Review: Sate Petir Pak Nano (Yogyakarta)

The Silence of The Lambs 

Oleh: Fauzan Al-Asyiq

Sebagai pecinta kuliner pedas, sate petir pak nano sudah lama menjadi peringkat teratas dalam top list schedule wisata kuliner saya. Alasannya sederhana saja; saya suka pedas, dan sate pak nano adalah sate daging kambing muda--tipe daging terlezat yang dianugerahkan Tuhan pada umat manusia. Dan, baru hari ini saya berkesempatan mencicipi sate yang konon katanya mampu memberikan sengatan petir pada lidah yang mengecapnya. 

Spot kuliner ini berlokasi cukup jauh dari jantung kota Jogja, tepatnya di jalan lingkar selatan, desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Meski jauh, lokasinya mudah ditemukan karena terletak persis dipinggir jalan besar, tepat disebelah jembatan. Warung ini tidak hanya menyediakan sate, namun juga tongseng yang masih berbahan dasar sama, daging cempe (kambing ababil :P). Saya sendiri butuh waktu perjalanan sekitar 40 menit dari ujung ringroad utara Jogja. 

Begitu sampai, saya segera duduk, kebetulan saat itu warung baru buka, sekitar pukul 12.30, dan keadaan masih cukup sepi. Maklum, menurut kabar warung ini hampir selalu ramai, sehingga menjelang maghrib semua menu sudah habis. Hanya ada saya dan segerombolan gadis remaja yang juga hendak menyantap sate petir tersebut. 

Saat pramusaji menanyakan menu sate, sontak dengan yakin saya jawab."pedesss pak, s nya tiga ya!" Boleh dibilang, lidah saya termasuk kebal pedas, oseng mercon bu narti pun menurut saya pedasnya masih standar, sehingga untuk kali ini saya berani memesan porsi yang lebih pedas. 

Pelayanan cukup cepat dan ramah, begitu pesanan datang, pak nano sendiri yang mengantarkan, beliau menambahkan, "kirang pedes mboten mas? Nek kirang mangke kulo tambahi...?" (Kurang pedes nggak mas? Nanti kalo kurang saya tambahi)
Saya menyahut, "sampun cekap pak, maturnuwun," (sudah cukup pak, terimakasih). Saat itu saya benar-benar tidak tahu malapetaka apa yang akan saya alami. 

Saya sejenak mengamati apa yang tersaji dihadapan saya: 5 tusuk sate kambing berwarna cokelat kehitaman dilumuri dengan sambal kecap, dilengkapi dengan potongan bawang merah, cabai rawit, dan kubis. Dari penampilan sekilas memang biasa saja, namun kesan tersebut seketika berubah begitu suapan pertama masuk melewati kerongkongan saya. 

Pedas. Satu kata yang terlintas begitu memasuki suapan ketiga. Es teh tersisa separuh dan saya sempat mau minta tambah ketika teringat disebelah saya beberapa gadis tengah memperhatikan. Damn, gengsi dong mau nambah minum, padahal rasa panas dan pedas sudah semakin menggurita di dinding mulut, menyiagakan pankreas untuk bekerja ekstra menghasilkan air liur. Saya sempat diam sekitar 10 menit untuk meredakan chaos yang terjadi didalam mulut. 

Singkat cerita, perjuangan saya berakhir dengan menyisakan 2 piring kosong diatas meja (bukannya rakus, tapi memang porsi sate dan nasi dipisah). 2 gelas besar es teh dan segelas air putih benar-benar menjadi amunisi yang jitu. Rasa pedasnya masih terasa hingga setengah jam pasca ritual, menjadikan sate petir ini memasuki ranking 3 besar makanan terpedas yang pernah saya cicipi. 

Overall, berikut penilaian saya: 
Rasa: 8/10
Servis: 8/10
Harga: 8/10
Lokasi: 7/10
Pedas: 9/10

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)