Menuju World Class University

Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq 

Salah satu bentuk implikasi dari globalisasi, perdagangan bebas, dan juga termasuk didalamnya jasa pendidikan, adalah berubahnya paradigma persaingan bagi perguruan tinggi (PT). Dari yang awalnya merupakan persaingan sesama PT dalam sebuah negara, kini meluas hingga menjadi persaingan PT antar negara. Orientasi persaingan inilah yang kemudian memunculkan konsep World Class University (WCU) bagi beberapa PT di Indonesia. 

Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, UII telah berupaya agar pendidikan di Indonesia dapat disetarakan dengan pendidikan di negara maju dan berkembang lainnya, yaitu dengan menjadikan tempat kita menimba ilmu ini berstandar “World Class University”.

Prof. Kai Ming, seorang wakil rektor University of Hongkong, menyebutkan bahwa, “Dunia membutuhkan WCU karena perubahan tatanan sosial masyarakat, perubahan pola pemikiran, dan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pendidikan dengan cara yang unik dan maksimal agar dapat berhasil di dunia kerja”. 

Definisi sebenarnya dari World Class University ini masih menjadi perdebatan. Setidaknya ada tiga komponen utama dari sebuah world class ini, yaitu sangat baik dalam hal edukasi mahasiswanya seperti pengembangan, dan penelitian pendidikan, serta aktif berkontribusi pada hal kebudayaan, sosial, ekonomi, dan tatanan hidup masyarakat. Ketiga komponen tersebut akhirnya akan mengakar pada beberapa standar yang mesti dipenuhi universitas yang mencita-citakan WCU. UII sendiri, saat ini berhasil mencapai beberapa standar yang ditetapkan, antara lain meraih peringkat ke-3821 dunia untuk webomatrics-nya, atau peringkat ke-16 dari seluruh PT di Indonesia. (www.uii.ac.id


Kita patut memuji apa yang telah diupayakan oleh para petinggi UII dalam menggapai World Class University ini. Banyak hal positif yang nantinya akan kembali pada mahasiswa, meskipun tidak sedikit pula pengorbanan yang diberikan. Setidaknya, jangan sampai impian WCU ini menjadi pisau bermata dua bagi civitas akademika UII sendiri. Mengejar kualitas dan daya saing internasional namun mengabaikan aspek konsolidasi internal atau domestik yang juga makin kompetitif. Perlu diingat bahwa masih ada kata “Islam” diantara kata “Universitas” dan “Indonesia”. Kata tengah itulah yang sebenarnya adalah jati diri kita untuk saat ini dan selamanya, sesuai dengan amanah yang diberikan para pendiri UII terdahulu. Sehingga tidak semestinya nilai dan budaya Islam yang telah lama menyublim dalam atmosfer UII, menipis hanya karena orientasi persaingan dan eksistensi dimata dunia. 

Oleh karena itu, sebelum melangkahkan kakinya menuju WCU, UII perlu bercermin kembali pada visinya sebagai Universitas Islam, dan menjadikan hal tersebut sebagai batu pijakan. Sehingga terciptalah sebuah internalisasi sinergi yang akan memunculkan keunikan dari UII itu sendiri. Pada akhirnya, UII lah yang akan menetapkan standar bagi seluruh Universitas Islam dunia, sehingga tidak hanya tercipta WCU saja, akan tetapi juga IWCU. Islamic World Class University. [] 

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)