The Untold Story: Glee and My School (Part 1)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Belakangan ini saya sering menikmati waktu luang dengan menonton Glee, sebuah serial televisi Amerika yang bergenre musical comedy. Season pertamanya ditayangkan pada tahun 2009, dan ditayangkan secara rutin setiap tahunnya hingga sekarang menginjak season ke lima (released soon). Terlepas dari temanya yang cliche, yaitu tentang drama lika-liku kehidupan remaja di sekolah (high school), Glee membawakan pesan moral yang cukup mendasar; menghargai perbedaan, persaingan, dan arti sebuah sahabat/keluarga. Full stop. Selebihnya, bagi saya, tidak ada yang patut ditelaah lebih lanjut dari serial ini karena luasnya cakupan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai ketimuran, ditampilkan secara gamblang. Kissing scene, teen pregnancy, cheating, and even worse than that. Thankfully, yang membuat saya tertarik menontonnya adalah kuatnya penjiwaan tiap karakter, serta alunan musik dan tarian yang mengiringi sepanjang film.
Glee sendiri, merupakan nama sebuah underdog club di William McKinley High School, semacam ekskul yang menaungi anak-anak dengan passion menyanyi dan menari. Like I said before, it's underdog. Jika bagi sebagian orang, passion menyanyi adalah rare gift yang berharga, tidak dalam Glee. Anyone who joined Glee is a loser. Joining Glee is not cool, and it's a shame. Jika ada tingkatan hierarkis dalam peta per-ekskul-an sekolah, maka di McKinley High, klub football adalah kasta tertinggi bagi siswa pria, dan Cherioos (cheerleaders club) merupakan kasta tertinggi bagi siswi wanitanya. Bergabung dalam 2 club tersebut secara otomatis akan menaikkan popularitas dan gengsi. Bukan tanpa sebab, hal ini karena keduanya kerap mengharumkan nama sekolah dalam kancah kompetisi regional tahunan. And Glee club, errr... Hate to say, but mereka bukan hanya ada di kasta terendah, bahkan keberadaannya pun diragukan, kalau tidak mau dibilang enggan diakui.
Glee sendiri, merupakan nama sebuah underdog club di William McKinley High School, semacam ekskul yang menaungi anak-anak dengan passion menyanyi dan menari. Like I said before, it's underdog. Jika bagi sebagian orang, passion menyanyi adalah rare gift yang berharga, tidak dalam Glee. Anyone who joined Glee is a loser. Joining Glee is not cool, and it's a shame. Jika ada tingkatan hierarkis dalam peta per-ekskul-an sekolah, maka di McKinley High, klub football adalah kasta tertinggi bagi siswa pria, dan Cherioos (cheerleaders club) merupakan kasta tertinggi bagi siswi wanitanya. Bergabung dalam 2 club tersebut secara otomatis akan menaikkan popularitas dan gengsi. Bukan tanpa sebab, hal ini karena keduanya kerap mengharumkan nama sekolah dalam kancah kompetisi regional tahunan. And Glee club, errr... Hate to say, but mereka bukan hanya ada di kasta terendah, bahkan keberadaannya pun diragukan, kalau tidak mau dibilang enggan diakui.
Anyway, tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mereview serial tersebut. Menikmati masa remaja di sekolah memang momen yang paling sulit dilupakan, setidaknya bagi saya. Dan, menonton Glee, memaksa saya untuk kembali tersenyum, kadang terbahak, membayangkan betapa konyolnya masa-masa tersebut. Kenapa konyol? Well, karena seperti halnya Glee, dulu saya pun mengamini bahwa masuk ke club atau menjadi anggota sebuah organisasi tertentu dapat meningkatkan popularitas, eksistensi, dan gengsi. Sounds ridiculous, right? Entah dengan sekolah lainnya, but for me it's a reality. Ok, nobody taught me that, but atleast itulah gambaran yang saya dapat semasa sekolah; bahwa gap antar organisasi/klub bisa begitu besar dan berdampak psikologis bagi individu didalamnya.
Comments
Post a Comment