Pentingkah Akreditasi dalam Maksimalisasi Kualitas Perguruan Tinggi?


Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq 

Setibanya di parkiran, Adi (21) bergegas turun dari motornya untuk segera menuju kelas. Siang itu ia datang terlambat. Tidak seperti biasanya, ia terjebak macet di jalanan. Padahal, lokasi kostnya saja sudah cukup jauh dari kampus. Ia khawatir dosen tidak mengizinkannya mengikuti perkuliahan lantaran keterlambatannya yang terbilang lama, 30 menit. 

Setelah naik 3 lantai, pria itu langsung masuk ke kelas. Tapi alangkah kagetnya ia ketika tidak mendapati seorang pun dikelas. Suasana hening. Pandangan matanya terhenti pada secarik kertas yang ditempel dekat pintu. Kuliah SIM kosong. Demikian kurang lebih isi tulisan kertas tersebut. Adi tidak tahu harus senang atau sedih. Senang karena keterlambatannya ternyata tidak dihitung. Sedih karena saat itu sudah hampir UAS, tapi kehadiran sang dosen masih sebatas hitungan jari.

“Biasanya sih, senang kalau dosen sering kosong. Tapi sekarang baru kerasa. Sudah hampir UAS, tapi nggak ada ilmu yang kudapat dari mata kuliah ini.” Ujar mahasiswa jurusan manajemen ini.




Sambil terus mengumpat nama dosennya, Adi melanjutkan, “Hampir semua ujian baik itu pra, maupun UTS kemarin hanya tugas take home yang kurang mendidik. Kalaupun beliau hadir, paling lama setengah jam sudah kelar.”

Fenomena dosen mangkir bukan hanya sekali dua kali dirasakan oleh mahasiswa FE UII. Hal tersebut agaknya sudah menjadi maklum dikalangan civitas akademika. Dalam setiap semesternya, banyak mahasiswa mengaku ada saja dosen yang jarang mengajar, atau mengajar cuma sebentar. Sebuah data yang diperoleh dari kantor jurusan manajemen menyebutkan bahwa tidak lebih dari 40% jumlah dosen yang intensitas mengajarnya diatas 80% dari jadwal yang ditentukan. 

Terkait hal ini, Ibu Siti Nur Syamsiah selaku sekretaris jurusan manajeman menegaskan bahwa biasanya dosen yang mangkir mempunyai tugas dan kewajiban diluar kampus yang tidak bisa ditinggalkan. Misalnya seperti dosen berinisial NF dan ZM yang sibuk berwirausaha, atau SM yang juga sibuk sebagai pengurus badan wakaf UII. 

“Kalau sudah begitu, kita tidak bisa apa-apa. Memang saya yang mengatur jadwal dosen, dibantu dengan sistem komputer. Tapi ada beberapa dosen juga yang tidak melaporkan aktifitasnya diluar kampus, sehingga sulit bagi kami untuk mencocokkan dengan jadwal mengajarnya.” Ungkap alumni FE angkatan 1983 ini sambil menyeruput teh hangatnya. 

Hingga saat ini, belum ada langkah tegas dari pihak jurusan mengenai penanggulangan dosen mangkir tersebut. Padahal, jika tak ada halangan, akhir tahun ini Badan Akreditasi Nasional (BAN) akan kembali melakukan tes akreditasi terhadap FE UII. Salah satu kriterianya tentu saja jumlah dan kualitas tenaga pengajar disetiap jurusan. Proses akreditasi ini biasanya dilaksanakan 3 tahun sekali. Terakhir, seluruh jurusan di FE UII terakreditasi A pada pertengahan 2008 silam. 


Menanggapi masalah akreditasi ini, Bagyo, seorang dosen muda akuntansi FE UII, turut mengungkapkan kekecewaannya terhadap sistem yang mengatur para dosen. “Secara keseluruhan, saat ini di FE sedang terjadi kesulitan regenerasi dosen. Bayangkan saja, jarak dosen muda sekarang terpaut sangat jauh dengan dosen tetap. Dijurusan manajemen, dosen tetap yang termuda misalnya ada Pak Arif, beliau angkatan 1988. Sementara setelah beliau yang ada hanya dosen baru angkatan 2003, yaitu Pak Singa. Jaraknya sampai 15 tahun.” Tandasnya berapi-api.

Bagyo melanjutkan bahwa fenomena ini juga terjadi dijurusan akuntansi, hanya saja tidak separah manajemen. Berbeda dengan jurusan ilmu ekonomi yang dosen mudanya melimpah, tetapi mereka sudah bergelar master atau bahkan doktor. “Saya jadi kasihan sama Singa, karena beban jurusan yang semestinya digarap dosen senior, malah dilimpahkan semuanya ke dia. Sekarang dia kerepotan sendiri. Saya juga dibegitukan di akuntansi.” Raut wajah Bagyo tiba-tiba berubah sendu.

Lain dosen, lain pula mahasiswa. Isu akreditasi ini agaknya belum berhembus ke telinga para mahasiswa. Masih banyak mahasiswa yang tidak tahu apa, kapan, dan bagaimana proses akreditasi sebuah jurusan akan dilaksanakan. Seperti Riza (21) misalnya.


“Lah, aku malah baru tahu kalo akhir tahun ini ada akreditasi lagi. Apalagi masalah akreditasi manajemen yang kemungkinan menurun. Aku sih berharap jangan sampai turun. Kalau akreditasi FE yang merupakan unggulan UII ini turun, nggak ada hal yang bisa kubanggakan lagi dari kampus yang kata orang Fakultas Ekonominya salah satu terbaik di negeri ini.” Ujar pria jangkung tersebut.

Universitas Islam Indonesia, yang merupakan universitas terbaik ke-18 di Indonesia (www.uii.ac.id) sangat mengunggulkan fakultas ekonominya. Sudah puluhan tahun FE UII bercokol sebagai salah satu FE terbaik di Indonesia dengan akreditasi A untuk seluruh program studi. Meski demikian, UII tetap saja merupakan universitas swasta yang sering menjadi pilihan ke sekian para calon mahasiswa. 

Sulit untuk diakui memang, hampir sebagian besar mahasiswa FE adalah mahasiswa yang tidak diterima diperguruan tinggi top se-Indonesia. Tapi, agaknya hal tersebut tidak berlaku bagi mahasiswi bernama Yani (20). Sebagai alumni SMA unggulan di Yogya, ia sebenarnya bisa saja memilih universitas negeri ternama untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Tapi pilihan Yani tetap jatuh di FE UII. 

“Aku sengaja memilih IPFE UII buat kuliah, soalnya dulu ketika mau masuk cuma disitu Ekonomi International Program yang murah, tapi nggak murahan. Akreditasinya A, biayanya murah dibandingkan IP FE U*M yang mahalnya naudzubillah, lagipula IP FE pelopor International program di Indonesia.” Akunya.

Ketika disuguhi isu tentang akreditasi yang mungkin turun, wajah Yani sontak histeris, tampak jelas kekhawatiran terlukis diwajahnya yang bulat. “Serius nih? Yang bener aja! Aku udah bela-belain membantah kata ortu supaya kuliah di negeri. Masa sekarang akreditasi mau turun? Aku kan masih kuliah 2 tahun lagi! Mana bisa lulus tahun ini!” Tiba-tiba saja nada bicaranya berubah.

Meski saat ini orang-orang sudah mulai berpikir rasional mengenai pilihan universitas negeri/swasta, tapi orang tua Yani agaknya belum berubah. Mereka masih berpikir bahwa negeri selalu lebih baik dari swasta, lebih bergengsi, dan pastinya lebih murah. Yani, dengan tekad kuat ingin membuktikan bahwa selama ini orang tuanya salah. Menurutnya, baik tidaknya suatu perguruan tinggi tidak bisa dilihat secara keseluruhan dari nama universitasnya saja, tapi lebih mendalam lagi, yaitu fakultas, sistem, dan yang lebih penting, kurikulum pendidikannya. 

“Ambil contoh, kita tahu bahwa U*M itu Universitas terbaik se Indonesia, tapi untuk fakultas ekonominya, dalam banyak hal tidak lebih baik dari FE UII kok! Aku tuh bukan tipe orang yang suka mengeneralisir, tapi lebih kepada rasionalnya aja.” Timpal Yani tegas.

Kasus akreditasi yang turun di UII memang bukan barang baru. Sebelumnya, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya pernah mengalami hal yang sama. Persis akhir 2008 silam, akreditasi FPSB yang tadinya A, turun menjadi B. Pengalaman pahit ini dialami oleh Martha, mahasiswi FPSB 2007.

“Dulu pas aku masuk, disini (FPSB) itu masih A. Makanya aku pilih jurusan psikologi meski sebenarnya nggak terlalu tertarik. Eh, tahunya pas aku wisuda Juni nanti, akreditasinya B. Gimana nasib ijazahku nanti? Tapi bodo amat deh, toh rencana karirku kedepan emang bukan di psikologi, hehehe.” Selorohnya.

Berbeda dengan Yani, Finalis Putri Indonesia 2008 ini sepertinya tidak terlalu ambil pusing masalah akreditasi yang turun lantaran kuliah bukan menjadi modal karirnya ke depan. Meski belum pasti, Martha lebih tertarik terjun ke dunia hiburan, atau langsung melanjutkan S2 psikologi. Menurutnya, kalau pun akreditasi B itu terkesan jelek, masih bisa ditutupi dengan mengambil S2 di bidang yang sama. Bersambung...

Ilustrasi: http://www.kan.or.id/wp-content/uploads/slideshow-gallery/hospital_quality.jpg

Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)