Embracing an Early Sunshine
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful. Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation.
Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging, menantang. Setelah 3 tahun silam saya mendaki Merbabu, kini giliran Merapi yang jadi target selanjutnya. Saya kian bersemangat ketika 2 sahabat saya punya niatan sama, meski mereka harus mendaki di gunung yang berbeda. Toh dipuncak nanti, kami masih menatap matahari yang sama, dipagi yang sama pula. :)
Dengan medan yang relatif lebih sulit dari Merbabu, mendaki Merapi mempunyai tantangan tersendiri. Jalan terjal berbatu, jalan licin berpasir, lereng curam, dan hawa dingin mencekam merupakan sedikit gambaran dari sisi lain gunung berapi teraktif di Indonesia ini. Namun, kadang inilah yang membuat saya heran. Dengan medan yang bahkan mampu menciutkan nyali preman kekar bertato, saya mendapati masih banyak perempuan yang turut mendaki, tak tanggung-tanggung, sampai puncak pula. Setiap bertemu mereka dijalanan, saya mengelus dada, geleng-geleng kepala. Saya berdecak kagum atas keputusan yang mereka buat. Tentu saja mereka dapat memilih untuk tidak ikut, berkemas sendiri menuju pantai atau taman, atau ke tempat yang digandrungi anak muda zaman sekarang; mal. But hey, instead of choosing the easier option, they choose the hardest one. Mereka sadar, bahwa menyaksikan pergerakan fenomena alam tentu jauh lebih indah, daripada sekadar memelototi hasil karya visual manusia yang terindah sekalipun.
Meski sulit dan bikin kapok, saya selalu merindukan suasana pendakian gunung. Ada sebuah kultur unik tak tertulis yang dipahami oleh masing-masing pendaki. Kultur atau budaya tersebut seolah-olah menjadi satu bahasa yang seragam—dimengerti dan diamalkan oleh hampir setiap pendaki, tak peduli pria, wanita, tua, muda, yang baru pertama kali maupun yang sudah sering sekalipun. Betapa sopannya para pendaki yang hendak mendahului ketika kita beristirahat. Mereka selalu menyapa, meminta izin untuk lewat, atau minimal berucap, “Mari, mas.” Yang didahului pun bukannya sewot, namun membalas seraya tersenyum, “Monggo monggo, mas.” Padahal, dengan tujuan yang sama, setidaknya itu cukup untuk menciptakan suasana yang kompetitif antar pendaki. Saya sampai terkesima.
Ditinjau dari aspek psikologis, salah satu motivasi terkuat untuk meningkatkan interaksi individu antar manusia adalah adanya kesamaan tujuan, nasib, dan rasa. Mungkin atas dasar inilah suasana keakraban para pendaki terasa begitu kental. Begitu instan. Andai saja pola interaksi yang demikian itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin kesenjangan sosial hampir mustahil bisa terjadi. Semua orang saling menghormati, saling pakewuh, toleransi. Yah, sayangnya, beberapa orang memilih untuk tidak pernah mendaki.
Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful. Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation.
Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging, menantang. Setelah 3 tahun silam saya mendaki Merbabu, kini giliran Merapi yang jadi target selanjutnya. Saya kian bersemangat ketika 2 sahabat saya punya niatan sama, meski mereka harus mendaki di gunung yang berbeda. Toh dipuncak nanti, kami masih menatap matahari yang sama, dipagi yang sama pula. :)
Dengan medan yang relatif lebih sulit dari Merbabu, mendaki Merapi mempunyai tantangan tersendiri. Jalan terjal berbatu, jalan licin berpasir, lereng curam, dan hawa dingin mencekam merupakan sedikit gambaran dari sisi lain gunung berapi teraktif di Indonesia ini. Namun, kadang inilah yang membuat saya heran. Dengan medan yang bahkan mampu menciutkan nyali preman kekar bertato, saya mendapati masih banyak perempuan yang turut mendaki, tak tanggung-tanggung, sampai puncak pula. Setiap bertemu mereka dijalanan, saya mengelus dada, geleng-geleng kepala. Saya berdecak kagum atas keputusan yang mereka buat. Tentu saja mereka dapat memilih untuk tidak ikut, berkemas sendiri menuju pantai atau taman, atau ke tempat yang digandrungi anak muda zaman sekarang; mal. But hey, instead of choosing the easier option, they choose the hardest one. Mereka sadar, bahwa menyaksikan pergerakan fenomena alam tentu jauh lebih indah, daripada sekadar memelototi hasil karya visual manusia yang terindah sekalipun.
Meski sulit dan bikin kapok, saya selalu merindukan suasana pendakian gunung. Ada sebuah kultur unik tak tertulis yang dipahami oleh masing-masing pendaki. Kultur atau budaya tersebut seolah-olah menjadi satu bahasa yang seragam—dimengerti dan diamalkan oleh hampir setiap pendaki, tak peduli pria, wanita, tua, muda, yang baru pertama kali maupun yang sudah sering sekalipun. Betapa sopannya para pendaki yang hendak mendahului ketika kita beristirahat. Mereka selalu menyapa, meminta izin untuk lewat, atau minimal berucap, “Mari, mas.” Yang didahului pun bukannya sewot, namun membalas seraya tersenyum, “Monggo monggo, mas.” Padahal, dengan tujuan yang sama, setidaknya itu cukup untuk menciptakan suasana yang kompetitif antar pendaki. Saya sampai terkesima.
Ditinjau dari aspek psikologis, salah satu motivasi terkuat untuk meningkatkan interaksi individu antar manusia adalah adanya kesamaan tujuan, nasib, dan rasa. Mungkin atas dasar inilah suasana keakraban para pendaki terasa begitu kental. Begitu instan. Andai saja pola interaksi yang demikian itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin kesenjangan sosial hampir mustahil bisa terjadi. Semua orang saling menghormati, saling pakewuh, toleransi. Yah, sayangnya, beberapa orang memilih untuk tidak pernah mendaki.
Comments
Post a Comment