Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Oleh: Fauzan Al-Asyiq

Dalam sebuah sudut penjara di bilangan Illinois, Amerika Serikat, seorang pria terlihat mengendap-endap penuh waspada. Ia tengah bersembunyi dibalik rak besi yang berisi dokumen para tahanan yang disekap ditempat tersebut. Pria berkepala plontos itu merencanakan sebuah pelarian unik untuk melepaskan kakaknya, Lincoln Burrows dari jerat hukuman mati karena sebuah kasus berbahaya. Mata pria yang bernama Michael Scofield ini terus menatap sebuah kotak besi yang terletak 5 meter persis didepan batang hidungnya. Diatas kotak itu ada 9 tombol yang bertuliskan angka-angka, semacam kunci pengaman berpassword untuk mencegah orang yang tak diinginkan masuk ke lorong yang tak lain adalah sel tahanan.

Tak berapa lama, seorang sipir penjara datang dan menekan beberapa angka kombinasi, lalu masuk begitu saja. Michael tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil membawa segenggam debu, ia bergerak mendekati kotak besi tersebut. Dengan satu tarikan nafas, ia lantas meniupkan debu keatas tombol-tombol angka tadi. Ajaib, 4 buah tombol tampak tertutupi debu tebal. Michael langsung menekan tombol-tombol berdebu itu dengan yakin. Masalah urutannya, pria 28 tahun ini hapal betul karena tiap tombol yang ditekan mengeluarkan bunyi berbeda. Ia pun berhasil masuk.

Cerita diatas tak lain adalah sebuah adegan fantastis dari sebuah serial TV Amerika, Prison Break. Karakter utamanya bernama Michael Scofield, seorang pemuda jenius yang merencanakan sebuah pelarian sempurna dari sebuah penjara paling ketat di benua Amerika itu. Yang menarik disini adalah, bahwa kecerdasan yang dimiliki Michael bukan berasal dari sifat atau bawaan lahiriahnya. Kejeniusan Michael berasal dari sebuah penyakit. Ya, dan nama penyakit yang membuat penderitanya menjadi jenius ini bernama Low Latent Inhibition (LLI), atau dalam bahasa Indonesia jamak disebut inhibisi laten.

Kelainan ini—jika tidak mau disebut penyakit—ternyata bukan hanya ada dalam dongeng. Saat tubuh manusia berkembang dalam masa pertumbuhan, pikiran dan otaknya terus berusaha untuk menyaring dan mengenal berbagai macam rangsangan seperti objek benda dan informasi disekitarnya. Proses ini dinamakan Latent Inhibition. Banyak orang pada umumnya mampu menyaring rangsangan tersebut dengan baik, seperti lebih mendengarkan penjelasan dosen dan mengabaikan percakapan yang terdengar dari luar kelas. Namun dalam beberapa kasus, beberapa gelintir manusia mempunyai kepekaan berlebih terhadap kondisi disekitarnya, seperti jumlah anak tangga sebuah gedung, bunyi-bunyian kecil yang ditimbulkan angin, nomor plat motor, hingga nama lengkap dan tanggal lahir ratusan temannya. Kemampuan menyaring informasi yang rendah inilah yang disebut Low Latent Inhibition.

Orang-orang yang mengidap penyakit ini bersikap lebih peka terhadap informasi disekitarnya. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan lebih banyak dari orang pada umumnya. Dalam sebuah keramaian misalnya, tanpa disengaja, penderita LLI akan lebih dulu melihat temannya sebelum orang tersebut mampu menemukan penderita. Otak penderita LLI secara sadar mampu menerima asupan informasi tak terbatas, yang kemudian otomatis dipilah menjadi informasi yang menarik baginya. Inilah yang menyebabkan penderita LLI mampu memperoleh detail informasi yang mungkin terlewat oleh orang biasa. Pada level tertentu, informasi sekecil apapun bahkan bisa dijadikan petunjuk berharga bagi penderita LLI ini untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Sebut saja Hasan—ketika itu ia berusia 17 tahun—merupakan penderita LLI. Ia adalah salah seorang siswa senior yang bertugas sebagai bagian keamanan disalah satu pesantren terkemuka di Jawa Timur. Di akhir 2006, Ihsan berhasil membongkar sindikat penggemar bola yang mencuri kesempatan untuk menonton piala dunia di rumah warga sekitar area pesantren. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 40 santri mengalami skorsing selama 1 tahun akibat perbuatan mereka. Petunjuk yang dimiliki Hasan ketika hanya satu, sebuah obrolan ringan seputar hasil pertandingan yang tak sengaja didengarnya dari mulut sepasang siswa saat pulang dari kelas. Tak ayal, Ihsan pun didaulat sebagai bagian keamanan yang paling ditakuti lantaran kemampuan deduktifnya.

Bukan hanya itu, penderita LLI biasanya dapat mengetahui kebohongan atau penipuan yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ditanyai mengenai hal ini, Hasan mengaku tidak tahu bagaimana caranya. Yang ia tahu hanya kemampuan mendeteksi kebohongan tersebut mutlak dimiliki oleh seorang bagian keamanan. “Meski mungkin tidak selalu benar, tapi kemampuan untuk mendeteksi kebohongan wajib dimiliki individu bagian keamanan, karena santri cenderung berbohong dan berpura-pura untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman. Mereka kreatif dalam hal itu.” Ujarnya dalam sebuah obrolan singkat.

“Kalau saya pribadi,” Hasan melanjutkan kalimatnya, “Kebohongan seseorang bisa dideteksi dari arah bola matanya, intonasi suaranya, pergerakan jakun (bagi laki-laki), dan jeda antar kalimat yang terlontar dari mulutnya.”

Ciri lain dari pengidap LLI ini adalah si penderita mampu mempelajari sesuatu dengan cepat baik dalam disiplin ilmu baru, bahasa, hingga keterampilan fisik. Zain, siswa yang juga sekelas dengan Hasan ini mengaku punya cara uniknya sendiri untuk belajar, terutama dalam hapalan. Sebelum menghapal isi sebuah buku, ia akan mencoret dan menggambari tepi-tepi dari setiap halaman. Setiap halaman punya coretan dan gambar yang berbeda. “Ini supaya saya mudah menghapalnya, kalau tiap halaman punya tanda yang berbeda.” Timpalnya. Pria berkacamata ini mengaku, yang dihapal adalah bentuk huruf, warna, penempatan titik koma, hingga spasi yang ada dalam tiap halaman buku itu, bukan arti, bunyi, atau penjelasannya. Hal ini karena penderita LLI mempunyai memori yang disebut ‘ingatan fotografis’, dimana mata diibaratkan berfungsi sebagai shutter dan otak sebagai harddisk dengan partisi dan folder yang sudah diatur sedemikian rupa. Maka tak jarang, pengidap LLI mampu mengingat nomor HP, SMS teman setahun silam, hingga baju yang dipakai seseorang 3 minggu lalu.

Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)