Jidatmu Identitasmu (Part 2: End)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Semua Hal-hal tersebut seakan menjadi barcode khusus yang membedakan mereka dari produk-produk lain dipasaran. They just stand out among the others. Not in the good way, but in the very distinctive one.
Fakta inilah yang membuat saya (mungkin beberapa orang juga berpikiran sama) menjadi stereotype—hanya pada kaum tersebut diatas. Diluar, kami memang bebas dan terpisah untuk terjun ke ranah perjuangan masing-masing, namun sebenarnya ada benang merah yang dengan mudah mampu manyatukan kami kembali: kemampuan untuk mengenali kaum kami sendiri. Kalimat saya sebelumnya tolong jangan dinilai diskrimnatif. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya sulit menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menerjemahkan apa yang ada diotak saya saat ini. :)
Sudah tak terhitung berapa kali saya bertemu teman satu sekolahan saya diluar. Mau masih nyantri ataupun yang sudah beranak cucu, yang kenal maupun yang belum pernah ketemu.
Tidak hanya di masjid dan langgar-langgar kecil, kadang di mal, bioskop, jalanan, pasar, transportasi umum, hampir semua tempat. Ada yang saya sapa, ada yang tidak. Setidaknya 8 dari 10 sapaan saya selalu berujung pada fakta yang tak terbantahkan: kami mempunyai almamater sekolah yang sama. Saya menghembuskan nafas. Setelah sekian lama, tampaknya identitas itu masih ada. Masih senantiasa melekat ditempat yang sama. Meski pemiliknya telah berubah, tak lagi berpeci, tak lagi berambut cepak, tak lagi muda. Saya sendiri kadang bingung, darimana sebenarnya kami bisa saling mengenal? Potongan rambut, gestur, bahasa, atau apa?
Tidak hanya di masjid dan langgar-langgar kecil, kadang di mal, bioskop, jalanan, pasar, transportasi umum, hampir semua tempat. Ada yang saya sapa, ada yang tidak. Setidaknya 8 dari 10 sapaan saya selalu berujung pada fakta yang tak terbantahkan: kami mempunyai almamater sekolah yang sama. Saya menghembuskan nafas. Setelah sekian lama, tampaknya identitas itu masih ada. Masih senantiasa melekat ditempat yang sama. Meski pemiliknya telah berubah, tak lagi berpeci, tak lagi berambut cepak, tak lagi muda. Saya sendiri kadang bingung, darimana sebenarnya kami bisa saling mengenal? Potongan rambut, gestur, bahasa, atau apa?
Hingga kemudian saya teringat pesan Pak Kyai menjelang kelulusan.
“Kelak ketika kalian diluar sana, kalian akan bergabung bersama alumni lain. Berjuang di medan-medan yang telah kalian pilih. Kalian bebas mau jadi menteri, pejabat, atau bahkan presiden! Kalian boleh melupakan saya! Silahkan! Tapi ingat, satu yang kalian tidak boleh lupa! Dijidatmu, di bathuk-mu itu ada tulisan PM (Pondok Modern)! Ada tulisan Gontor. Jangan lupakan itu!”
Dan, setelah sekian lama, setelah sekian tahun, saya terus bertanya-tanya dalam hati, “Benarkah demikian?”.

Comments
Post a Comment