The Untold Story: Glee and My School (Part 2)

Oleh: Fauzan Al-Asyiq


I don't think revealing my school's name is really necessary. Everyone who knows me must know where and what it is. By the end of article you will exactly know too. But, to make the reading easier and funner, let’s just call my school: MIBS. 

Ada begitu banyak ekskul maupun klub disekolah ini. Bisa dibilang, setiap kepala siswa punya wadah yang menaunginya. Dari mulai klub olahraga dengan berbagai cabangnya (sepak bola, basket, futsal, bulutangkis, takraw, pingpong, voli, pencak silat, senam), klub jurnalisme, bahasa, dan kepenulisan, hingga klub seni. Setiap siswa bebas bergabung ke dalam klub manapun, dengan satu syarat; loyalitas. Berbeda dengan klub-klub sekolah lainnya, memasuki salah satu klub di sekolah ini berarti mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk klub tersebut, selama sang siswa masih bersekolah disana—bahkan tak jarang loyalitas pada klub berlanjut hingga menjadi alumni. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulnya fanatisme pada sebuah klub, yang tidak jarang pada akhirnya berujung pada panasnya arena kompetisi antar klub di sekolah ini. ‘Kompetisi’ yang saya maksudkan disini bukan sebatas pertandingan diatas lapangan, namun dari segala aspek; popularitas, solidaritas, dan kualitas. 

Menonton serial Glee mengajak saya kembali membuka lembaran kehidupan yang sudah sejak lama tertutup, tersimpan rapi direlung hati, untuk kemudian membacanya perlahan. 

Kembali pada penjabaran mengenai klub. Di sekolah ini, jelas tidak ada klub semacam Glee (baca: klub underdog), dimana bergabung dengan klub tersebut malah semakin membuat anggotanya diperolok dan minder. Semua klub dan organisasi berbagi ekualitas yang sepadan, dengan kebanggaan masing-masing dalam diri anggotanya. Namun, sulit untuk diakui memang, diantara sekian banyak organisasi disini, ada beberapa yang bisa dibilang eksklusif. Klub tersebut biasanya mensyaratkan 2 hal selain loyalitas; peringkat kelas & seleksi anggota. 

Mari saya jelaskan lebih rinci. Pertama, peringkat kelas. Dalam konteks pendidikan formal, siswa di sekolah ini diklasifikasikan berdasarkan capaian akademisnya, yang sebelumnya dijustifikasi melalui tes lisan dan tertulis. Peringkat kelas ditentukan dengan abjad berurutan mulai dari B, seterusnya hingga jumlah siswa dikelas tersebut habis. Akhir abjad setiap kelas tidak selalu sama karena perbedaan jumlah siswa, misalnya kelas 1 berakhir di abjad M, kelas 5 V, kelas 3 O. Karena tingginya tingkat kesibukan dan aktivitas didalamnya, peringkat kelas yang dibolehkan untuk masuk ke organisasi eksklusif tersebut hanya kelas B, C, D, E, & F. Dimana siswa yang duduk dikelas tersebut telah dianggap mandiri secara akademis. 

Kedua, seleksi anggota. Hanya ada 1 cara untuk masuk ke dalam organisasi khusus ini; being choosen. Dipilih atau terpilih. Tidak ada registrasi, rekrutmen, atau pengumpulan berkas. Semua anggota baru diperoleh dengan cara instan; direkomendasikan dan dipilih oleh anggota lama. Biasanya, proses seleksi meliputi 2 aspek; attitude & skills. Keduanya diperlukan karena biasanya anggota organisasi ini senantiasa berinteraksi dengan masyarakat diluar sekolah, atau berkaitan dengan pelayanan publik (baca: siswa). 

Efeknya, para siswa yang tergabung dalam organisasi tersebut setidaknya telah memperoleh pengakuan secara implisit dari publik, bahwa ia; satu: duduk di kelas yang lebih tinggi dari rata-rata siswa lainnya, dua: mempunyai attitude dan skill yang dianggap lebih baik dari siswa-siswa dikelas B-F. Uniknya, perbedaan tersebut tidak lantas membuat siswa bersangkutan menjadi congkak dan mengambil jarak dengan lainnya. Paling tidak, saya belum menemukan sosok teman yang demikian. Sebaliknya, pengakuan yang ia peroleh diposisikan sebagai ajang pembuktian dan aktualisasi diri bahwa keterpilihannya adalah sebuah keputusan yang tepat.

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)