Review: Saving Private Ryan (1998)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Sebuah masterpiece film kembali lahir dari tangan sutradara masyhur Steven Spielberg. Saving Private Ryan adalah sebuah film dokumenter yang bertutur tentang perjuangan sekelompok tentara Amerika Serikat dalam menyelamatkan anggotanya yang disandera militer Normandia. Film yang rilis tahun 1998 ini benar-benar digarap dengan tingkat artistik dan koreografi yang sempurna. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana sang sutradara dengan kepiawaiannya berhasil memvisualisasikan adegan perang dengan sangat realistis. Penonton dibuat seakan menahan napas ketika menyaksikan 25 menit pertama dari film ini.
Adegan pertama dimulai dengan perang yang bersettingkan pantai Omaha, 6 Juni 1944. Dentuman bom, rentetan timah panas, ratusan manusia bergelimpangan bersimbah darah, bahkan tak sedikit yang kehilangan bagian tubuh mereka, adalah bumbu utama film ini. Tak ayal lagi, $ 11.000.000,-pun (dari total estimasi biaya pembuatan film sebesar $ 70.000.000,-) dihabiskan hanya untuk adegan pertama, dan agar penonton tak jengah dengan peperangan, unsur drama sedikit dibenamkan dalam film ini.
James Francis Ryan (Damon) adalah anak bungsu dari 4 bersaudara yang kesemuanya adalah tentara. Sang Ibu yang menerima kenyataan bahwa ketiga anaknya telah tewas dalam medan perang merasa amat terpukul, belum ditambah lagi dengan berita penyanderaan anak terakhirnya oleh militer Normandia. Ia hanya bisa berharap pihak Amerika mau mengutus tentaranya demi membebaskan buah hati terakhirnya. Sang Kapten, John H. Miller (Hanks), merasa iba dan dengan sukarela mengajak 8 orang bawahannya untuk maju ke medan perang demi mengabulkan harapan sang ibu. Sebelum berhasil menyelamatkan Ryan, beberapa prajurit tewas ditangan musuh. Konflik internpun terjadi ketika prajurit yang masih bertahan hidup mengetahui bahwa Ryan adalah tentara yang manja dan menyebalkan. Mereka merasa lebih baik membiarkan Ryan tewas daripada menyelamatkannya yang justru memakan banyak korban. Namun sang kapten dengan sabar mengarahkan bawahannya untuk tetap menahan diri sampai misi usai. Penonton dijamin terkejut dengan ending film ini karena sangat ironis dan sama sekali tak terduga.
James Francis Ryan (Damon) adalah anak bungsu dari 4 bersaudara yang kesemuanya adalah tentara. Sang Ibu yang menerima kenyataan bahwa ketiga anaknya telah tewas dalam medan perang merasa amat terpukul, belum ditambah lagi dengan berita penyanderaan anak terakhirnya oleh militer Normandia. Ia hanya bisa berharap pihak Amerika mau mengutus tentaranya demi membebaskan buah hati terakhirnya. Sang Kapten, John H. Miller (Hanks), merasa iba dan dengan sukarela mengajak 8 orang bawahannya untuk maju ke medan perang demi mengabulkan harapan sang ibu. Sebelum berhasil menyelamatkan Ryan, beberapa prajurit tewas ditangan musuh. Konflik internpun terjadi ketika prajurit yang masih bertahan hidup mengetahui bahwa Ryan adalah tentara yang manja dan menyebalkan. Mereka merasa lebih baik membiarkan Ryan tewas daripada menyelamatkannya yang justru memakan banyak korban. Namun sang kapten dengan sabar mengarahkan bawahannya untuk tetap menahan diri sampai misi usai. Penonton dijamin terkejut dengan ending film ini karena sangat ironis dan sama sekali tak terduga.
Satu trivia menarik dari film ini adalah cara sutradara memperlakukan Ryan (Damon) ketika latihan berperang. Sang sutradara sengaja memberikan jadwal latihan yang longgar khusus kepada Matt Damon agar ia jarang datang, sementara pemain lain berlatih dengan keras dan tanpa kenal lelah. Hal ini sengaja dilakukan agar rasa sebal dan benci kepada Damon yang bermain sebagai Ryan benar-benar muncul secara murni dari hati pemain lain yang menganggapnya malas berlatih dan bertindak semaunya.
Selain ditangani oleh sutradara ahli, dibintangi aktor-aktor berkaliber oscar, spesial efek yang menawan, dan unsur emosional yang menyentuh, film ini dinilai juga mampu memberikan pesan moral yang mendalam terhadap penontonnya. Rasa setia kawan sesama tentara, wibawa dan kebijakan sang kapten, sifat dan karakter Ryan yang menyebalkan, harapan sang ibu, nilai dari seorang manusia, dan kekejaman perang yang hanya mengenal kematian, semua itu ditampilkan dengan hampir sempurna oleh para pemainnya. Tak heran jika film ini mampu menyabet beberapa penghargaan oscar yang membawa nama Steven Spielberg semakin menjulang diindustri perfilman dunia.[]
My verdict: 8/10
My verdict: 8/10

Comments
Post a Comment