Review: The Man From Nowhere (2010)

When Revenge is The Only Reason That Keeps You Alive

Oleh: Fauzan Al-Asyiq

The Man From Nowhere (2010): One of the best vengeance movie out there, comes from a country of thousand revenge story, Korea. Featuring some-cool-but-deadly main character and his one and only friend, the-innocent-7-year-old-girls. When the kid was kidnapped, there's nothing in the world could stop him from taking a brutal revenge.

Secara singkat, film ini menceritakan kisah tentang seorang pemuda pendiam, pemilik toko penggadaian barang, yang kesehariannya hanya ditemani gadis kecil, anak dari tetangganya—seorang janda yang bekerja di dunia malam. Tak lama kemudian, gembong narkoba dan penjualan organ manusia datang untuk menculik mereka berdua. Sebenarnya, pemuda itu tak begitu peduli dengan kehadiran gadis kecil tersebut, lantaran dimasa lalu ia kehilangan istri dan anaknya secara tragis, sehingga ia merasa tak memiliki apapun untuk meneruskan hidupnya.

Namun, begitu mengetahui bahwa satu-satunya temannya didunia ini—si gadis kecil—diculik, perlahan masa lalunya sedikit demi sedikit terungkap, bahwa ia adalah bekas agen rahasia pemerintah dengan segudang misi profesional dan skill membunuh yang sangat tinggi. Bisa ditebak, menyelamatkan sang gadis adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki saat ini.

Selama kurang lebih 2 jam, film ini berhasil membawa penonton ke tahap yang cukup mengganggu bagi sebagian penonton awam--menegangkan, penuh darah, brutal dan tanpa ampun. Beberapa scene bahkan mampu membuat saya merasa getir, miris, sekaligus iba pada saat yang sama. Plot diracik sedemikian rupa hingga penonton mampu dibawa melewati alur yang tak menentu—kadang cepat, kadang lambat—namun tetap menjaga atmosfer ketegangan yang memang menjadi rumus utama film thriller ini.

Sang tokoh utama (Won Bin), mampu bermain secara apik dan emosional meski tak banyak bicara. Semua bahasa yang perlu dicerna penonton mampu diterjemahkan dengan baik melalui raut wajah, gestur, dan tatapan matanya yang dingin. Pemeran anak kecil (saya lupa namanya) yang menjadi korban penculikan pun tak kalah menarik. Ia mampu menunjukkan akting polos, innocent, dan berani pada saat yang sama.

Seperti judulnya, karakter utama dalam film ini mungkin tidak berasal dari manapun, tapi jelas film seperti ini hanya datang dari Korea, negeri dengan sejuta kisah balas dendam. The movie is so brutal, violence, yet so dramatic, blended with sequences of action. Setelah pada awalnya hanya memandang sebelah mata, kini saya salut dengan para sineas Korea yang dengan begitu piawai mampu mengaduk-aduk emosi penonton melalui adegan yang exceptional—menggabungkan seluruh elemen film seperti dialog, akting, sinematografi, scoring, untuk dikemas secara apik. Menciptakan sebuah tontonan yang padat, memorable, dan sarat akan gizi.

Ada 2 hal yang begitu menonjol dari perfilman Korea: pertama; film bertema love and affection, kedua: film bertema hatred and desperation. Uniknya, kedua tema tersebut begitu melebur dalam The Man From Nowhere—satu hal yang cukup jarang ditemui dalam film-film lainnya, bahkan di Hollywood sekalipun. Perbedaan antara cinta dan dendam mungkin sebenarnya hanya setipis kertas. Seperti halnya cinta, dendam pun merupakan motivasi yang kuat bagi seseorang untuk melakukan hal diluar batas kemampuannya. Kita sebagai manusia biasa tentu mempunyai bibit-bibit cinta dan dendam yang telah kita pelihara sejak kecil, namun yang akan tumbuh menjadi rasa yang begitu kuat hanyalah bibit yang kita rawat dan kita beri pupuk.

Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)