Balada Sang Joki: Sebuah Kesalahan Orientasi Pendidikan

Oleh: Fauzan Al-Asyiq 


Pemuda itu memasuki ruang ujian. Matanya segera mencari tempat duduk yang strategis untuk melakukan aksinya. Begitu kertas jawaban dibagikan, ia segera menuliskan nama client-nya dikolom identitas, kemudian mengerjakan soal-soal yang mungkin terasa maha berat bagi peserta ujian lainnya namun tidak baginya. Tak lain karena ia sudah terbiasa. Gelagatnya pun sangat tenang sebab ia merasa tak ada yang mengenalnya. Tiga hari kemudian, sang client menghubungi pemuda tersebut dan menyatakan kepuasannya. Uang yang dijanjikan pun dibayarkan. Usailah misi pemuda tersebut. Misi berbahaya yang biasa disebut Joki. 

Pada awal 1990an, istilah joki hanya dikenal di arena balap kuda. Lebih tepatnya sebutan bagi penunggang kuda balap. Namun beberapa tahun terakhir, joki menjadi istilah yang sering muncul pada saat seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi, terutama Negeri. Dengan datangnya saat Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi, entah Negeri maupun Swasta, maka istilah joki kembali marak terdengar. Dengan teknik dan trik-trik baru yang makin canggih, saat ini ruang lingkup joki telah merambah ke lahan pembuatan skripsi, tesis, bocoran soal ujian, dan sebagainya.

Tawaran menjadi joki layaknya fenomena gunung es, dimana sebenarnya banyak sekali kasus yang terjadi namun hanya sedikit yang ketahuan. Untuk menjadi seorang joki seleksi penerimaan mahasiswa baru dibutuhkan penguasaan materi yang baik, ilmu yang lengkap serta pengalaman telah mengikuti kuliah di PTN/PTS. Tak heran, para pelaku Joki biasanya adalah mereka yang memiliki Indeks Prestasi (IP) tinggi. 

Kecerdasan intelektual yang dimiliki para joki ini tentu tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional, apalagi kecerdasan spiritual. Alasan seorang mahasiswa menjadi joki dalam SNMPTN atau ujian masuk Universitas biasanya karena iseng (baca: mencari kesenangan pribadi) atau karena motif ekonomi. Orangtua yang tidak mampu membiayai kuliah, kesulitan keuangan untuk membeli buku serta diktat kuliah, dan faktor ekonomi lainnya. Ada juga mahasiswa yang sengaja ‘uji nyali’ untuk menjadi joki. Hanya mencari kesenangan dan sensasi. Jumlah mereka memang relatif sedikit, karena bila tidak dibelit masalah ekonomi mereka juga tidak mau mengambil resiko yang besar bila ketahuan. 

Sementara itu, alasan menyewa joki pun beragam. Mulai dari keinginan mahasiswa membanggakan orang tua, didukung dengan budget extra, bahkan bisa jadi kehendak orang tua sendiri yang ingin anaknya masuk Universitas top via “jalur khusus”, sampai alasan yang paling sederhana, yaitu tidak mau repot alias mau yang simple-simpel saja. Biasanya hukuman terberat bagi mahasiswa penjoki atau menyewa joki ini adalah dikeluarkan dari kampus tempat mereka menimba ilmu. 

Menyangkut wacana publik yang menyatakan “kalau mau kerja enak, kuliahnya harus bagus”, budaya di Indonesia ini masih terbatas pada budaya mencari kerja (modal ijazah), bukan menciptakan suatu usaha yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Budaya inilah yang perlu diubah, dan tidak selamanya kuliah di PTN/PTS menjadi jalan satu-satunya menuju kesuksesan.[] 



Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)