The Untold Story: Glee and My School (Part 3)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Haduh, malah berasa panjang lebar ngejelasinnya. Intinya, saya cukup beruntung kala itu bisa merasakan sensasi menjadi anggota dari beberapa organisasi eksklusif di sekolah. Tentu banyak sekali kejadian-kejadian lucu dan memorable yang saya alami bersama kawan-kawan, yang tak mungkin bisa diingat satu-persatu. Berikut akan saya ceritakan sekilas mengenai keistimewaan organisasi tersebut—seperti sihir, membuat siswa terlihat berbeda dimata siswa lainnya.
a. Bagian Penerimaan Telepon
Description: Ok, yang pertama kali saya protes begitu mendengar nama organisasi ini adalah; nama yang amat sangat tidak keren. Fine, in english, it’s quite cool; Phone Reception Officer, atau dalam bahasa unta; Qismu-l-hatif. Tugasnya jelas; menerima telepon dari masyarakat luar, kebanyakan wali siswa yang ingin bercakap dengan anaknya—FYI, lokasi sekolah ini memang berada di negeri antah berantah, jauh dari peradaban. Organisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 3-4, sepantaran 3 SMP-1 SMA.
Description: Ok, yang pertama kali saya protes begitu mendengar nama organisasi ini adalah; nama yang amat sangat tidak keren. Fine, in english, it’s quite cool; Phone Reception Officer, atau dalam bahasa unta; Qismu-l-hatif. Tugasnya jelas; menerima telepon dari masyarakat luar, kebanyakan wali siswa yang ingin bercakap dengan anaknya—FYI, lokasi sekolah ini memang berada di negeri antah berantah, jauh dari peradaban. Organisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 3-4, sepantaran 3 SMP-1 SMA.
What’s so special: Ada banyak alasan mengapa saya menempatkan bagian ini di posisi pertama, antara lain; hak menggunakan sepeda. Percayalah, tidak ada yang lebih asyik daripada berkeliling sekolah menggunakan sepeda ontel diantara ribuan orang yang berjalan kaki. Disini, sepeda ontel adalah kendaraan dengan kasta tertinggi yang dapat dikendarai siswa selain truk pengangkut sampah alias grandong.
![]() |
| Kendaraan dinas Phone Reception Officer |
Alasan kedua; izin meninggalkan kelas, berikut semua aktivitas wajib lainnya pada hari yang sama, dua minggu sekali. Oh, tiga kata terakhir terdengar melegakan. Kalau boleh jujur, meninggalkan kelas dalam keadaan sehat adalah salah satu keajaiban disini. Dimana ketika pelajaran berlangsung, suasana sekolah yang tadinya ramai bak pasar, mendadak sepi bak rumah sakit. Dan saat itu adalah saat yang paling tepat untuk mengusir penat, mengambil rehat sejenak dari hiruk pikuk pendidikan 24 jam nonstop.
Ketiga; orang bijak pernah bilang, tempat terbaik untuk menyembunyikan daun adalah didalam hutan. Kala itu, saya benar-benar memanfaatkan nasehat ini dengan sempurna—sayangnya, dalam konteks yang ‘sedikit’ negatif. :P. Nasehat tersebut saya terjemahkan secara gamblang sebagai: Kalau mau melanggar aturan, lakukanlah di tempat dimana sang penegak hukum tinggal. And guess what? It works, I never get caught, haha. Semua itu berkat lokasi kantor bagian penerimaan telepon TEPAT berada didalam kantor bagian disiplin siswa. Aturan apa yang saya langgar? Well, saya tidak bisa bilang, hanya saja bukan aturan yang krusial.
Keempat; kesempatan berbicara dengan makhluk yang bernama ‘wanita’. Oh yes, did’nt I tell you before? This is a homogeneous place. No girls allowed, and for almost 5-6 years, we definitely can’t hold this feeling anymore. Selain ngobrol, disini pulalah saya pertama kali belajar ber’negosiasi’ dengan kaum hawa, berlama-lama meletakkan gagang telepon di telinga hanya untuk menghapal intonasi dan detail keindahan suaranya. Merekamnya dalam hati hanya untuk diperdengarkan kembali dikala sepi.
Lepas dari semua itu, pernah menjadi bagian dari Qismu-l-hatif adalah sebuah kehormatan bagi saya, meskipun hanya menjadi perantara bagi seorang siswa dan keluarganya, seorang anak dengan orangtuanya. Dimana, bahkan hanya dengan sedikit usaha, kita sebenarnya mampu membahagiakan orang lain, siapapun itu, bahkan seseorang yang belum sekalipun kita kenal.

Comments
Post a Comment