Posts

Showing posts with the label Gontorology

Jidatmu Identitasmu (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Semua Hal-hal tersebut seakan menjadi barcode khusus yang membedakan mereka dari produk-produk lain dipasaran. They just stand out among the others . Not in the good way, but in the very distinctive one.  Fakta inilah yang membuat saya (mungkin beberapa orang juga berpikiran sama) menjadi stereotype—hanya pada kaum tersebut diatas. Diluar, kami memang bebas dan terpisah untuk terjun ke ranah perjuangan masing-masing, namun sebenarnya ada benang merah yang dengan mudah mampu manyatukan kami kembali: kemampuan untuk mengenali kaum kami sendiri. Kalimat saya sebelumnya tolong jangan dinilai diskrimnatif. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya sulit menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menerjemahkan apa yang ada diotak saya saat ini. :) Sudah tak terhitung berapa kali saya bertemu teman satu sekolahan saya diluar. Mau masih nyantri ataupun yang sudah beranak cucu, yang kenal maupun yang belum pernah ketemu.

Jidatmu Identitasmu (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu saya sedang bersantai sembari berjaga di toko ketika 2 orang remaja putri datang untuk menanyakan tersedia atau tidaknya sebuah buku yang mereka cari. Melihat dari busananya, tak heran mereka mencari buku tersebut. Keduanya mengenakan jilbab lebar menutupi bahu, baju panjang diilengkapi rok gelap, tak lupa berkaos kaki. Saya tersenyum. Tipe-tipe busana seperti ini sangat tidak asing. Bukan yang sering saya pakai tentunya. Hanya saja ketika melihat perempuan berbusana demikian, atau laki-laki bercelana kain lebar, dandanan necis berbaju rapi, saya merasa mereka dan saya setidaknya pernah dibesarkan dalam satu lingkungan yang sama: Pesantren.  Ah, tadinya saya hendak menulis cerita lucu tentang buku yang mereka cari, tapi mari kita simpan sejenak hikayat tersebut.  Pendidikan nonstop 24 jam dalam lingkungan pesantren memang mencakup segala aspek. Dari terkecil hingga terbesar. Dari mulai bangun tidur hingga mata kembali memeja...

Gontor itu Indah

Image
Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu. Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak "pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar-angkat koper"- demikian istilahnya di sana. Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar-angkat koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.  Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah men...

The Untold Story: Glee and My School (Part 3)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Haduh, malah berasa panjang lebar ngejelasinnya. Intinya, saya cukup beruntung kala itu bisa merasakan sensasi menjadi anggota dari beberapa organisasi eksklusif di sekolah. Tentu banyak sekali kejadian-kejadian lucu dan memorable yang saya alami bersama kawan-kawan, yang tak mungkin bisa diingat satu-persatu. Berikut akan saya ceritakan sekilas mengenai keistimewaan organisasi tersebut—seperti sihir, membuat siswa terlihat berbeda dimata siswa lainnya. a. Bagian Penerimaan Telepon Description: Ok, yang pertama kali saya protes begitu mendengar nama organisasi ini adalah; nama yang amat sangat tidak keren. Fine, in english, it’s quite cool; Phone Reception Officer , atau dalam bahasa unta; Qismu-l-hatif . Tugasnya jelas; menerima telepon dari masyarakat luar, kebanyakan wali siswa yang ingin bercakap dengan anaknya— FYI , lokasi sekolah ini memang berada di negeri antah berantah, jauh dari peradaban. Organisasi ini diperuntukkan bagi siswa kelas 3-...

The Untold Story: Glee and My School (Part 2)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq I don't think revealing my school's name is really necessary. Everyone who knows me must know where and what it is. By the end of article you will exactly know too. But, to make the reading easier and funner, let’s just call my school: MIBS.  Ada begitu banyak ekskul maupun klub disekolah ini. Bisa dibilang, setiap kepala siswa punya wadah yang menaunginya. Dari mulai klub olahraga dengan berbagai cabangnya (sepak bola, basket, futsal, bulutangkis, takraw, pingpong, voli, pencak silat, senam), klub jurnalisme, bahasa, dan kepenulisan, hingga klub seni. Setiap siswa bebas bergabung ke dalam klub manapun, dengan satu syarat; loyalitas. Berbeda dengan klub-klub sekolah lainnya, memasuki salah satu klub di sekolah ini berarti mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi untuk klub tersebut, selama sang siswa masih bersekolah disana—bahkan tak jarang loyalitas pada klub berlanjut hingga menjadi alumni. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulny...

The Untold Story: Glee and My School (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Belakangan ini saya sering menikmati waktu luang dengan menonton Glee, sebuah serial televisi Amerika yang bergenre musical comedy . Season pertamanya ditayangkan pada tahun 2009, dan ditayangkan secara rutin setiap tahunnya hingga sekarang menginjak season ke lima ( released soon ). Terlepas dari temanya yang cliche, yaitu tentang drama lika-liku kehidupan remaja di sekolah ( high school ), Glee membawakan pesan moral yang cukup mendasar; menghargai perbedaan, persaingan, dan arti sebuah sahabat/keluarga. Full stop . Selebihnya, bagi saya, tidak ada yang patut ditelaah lebih lanjut dari serial ini karena luasnya cakupan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai ketimuran, ditampilkan secara gamblang. Kissing scene, teen pregnancy, cheating, and even worse than that. Thankfully , yang membuat saya tertarik menontonnya adalah kuatnya penjiwaan tiap karakter, serta alunan musik dan tarian yang mengiringi sepanjang film.

Ketika Hati Ingin Bertaut

Image
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq                         Bagi Irham (19), sore itu tak seperti biasanya. Usai kuliah, ia bergegas kembali ke kamarnya untuk mencari sesuatu. Dengan nafas terburu, ia mengobrak-abrik hampir seluruh isi lemarinya. Tidak lama berselang, akhirnya lelaki berambut ikal tersebut menemukan benda yang harus ia kenakan malam itu. Benda yang dicari Irham tak lain adalah baju koko dan kain sarung yang hampir 1 tahun tidak pernah dipakainya lagi. Ia menepuk baju tersebut agar debu yang menempel hilang. Kemudian, Irham menyiapkan tas lusuhnya seraya memasukkan baju koko, sarung, handuk, dan beberapa barang ke dalamnya. Malam itu, ia tidak menginap di kamar. Selama sepuluh malam ke depan, Irham mendapat giliran hadir dalam kegiatan keagamaan yang diadakan kampusnya. Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sering disebut Rusunawa.             Ke...