang. Kemudian, Irham menyiapkan tas lusuhnya seraya memasukkan baju koko, sarung, handuk, dan beberapa barang ke dalamnya. Malam itu, ia tidak menginap di kamar. Selama sepuluh malam ke depan, Irham mendapat giliran hadir dalam kegiatan keagamaan yang diadakan kampusnya. Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sering disebut Rusunawa.             Ke...

Tangan Dingin Sang Penjaga Fotokopi

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq         Dua meja hitam itu selalu tampak berantakan. Permukaannya sudah tidak mulus lagi lantaran ratusan goresan benda tajam telah mengenainya. Diatasnya hanya ada sebuah mesin pemotong kertas manual serta sesekali terlihat tumpukan kertas tak beraturan. Serpihan kertas dan isi klip kecil tersebar hampir disetiap sudut meja tersebut. Disebelah kanan terdapat mesin  copy  besar yang jika sedang beroperasi suaranya mampu meredam riuh manusia yang sedang berlalu lalang disekelilingnya.       Sejatinya, ruang sempit berukuran 2,5 X 3 meter yang ditempati dua meja hitam tersebut, sejak beberapa tahun lalu merupakan pusat fotokopi kopma (koperasi mahasiswa) Fakultas Ekonomi UII. Ranah usaha itu dikelola oleh dua orang pekerja. Salah satunya adalah seorang bapak paruh baya bernama Amrozi, dan satunya lagi perempuan muda yang biasa dipanggil Mbak Mur. Keduanya sering terlihat berjaga bersamaan dite...

Banjir di Lahan Miskin Perhatian

Image
Oleh: Hemas Dea Suryanina, Herawati Shahnan, dan Muhammad Fauzan Al-Asyiq Sudut itu hampir tak pernah sepi. Tiap hari, tidak kurang dari seribu motor selalu melewatinya. Namun demikian, hanya ada segelintir orang yang ditunjuk sebagai penjaga salah satu titik terpenting di kampus Fakultas Ekonomi UII tersebut. Salah seorangnya bernama Fajar. Tidak seperti biasanya, sore itu ia duduk sendiri tanpa rekannya yang lain. Tampaknya sebungkus rokok, sepasang kursi tua, dan sebuah meja lapuk sudah cukup menemaninya. Tepat dihadapan lelaki itu, ada lapangan seluas 40 X 25 meter. Didalamnya berjajar rapi ratusan motor yang menunggu kepulangan pemiliknya. Tempat itulah yang harus dijaga Fajar; parkiran motor mahasiswa FE UII. Ketika itu parkiran terlihat sepi dari kehadiran manusia, namun tetap tampak penuh sesak motor berjajar. Keadaan tersebut membuat Fajar memilih untuk berdiam diri. Melamun. Sambil duduk diatas meja, kakinya disilangkan. Ditangannya ada sepuntung rokok yang hampir h...