Review: Star Trek Into Darkness (2013)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
The best science-fiction movie that I ever seen. Saya harap kalimat pertama tersebut bisa mewakili keseluruhan review yang saya tulis ini. Lupakan Saga Transformers yang bermandikan spesial efek, namun bernaskah cemen. Buang jauh-jauh Prometheus yang garing dan terlalu berfilosofis. Ah, mereview STID membuat saya melupakan film fiksi ilmiah apa saja yang telah saya tonton, hampir, semuanya tak begitu berkesan, tentu saja selain Star Trek (2009) itu sendiri, prekuel dari STID. Saya terhitung telat menyaksikan saga penjelajah luar angkasa ini. Terus terang, pada awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Star Trek karena sudah terlalu banyak diadaptasi menjadi berbagai media: film, serial tv, game, novel grafis, dsb. Lantaran Star Trek booming di era 80an, saya pikir saat ini sudah terlalu telat untuk mulai menyukainya.
But, guess what? Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mencintai sesuatu. Semuanya karena campur tangan JJ Abrams, sutradara pembesut saga Star Trek (2009) dan Star Trek Into Darkness (2013). Ia berhasil meniupkan jiwa baru dalam film pertama, dan melipatgandakan performanya di film kedua. STID benar-benar perpaduan film dengan plot cerdas, dialog yang menginspirasi, akting jempolan, sinematografi yang megah, scoring membahana, dan aksi yang menegangkan.
Saya tidak akan bercerita tentang plot karena sayang jika tidak disaksikan secara langsung. Toh meski bisa ditonton tanpa harus mengikuti kisah di film pertamanya, saya sangat merekomendasikan untuk menonton saga ini berurutan. Hal ini penting untuk menjaga kekhusyukan dan pemahaman kita terhadap masing-masing karakter dan perkembangannya sesuai jalan cerita.
Menyaksikan film yang berdurasi 2 jam ini kembali membuat saya belajar apa definisi dari seorang pemimpin (Capt. James Tiberius Kirk), yang diperankan dengan sempurna oleh Chris Pine. Pemimpin sejatinya adalah orang yang dinamis, tidak melulu terpatok pada 1 aturan teoritis. Ia harus peka dan intuitif, mengambil keputusan bahkan dalam keadaan tersulit sekalipun. Keputusannya dibuat berdasarkan naluri dan analisis seluruh panca indranya terhadap perubahan situasi dan atmosfer lingkungan disekitarnya, bukan berdasarkan kalkulasi matematis semata. Pemimpin juga bukan raja yang tak mengenal salah. Pun dalam film ini, adegan yang menurut saya paling awesome adalah ketika Capt. Kirk salah mengambil keputusan, dengan sigap ia berbalik badan, menatap tajam ke seluruh krunya dan berkata, "I'm sorry." Singkat namun diperankan dengan sangat emosional. Saya merinding saat itu.
Pujian juga layak diberikan pada tokoh John Harrison/Khan. Karakternya sungguh sangat intimidatif, cerdas, sekaligus manipulatif. Meski diplot sebagai peran antagonis, Khan mampu menarik simpati penonton karena dedikasi dan kecintaannya terhadap krunya. Benedict Cumberbatch dinilai berhasil membawakan peran Khan dengan sangat baik. Tak heran, Abrams tampaknya memang sangat menyiapkan peran ini sebagai scene stealer, terbukti dari bagaimana karakter Khan ini begitu mendominasi materi promosi STID, seimbang dengan karakter Capt. Kirk dan Commander Spock.
Sebagai penutup, film ini rasanya pantas saya beri nilai sepuluh. Terlepas dari kekurangan yang mungkin ditemukan penonton lain, STID bagi saya adalah film yang sempurna. Skor ini pula yang membawa JJ Abrams masuk menjadi sutradara favorit saya disamping Christopher Nolan dan Edgar Wright. Abrams is the man of visual and content!
My verdict: 10/10
Comments
Post a Comment