Review Kuliner: Warung Sambel Welut Pak Sabar (Yogyakarta)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Tidak semua orang suka mengkonsumsi hewan yang satu ini. Berbadan panjang tanpa kaki. Bagi orang yang tak pernah bertandang ke pedesaan, mungkin akan mengira makhluk ini sejenis ular. Nyatanya bukan. Belut, hewan ini biasa dipanggil, sama sekali tidak bersisik layaknya hewan melata tersebut. Badannya cokelat kehitaman dan licin, bermata kecil dan mulut menyerupai ikan. Habitat alaminya sawah dengan perairan yang memadai.
Meski terkesan aneh, belut sudah sejak lama menjadi makanan favorit banyak orang. Selain dagingnya yang gurih, tulangnya pun tidak berduri tajam dan lebih lunak jika dibandingkan dengan tulang ikan. Belum lagi kandungan gizi didalamnya. Belut terkenal dengan tingkat proteinnya yang tinggi. Sehingga tidak jarang negara maju seperti Jepang bahkan mengimpor jutaan belut dari hasil peternakan Indonesia.
Meski menjadi salah satu komoditi ekspor nasional, tidak banyak warung makan yang menyediakan menu belut di kota-kota besar di Indonesia. Yogyakarta tak terkecuali. Masyarakat lebih familiar dengan menu-menu mainstream seperti olahan ayam dan ikan. Tapi, bagi Anda pecinta masakan belut, tak perlu berkecil hati. Warung Belut Pak Sabar siap memuaskan selera makan Anda.
Mencari lokasi warung ini untuk pertama kali adalah sebuah perjuangan. Jauh dari kota. Blusukan ke pedesaan. Dengan jarak tempuh sekitar 40 menit dari pusat Jogja, menuju jalan Imogiri Timur, dari perempatan besar ringroad, warung Pak Sabar masih lurus terus ke selatan. Lantaran sudah tidak berkunjung selama 2 tahun belakangan, saya lupa persisnya, hanya saja setelah 10 menit berkendara dari perempatan tadi, cukup sekali belok kiri di pertigaan maka kita akan sampe disebuah masjid yang terletak persis disebelah makam. Nah, warung Pak Sabar terletak di sebelah timur makam tadi.
Dari luar, warung tersebut nampak seperti rumah biasa. Papan tulisannya pun sudah agak lapuk dan kurang terbaca jelas. Ruang makan hanya berisi meja-meja besar yang tertata rapi. Didinding, terpampang tulisan besar berisi menu-menu yang disediakan: Belut goreng/bakar, sambal belut, dan berbagai macam ikan sawah seperti bayong, lele, nila, dsb. Selama mampir, saya belum pernah memesan menu selain belut.
Satu porsi belut pak sabar berisi 3-4 ekor belut berukuran sedang. Gorengannya setengah kering, menjadikan sekujur tubuh belut kering diluar, namun empuk dan hangat di bagian dalam. Aroma bumbu bawangnya begitu harum. Disajikan diatas piring dan dilengkapi lalapan berupa ketimun, daun kemangi, dan irisan kubis. Menu istimewa lainnya adalah sambal belut. Terbuat dari belut goreng yang dihaluskan dan dicampur dengan tumbukan cabai, bawang, dan sedikit kunyit. Wangi dan bertekstur halus adalah karakteristik sambal khas Pak Sabar ini. Meski dicampur dengan begitu banyak rempah-rempah, olahan pedas ini tetap tidak kehilangan rasa belut didalamnya. Ditambah nasi putih hangat mengepul yang bersih dan pulen, kombinasi ketiganya dijamin akan memuaskan setiap pecinta belut se Nusantara.
The beverages here, is another story. Ada 2 jenis minuman disini: Teh dan Jeruk. Both can be served hot and cold. Mungkin terinspirasi oleh warung-warung sederhana khas Jawa lainnya, pemanis minuman di warung Pak Sabar menggunakan gula batu, sehingga tingkat kemanisannya dapat diatur dengan mengangkat gula tersebut dari gelas setelah mendapatkan rasa manis yang pas. Sisa gula batu pun dapat digunakan sebagai pemanis tambahan disamping tersedianya termos air disetiap meja. Kesempurnaan menikmati santapan disini semakin terasa ketika suasana pedesaan menyapa: tanpa bising kendaraan dan aktivitas perkotaan.
And finally, this what makes eating here much more interesting: the damage cost. Percaya atau tidak, untuk 2 porsi belut goreng, 1 porsi sambal belut, 2 piring nasi, dan 2 gelas es jeruk hanya berharga sekitar Rp26.500,- saja. Bagi saya, untuk sekaliber rasa masakan yang seperti ini, nilai tersebut amatlah murah, belum lagi ditambah tempat yang higienis, pelayanan yang ramah, dan suasana pedesaan yang nyaman. By the way, saat menulis review ini, sudah lebih dari 2 tahun saya tidak bertandang kesana, so amat mungkin harga yang tertera dalam review ini akan mengalami kenaikan.
My verdict:
Rasa: 9/10
Pelayanan: 8/10
Lokasi: 7/10
Harga: 9/10
Meski terkesan aneh, belut sudah sejak lama menjadi makanan favorit banyak orang. Selain dagingnya yang gurih, tulangnya pun tidak berduri tajam dan lebih lunak jika dibandingkan dengan tulang ikan. Belum lagi kandungan gizi didalamnya. Belut terkenal dengan tingkat proteinnya yang tinggi. Sehingga tidak jarang negara maju seperti Jepang bahkan mengimpor jutaan belut dari hasil peternakan Indonesia.
Meski menjadi salah satu komoditi ekspor nasional, tidak banyak warung makan yang menyediakan menu belut di kota-kota besar di Indonesia. Yogyakarta tak terkecuali. Masyarakat lebih familiar dengan menu-menu mainstream seperti olahan ayam dan ikan. Tapi, bagi Anda pecinta masakan belut, tak perlu berkecil hati. Warung Belut Pak Sabar siap memuaskan selera makan Anda.
Mencari lokasi warung ini untuk pertama kali adalah sebuah perjuangan. Jauh dari kota. Blusukan ke pedesaan. Dengan jarak tempuh sekitar 40 menit dari pusat Jogja, menuju jalan Imogiri Timur, dari perempatan besar ringroad, warung Pak Sabar masih lurus terus ke selatan. Lantaran sudah tidak berkunjung selama 2 tahun belakangan, saya lupa persisnya, hanya saja setelah 10 menit berkendara dari perempatan tadi, cukup sekali belok kiri di pertigaan maka kita akan sampe disebuah masjid yang terletak persis disebelah makam. Nah, warung Pak Sabar terletak di sebelah timur makam tadi.
Dari luar, warung tersebut nampak seperti rumah biasa. Papan tulisannya pun sudah agak lapuk dan kurang terbaca jelas. Ruang makan hanya berisi meja-meja besar yang tertata rapi. Didinding, terpampang tulisan besar berisi menu-menu yang disediakan: Belut goreng/bakar, sambal belut, dan berbagai macam ikan sawah seperti bayong, lele, nila, dsb. Selama mampir, saya belum pernah memesan menu selain belut.
Satu porsi belut pak sabar berisi 3-4 ekor belut berukuran sedang. Gorengannya setengah kering, menjadikan sekujur tubuh belut kering diluar, namun empuk dan hangat di bagian dalam. Aroma bumbu bawangnya begitu harum. Disajikan diatas piring dan dilengkapi lalapan berupa ketimun, daun kemangi, dan irisan kubis. Menu istimewa lainnya adalah sambal belut. Terbuat dari belut goreng yang dihaluskan dan dicampur dengan tumbukan cabai, bawang, dan sedikit kunyit. Wangi dan bertekstur halus adalah karakteristik sambal khas Pak Sabar ini. Meski dicampur dengan begitu banyak rempah-rempah, olahan pedas ini tetap tidak kehilangan rasa belut didalamnya. Ditambah nasi putih hangat mengepul yang bersih dan pulen, kombinasi ketiganya dijamin akan memuaskan setiap pecinta belut se Nusantara.
The beverages here, is another story. Ada 2 jenis minuman disini: Teh dan Jeruk. Both can be served hot and cold. Mungkin terinspirasi oleh warung-warung sederhana khas Jawa lainnya, pemanis minuman di warung Pak Sabar menggunakan gula batu, sehingga tingkat kemanisannya dapat diatur dengan mengangkat gula tersebut dari gelas setelah mendapatkan rasa manis yang pas. Sisa gula batu pun dapat digunakan sebagai pemanis tambahan disamping tersedianya termos air disetiap meja. Kesempurnaan menikmati santapan disini semakin terasa ketika suasana pedesaan menyapa: tanpa bising kendaraan dan aktivitas perkotaan.
And finally, this what makes eating here much more interesting: the damage cost. Percaya atau tidak, untuk 2 porsi belut goreng, 1 porsi sambal belut, 2 piring nasi, dan 2 gelas es jeruk hanya berharga sekitar Rp26.500,- saja. Bagi saya, untuk sekaliber rasa masakan yang seperti ini, nilai tersebut amatlah murah, belum lagi ditambah tempat yang higienis, pelayanan yang ramah, dan suasana pedesaan yang nyaman. By the way, saat menulis review ini, sudah lebih dari 2 tahun saya tidak bertandang kesana, so amat mungkin harga yang tertera dalam review ini akan mengalami kenaikan.
My verdict:
Rasa: 9/10
Pelayanan: 8/10
Lokasi: 7/10
Harga: 9/10

Comments
Post a Comment