Kepahlawanan di Mata Tuhan


Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq 

Bulir air mata tak henti-hentinya jatuh menyusuri pipi Salsa (7). Gadis kecil tersebut terus menangis sesenggukan dipelukan Ibunya, Wulandari (41), yang merupakan salah satu dari sekian ribu korban letusan gunung Merapi yang terjadi dari tanggal 26 Oktober 2010, hingga puncaknya pada 5 November 2010 silam. Suasana pengungsian yang ramai seolah menelan suara tangisan Salsa yang tidak lain disebabkan oleh kematian sapi kesayangannya, Rama (1,5) yang tewas terpanggang awan panas Merapi. Sapi remaja tersebut tidak sempat diselamatkan karena tim evakuasi hanya mempu membawa manusia. 

Ketika ditemui di tempat pengungsian yang tidak jauh dari kampus, Wulandari memaparkan bahwa ia sekeluarga berhasil lolos dari kejaran wedhus gembel karena kecekatan tim evakuasi dalam menggiring warga kampungnya ke tempat yang lebih aman. Ia sangat bersyukur kepada Allah sekaligus sangat berterimakasih pada sang pahlawan yang datang tepat pada waktunya. 

Demikianlah salah satu kisah kepahlawanan yang terjadi akibat timbulnya rasa solidaritas serta tuntutan sosial yang tinggi dalam diri relawan ketika mendengar korban berjatuhan. Tentu saja, dibalik semua pengorbanan itu ada maksud untuk menggapai ridlo Allah dan surga-Nya. Namun, jalan yang mengantarkan seseorang ke sisi Allah, dalam artian berjasa bagi masyarakat dan bangsa, bukan hanya satu atau dua jalan, melainkan banyak jalan. Rasululullah SAW bersabda, 

“Berbuatlah kamu pada tempat kamu masing-masing, dan akupun berbuat”. Demikian pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepada umatnya.

Nilai suatu perbuatan tidak didasarkan pada kedudukan atau posisi orang yang berbuat, akan tetapi pada niat orang tersebut. Disitulah makna kepahlawanan dalam konteks masa kini yang sesungguhnya. Ketika sebuah tindakan terpuji yang diniatkan untuk Allah, bukan didasarkan pada imbalan, material, atau pujian manusia. Kepahlawanan bukan hanya kata-kata, akan tetapi perbuatan yang nyata. Dalam kaitan ini, Islam mengajarkan, 

“Sebaik-baik manusia adalah ia yang dapat memberikan banyak manfaat kepada sesamanya.” (HR. Tabrani). 

Setiap orang, dimanapun dan dalam kapasitas apapun, selama ia berbuat sesuatu tidak untuk dirinya sendiri saja, namun juga untuk kepentingan orang banyak, pantas disebut pahlawan. Walaupun konteksnya tidak seperti konteks pahlawan yang formal. Para relawan Merapi, anggota organisasi, takmir masjid, bahkan petugas kebersihan kampus pun layak dianugerahi gelar pahlawan karena telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk orang banyak. Spirit kepahlawanan dan pengorbanan perlu dibangkitkan dan dipelihara, untuk perbaikan bangsa dan menata Indonesia ke depan. Kehidupan bangsa akan aman dan sejahtera ketika sikap altruisme yang merupakan sikap perhatian dan kesukaan memperdulikan kepentingan orang lain mengalahkan egoisme. 

Mulut Wulandari tidak bisa berhenti untuk terus mengucap rasa syukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan hidup didunia. Andai tim evakuasi terlambat sedikit saja, mungkin ia sudah kehilangan nyawanya. Dengan berlinangan air mata, Ia terus memuji sang relawan sebagai pahlawannya. Wulandari ternyata belum menyadari, bahwa sebenarnya ia pun sebenarnya telah menjadi sosok pahlawan bagi Salsa dan kakaknya. Seorang pahlawan yang berjasa melebihi pahlawan perang sekalipun. Karena Wulandari adalah Ibu bagi Salsa dan kakaknya. Karena setiap Ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya.[]

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)