Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 2: End)

Oleh: Fauzan Al-Asyiq


Mengenai sisi emosionalnya, para pengidap LLI cenderung mampu mengendalikan mood mereka dan menjaganya tetap stabil, bahkan dalam keadaan tertekan sekalipun. Kebanyakan orang mungkin kurang bisa menjaga mood lantaran kondisi lingkungan dan sugesti orang lain (termasuk dirinya sendiri) yang terus terngiang-ngiang seperti suara yang berbicara didalam kepala mereka. Pengidap LLI hampir tidak pernah mengalami hal ini karena kontrol pikiran sepenuhnya berada dalam alam sadar mereka. Sayangnya, kondisi seperti ini justru berimbas pada pembawaan sang pengidap. Ekspresi mereka cenderung datar dan agak kurang bisa bersimpati terhadap keadaan orang lain.

Meski bisa dibilang pengidap LLI mempunyai sedikit 'keistimewaan' dibanding manusia normal pada umumnya, bukan berarti mereka tak punya sisi humanisme yang dikorbankan. Satu kekurangan yang dimiliki pengidap LLI ialah ia kesulitan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, terutama melalui komunikasi lisan. Otak sang pengidap akan dijejali dengan informasi tidak terbatas yang mempunyai detail sangat akurat. Begitu kompleksnya hingga ia sendiri kesulitan memilah informasi dan mentransformasikannya ke dalam rangkaian kata-kata. Inilah yang menyebabkan kebanyakan penderita LLI berkepribadian pendiam dan enggan berbagi cerita dengan orang lain.

Berbanding lurus dengan kenyataan diatas, bagi pengidap LLI, penjelasan dan omongan orang normal pada umumnya akan terlihat membosankan dan menjemukan. Ia akan merasa gemas dan geregetan pada lawan bicaranya karena sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan. Misanya, ketika lawan bicara baru menyampaikan poin E, bagi pengidap LLI, semestinya hal yang dibicarakan sudah sampai poin H. Oleh karena itu, para orang yang 'beruntung' mengidap kelainan ini tidak terlalu menyukai model komunikasi satu arah seperti perkuliahan yang monoton, seminar, ceramah, hingga mendengar curhatan orang lain misalnya.

Keseluruhan pola kepribadian diatas lah yang mau tidak mau membentuk karakteristik Hasan, Zain, dan pengidap LLI lainnya menjadi pribadi yang introvert dan perfeksionis. Mereka sukar ditebak, misterius, dan sangat memperhatikan detail sesuatu. Dalam pergaulan sehari-haripun mereka sulit mengakrabkan diri dengan manusia normal lain. Mereka hanya dapat akrab dengan orang yang sama-sama mengidap LLI. Namun demikian, pola pikir, perkataan, dan perilaku mereka tak jarang membuat orang disekitarnya berdecak kagum. 

Jika ada satu hal didunia ini yang mampu membuat pikiran mereka tenang, hal tersebut adalah ilmu pengetahuan. Bagi pengidap LLI, mempelajari disiplin ilmu baru, mengetahui bagaimana sebuah benda bekerja, dan memahami sebuah hubungan dari beberapa hal, merupakan sumber ketenangan tersendiri. 

Hingga saat ini, belum ada satupun standar internasional yang menyatakan seberapa 'low' kah inhibisi laten yang dimiliki seseorang, sehingga mampu menyebabkan orang tersebut divonis positif mengidap LLI. Jadi, tidak ada ketentuan bahwa pengidap LLI harus memiliki semua ciri-ciri diatas. Bisa jadi Anda yang merasa mempunyai salah satu pola kepribadian diatas juga memungkinkan untuk mengidap LLI. Meski persentasenya kecil.

Sayangnya, tidak semua orang yang mengidap kelainan ini akan begitu saja menjadi jenius. Hanya orang yang memiliki IQ tinggi dan mengidap kelainan inilah yang akan menghasilkan pribadi dengan tingkat intelejensia tertinggi, atau yang biasa disebut jenius tadi. Sementara orang berIQ rendah yang mengidap penyakit ini hanya akan berakhir sebagai orang yang jiwanya bermasalah (baca: sakit jiwa).

Nah, merasa punya salah satu dari beberapa indikasi diatas? Jangan-jangan Anda mengidap LLI.

Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)