Review: This is The End (2013)
This is How They Described Apocalypse. Literally.
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Entah apa yang merasuki pikiran para kritikus film Hollywood sehingga memberikan rating tinggi pada film ini. Jarang sekali ada film komedi memiliki rating 84% (certified fresh) di situs review film terkemuka: rottentomatoes. This is The End merupakan film yang menurut saya hanya sedikit diatas rata-rata, namun film ini saya akui menawarkan resep dan bumbu baru yang sangat segar. Oke, apocalypse-or-dooms-day-or-whatever-you-name-it memang tema lawas, tapi bagaimana jika aktor dan aktris masyhur Hollywood bermain sebagai dirinya sendiri? Well, this is good.
Bagi penonton awam, mungkin sensasi menyaksikan hal demikian terkesan biasa saja, namun bagi saya—yang sudah sangat familiar dengan Seth Rogen, Jay Baruchel, James Franco, Jonah Hill, hingga Emma Watson—it’s just hillarious. Menyenangkan sekali menonton mereka memainkan dirinya sendiri, bergumul bersama, melontarkan humor slapstick mengenai film-film mereka sebelumnya. Penonton seakan dibuat lupa bahwa yang mereka saksikan tentu adalah sebuah film yang dilengkapi naskah terencana.
This is The End mengusung plot yang terbilang cliche. Pesta anak muda-serangan alien (dalam film ini digambarkan sebagai demon)-massive chaos-a group of survivors-mati satu demi satu-menyisakan dua orang yang selamat-happy ending. Just that. Fortunately, banyak adegan kocak dan gila yang menyelamatkan film ini dari kejenuhan. Sebagai film bertema kiamat, which is sometimes followed by a horror genre, This is The End mampu menyeimbangkan porsi kengerian, kelucuan, dan drama dengan begitu apik.
Keunikan lain dari film ini adalah bagaimana sutradara serta penulis skenario: Seth Rogen dan Evan Goldberg menggambarkan apocalypse, atau dalam kata yang kita kenal: hari kiamat. Sedikit banyak, konsep kiamat dalam film ini mirip dengan skema yang digambarkan dalam agama Islam. Dimana ada korelasi sebab akibat, unsur kronologis, dan reward and punishment system. Tentu saja ini hanya sebuah kebetulan. Komposisi ini sangat jarang ditemukan dalam film Hollywood lain, terutama yang mengusung tema disaster maupun apocalypse.
Saya belum bisa menyimpulkan apa yang menyebabkan kiamat dalam film ini. Kiamat terjadi begitu saja, mungkin karena memang sudah waktunya. Diawali dengan gempa bumi, hingga beberapa saat kemudian gunung dan daratan berselimutkan asap, bermandikan api. Ratusan orang mati, puluhan lainnya tersedot cahaya biru ke langit—ini yang kemudian diterjemahkan sebagai jalan menuju surga. Dalam endingnya... (Spoilert) surga digambarkan sangat absurd; semuanya serba putih, dengan balutan baju yang sangat duniawi dengan lingkaran emas diatas kepala penghuninya. Semua keinginan akan terkabul, cukup dengan membayangkannya sejenak.
Sketsa dan konsep film ini tentang akhirat inilah yang sedikit mengganggu saya. Belum lagi final battle antara manusia yang tersisa dengan sang raja demon (atau harus saya sebut dajjal?). Dalam tahap tertentu sangat lucu, namun juga disturbing mengingat bahwa hal tersebut sesungguhnya akan terjadi, setidaknya sesuai kepercayaan yang saya anut. Ini seperti menertawakan nasib kita saat kiamat datang, padahal kita sendiri tahu, bahwa kita masih jauh dari standar yang layak untuk sekedar bisa mengetuk pintu surga sebenarnya.
Terlepas dari semua itu, film ini jelas dimaksudkan untuk hiburan semata. Lupakan anggapan bahwa film ini merupakan propaganda. Just sit, relax, and enjoy the show... and as usual, Emma Watson still rocks. Yeah!
My verdict: 7,5/10

Comments
Post a Comment