Jidatmu Identitasmu (Part 1)

Oleh: Fauzan Al-Asyiq 


Siang itu saya sedang bersantai sembari berjaga di toko ketika 2 orang remaja putri datang untuk menanyakan tersedia atau tidaknya sebuah buku yang mereka cari. Melihat dari busananya, tak heran mereka mencari buku tersebut. Keduanya mengenakan jilbab lebar menutupi bahu, baju panjang diilengkapi rok gelap, tak lupa berkaos kaki. Saya tersenyum. Tipe-tipe busana seperti ini sangat tidak asing. Bukan yang sering saya pakai tentunya. Hanya saja ketika melihat perempuan berbusana demikian, atau laki-laki bercelana kain lebar, dandanan necis berbaju rapi, saya merasa mereka dan saya setidaknya pernah dibesarkan dalam satu lingkungan yang sama: Pesantren. 

Ah, tadinya saya hendak menulis cerita lucu tentang buku yang mereka cari, tapi mari kita simpan sejenak hikayat tersebut. 

Pendidikan nonstop 24 jam dalam lingkungan pesantren memang mencakup segala aspek. Dari terkecil hingga terbesar. Dari mulai bangun tidur hingga mata kembali memejam. Para santri hidup dari bel ke bel, jam ke jam, kegiatan ke kegiatan. Semuanya dijalankan dengan tertib dibawah aturan yang berlaku, tertulis maupun tidak tertulis. Salah satu aspek yang bagi saya unik adalah bagaimana disana diajarkan cara berbusana. Ya, Anda tidak salah baca.
Bahkan cara berbusana pun diajarkan. Setiap kegiatan mempunyai dress-code nya masing-masing: sekolah, pramuka, olahraga, public speaking, hingga busana tidur. 

Belum lagi aturan-aturan khusus mengenai warna, potongan, motif tiap baju yang rasanya akan sangat panjang jika dijelaskan. Intinya tidak neko-neko. Tapi yah, bukan santri namanya jika tak kreatif. Ada saja santri yang masih bisa berkreasi ditengah ketatnya aturan pakaian yang berlaku. Kantong khusus pena di samping dengkul, ritsleting dikantong belakang celana, kemeja berkancing perekat, adalah beberapa aneka kreasi santri yang tujuan pembuatannya hanya dapat dipahami oleh intelejensi sang pemilik. 

Beware of your behavior, sooner or later, it will becomes your habit. Waspadalah terhadap perilakumu, cepat atau lambat, ia akan menjadi kebiasaanmu. Percaya atau tidak, cara berpakaian yang lazim dipakai seorang santri selama 4-6 tahun masa belajarnya, sedikit banyak akan terbawa hingga keluar. Tidak hanya cara berpakaian, tapi gaya potongan rambut, cara menyisir, hingga pilihan merk minyak rambut dan parfum. Keputusan tersebut biasanya diambil melalui observasi keseharian santri dan tingkat pergaulan individu. Bagi mereka, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan adalah pendidikan, dan selama itu hal baik, bisa dipastikan akan tercipta suatu kultur yang persuasif. Si junior akan mengikuti gaya Sang Senior. Santri mencontoh tindak tanduk Ustadz nya. Sedangkan para Guru meneladani semangat Pak Kyai. Semuanya seakan menjadi elemen-elemen kecil yang menyatu dan terpatri dalam pola pikir dan perilaku alumni pesantren dalam batasan yang mungkin tidak mereka sadari. (bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)