Review: Elysium (2013)
Sometimes an Asshole Can Be a Hero Too
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Dalam menikmati sebuah film yang relatif asing bagi saya (film orisinil atau adaptasi dari source yang relatif belum pernah saya dengar), saya sering mengkategorikan film tersebut menjadi 2 hal: berbobot dan menghibur. Tidak banyak film yang mampu menyatukan keduanya dengan porsi seimbang, setidaknya belakangan ini, sampai saya menonton Elysium minggu kemarin. Film yang bergenre, science-fiction, adventure, dan action ini mengemas sebuah hiburan menegangkan dalam balutan sinematografi CGI (Computer Generated Imagery) yang dahsyat, tanpa harus mengorbankan esensi dari kritik sosial yang terkandung didalamnya. Ya, film ini berbobot dan menghibur.
Elysium berplot maju, dengan beberapa flashback guna mendukung gaya penceritaan Neill Blompkamp, sang sutradara. Kisahnya diawali dengan penuturan keadaan bumi tahun 2153, dimana keadaannya sudah tidak layak dihuni karena overpopulated. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan sosial menjadi sangat tinggi.
Saat itu, manusia terpisah menjadi dua kelompok; kumpulan manusia elit super kaya yang menghuni Elysium, sebuah ekosistem luar angkasa yang dibangun guna meneruskan kelangsungan umat manusia. Elysium bisa dikatakan surga saat itu. Lanskap arsitektur yang sangat mewah, hamparan lahan hijau tak terbatas, kualitas udara yang higienis, serta yang paling mutakhir, sebuah pod penyembuh segala macam penyakit, yang bahkan bisa menghidupkan orang mati-selama sel-sel otaknya tidak rusak. Healing pod tersebut tersedia didalam setiap rumah di Elysium. Sedangkan, golongan manusia kedua; tentu saja adalah sisa-sisa manusia yang masih menghuni bumi, yang hidup dengan segala keterbatasan sumber daya. Satu-satunya pekerjaan yang layak dibumi saat itu adalah sebagai buruh perusahaan yang menyuplai kebutuhan Elysium.
Saat itu, manusia terpisah menjadi dua kelompok; kumpulan manusia elit super kaya yang menghuni Elysium, sebuah ekosistem luar angkasa yang dibangun guna meneruskan kelangsungan umat manusia. Elysium bisa dikatakan surga saat itu. Lanskap arsitektur yang sangat mewah, hamparan lahan hijau tak terbatas, kualitas udara yang higienis, serta yang paling mutakhir, sebuah pod penyembuh segala macam penyakit, yang bahkan bisa menghidupkan orang mati-selama sel-sel otaknya tidak rusak. Healing pod tersebut tersedia didalam setiap rumah di Elysium. Sedangkan, golongan manusia kedua; tentu saja adalah sisa-sisa manusia yang masih menghuni bumi, yang hidup dengan segala keterbatasan sumber daya. Satu-satunya pekerjaan yang layak dibumi saat itu adalah sebagai buruh perusahaan yang menyuplai kebutuhan Elysium.
Plot film ini berfokus pada sosok Max Da Costa, mantan penjarah mobil yang kini bekerja legal sebagai buruh di perusahaan penyokong sistem keamanan di Elysium. Meski terkesan mustahil, Max sejak kecil mempunyai cita-cita untuk tinggal di Elysium. Hingga suatu saat, karena peristiwa pemaparan radiasi kimiawi yang dialaminya, Max hanya mempunyai sisa waktu 5 hari untuk hidup. Satu-satunya harapan sembuh baginya adalah pergi ke Elysium, menerobos celah keamanan dan menggunakan Healing Pod untuk meregenerasi sel tubuhnya. Dalam perjalanannya menuju Elysium, Max ternyata dihadapkan pada kenyataan dan kesempatan, bahwa dirinya mampu mengubah takdir seluruh umat manusia yang kini terancam kesejahteraannya.
Tidak seperti film sci-fi pada umumnya yang memiliki rating PG-13 (penonton dibawah 13 tahun harus dalam pengawasan orang tua), Elysium bertaing R yang artinya film khusus tontonan dewasa. Hal ini dikarenakan sepanjang film kita akan disuguhi kata-kata sumpah serapah maupun makian yang kurang mendidik bagi remaja. Ditambah lagi, meski tak banyak, adegan berdarah-darah turut disisipkan guna menambah efek dramatis film ini.
Seolah mengusung tagline berupa 'rakyat adalah kekuatan demokrasi negara yang mutlak', Elysium mengkritik pedas skema birokrasi yang tamak akan kekuasaan dan tahta. Blompkamp dengan piawai menyisipkan pesan tersebut tanpa membuat film ini terkesan radikal.
My verdict: 8/10

Comments
Post a Comment