Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)
Bakmi yang Membisukanmu
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Masakan bakmi jawa selalu menjadi ciri khas kuliner Jawa Tengah danYogyakarta. Berbeda dengan mi instan, bakmi jawa yang sama-sama bisa digoreng maupun rebus, mempunyai rasa yang berbeda. Terkesan manis dan wangi. Ada ribuan pedagang bakmi jawa yang bisa ditemukan dipinggir jalan, kolong jembatan, maupun restoran bintang lima. Namun, hanya segelintir yang rasanya benar-benar mampu membuat saya terbisu, khusyuk menikmati suap demi suap bakmi yang tersaji hangat beruap.
Ketika itu saya datang pukul setengah delapan. Masih belum terlalu ramai. Jam-jam awal seperti ini memang waktu paling tepat untuk singgah. Mitosnya, barangsiapa datang diatas jam 9, bersiaplah untuk menunggu antrian berlama-lama lantaran ramainya pemesan yang datang. Perhitungannya, tingkat keramaian pengunjung berbanding lurus dengan tingkat terjadinya human error dalam pelayanan. Pesanan tertukar lah, tidak sesuai urutan lah, dan masalah pelayanan lainnya. Maklum, sesuai namanya, Si Bisu, warung ini memiliki chef dan beberapa pramusaji yang tuna wicara alias bisu. Ini juga yang menyebabkan orang salah kaprah menganggap warung ini semacam ramen karena namanya mirip bahasa Jepang.
My verdict:
Rasa: 9/10
Pelayanan: 7/10
Harga: 8/10
Lokasi: 7/10
Masakan bakmi jawa selalu menjadi ciri khas kuliner Jawa Tengah danYogyakarta. Berbeda dengan mi instan, bakmi jawa yang sama-sama bisa digoreng maupun rebus, mempunyai rasa yang berbeda. Terkesan manis dan wangi. Ada ribuan pedagang bakmi jawa yang bisa ditemukan dipinggir jalan, kolong jembatan, maupun restoran bintang lima. Namun, hanya segelintir yang rasanya benar-benar mampu membuat saya terbisu, khusyuk menikmati suap demi suap bakmi yang tersaji hangat beruap.
Bakmi tersebut ialah bakmi Si Bisu atau sesuai yang tertulis di kaca gerobaknya, Shibitshu, warung bakmi sederhana yang berlokasi di Jalan Bantul (sekitar 100 meter utara Pasar Satwa Jogja). Jangan tertipu dengan bentuk warungnya yang sangat tradisional. Hanya gerobak berhias 2-3 meja besar dengan sekian hamparan tikar lusuh. Tapi jangan salah, setelah pukul 9 malam, warung tersebut dipastikan seakan menghilang tertelan pemandangan puluhan motor dan mobil yang berjejer mengular didepannya.
Ketika itu saya datang pukul setengah delapan. Masih belum terlalu ramai. Jam-jam awal seperti ini memang waktu paling tepat untuk singgah. Mitosnya, barangsiapa datang diatas jam 9, bersiaplah untuk menunggu antrian berlama-lama lantaran ramainya pemesan yang datang. Perhitungannya, tingkat keramaian pengunjung berbanding lurus dengan tingkat terjadinya human error dalam pelayanan. Pesanan tertukar lah, tidak sesuai urutan lah, dan masalah pelayanan lainnya. Maklum, sesuai namanya, Si Bisu, warung ini memiliki chef dan beberapa pramusaji yang tuna wicara alias bisu. Ini juga yang menyebabkan orang salah kaprah menganggap warung ini semacam ramen karena namanya mirip bahasa Jepang.
Saya segera pesan menu favorit: Bakmi Goreng. Oh ya, ini kedua kalinya saya kesini. Jangan memesan minuman es karena tidak akan tersedia disini. Sedikit minus dari saya yang penggemar minuman dingin. Singkat cerita, tak sampai 15 menit menunggu, makan malam saya datang diikuti dengan segelas teh hangat. Semerbak aroma wangi bawang putih dan lada tiba-tiba mengudara. Menstimulasi ujung syaraf-syaraf indra pengecap untuk segera melaksanakan tugas mulianya: mengeyangkan si perut yang sudah lama lapar akut.
Tampilan sajiannya sederhana, hanya mi berwarna cokelat keemasan diatas piring gratisan dari merk penyedap rasa nasional. Diatasnya ditaburi bawang goreng dan irisan daun seledri yang membuat siapapun tak kuasa menolak wangi aromanya. Sebagai campuran mi, ada potongan daging ayam kampung dan telur bebek. Mungkin 2 hal inilah yang menyempurnakan cita rasa bakmi Si Bisu, mengingat bakmi Jawa yang berharga dibawah 10.000 pasti menggunakan suwiran daging ayam broiler dan telur ayam negeri.
Pesona sihir dari sang chef kembali membuahkan hasil. Sesaat setelah saya memasukkan suapan pertama, seketika sunyi. Senyap. Yang terdengar hanya deru knalpot kendaraan yang berlalu lalang. Kedua kalinya saya tenggelam, larut dalam kesyahduan. Saya hampir kehabisan kata-kata untuk melukiskan sensasi rasa yang terkecap lidah. This is undoubtly the most tasteful noodle I ever tasted. Kalau kata Bondan, "Maknyus!".
Setelah menghabiskan santap malam, saya menikmati teh poci yg tersisa. Sekadar info, teh dan minuman hangat disini menggunakan gula batu sebagai pemanisnya. Selain menyajikan gelas besar, sang pramusaji tak lupa menyandingkan ceret, jika suatu saat perlu tambah. 15 menit kemudian, setelah merasa hajat tercukupi, saya anjak diri. Sepiring bakmi goreng, segelas teh hangat beserta tekonya, dan 7 buah cabai semuanya bernilai 18 ribu. Cukup mahal dibanding bakmi jawa biasa, namun masih lebih murah dari beberapa warung bakmi jawa legendaris yang tersebar dipelosok Jogja Selatan. Namun, untuk sekadar mengecap rasa bakmi yang istimewa ini, agaknya nominal 25.000 pun masih cukup masuk akal. Recommended.
My verdict:
Rasa: 9/10
Pelayanan: 7/10
Harga: 8/10
Lokasi: 7/10
Comments
Post a Comment