Embracing an Early Sunshine
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful . Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation. Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging , menantang. Setelah 3 tahun silam saya mend...