Ketika Hati Ingin Bertaut
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq
Bagi Irham (19), sore itu tak seperti biasanya. Usai kuliah, ia bergegas kembali ke kamarnya untuk mencari sesuatu. Dengan nafas terburu, ia mengobrak-abrik hampir seluruh isi lemarinya. Tidak lama berselang, akhirnya lelaki berambut ikal tersebut menemukan benda yang harus ia kenakan malam itu. Benda yang dicari Irham tak lain adalah baju koko dan kain sarung yang hampir 1 tahun tidak pernah dipakainya lagi. Ia menepuk baju tersebut agar debu yang menempel hilang. Kemudian, Irham menyiapkan tas lusuhnya seraya memasukkan baju koko, sarung, handuk, dan beberapa barang ke dalamnya. Malam itu, ia tidak menginap di kamar. Selama sepuluh malam ke depan, Irham mendapat giliran hadir dalam kegiatan keagamaan yang diadakan kampusnya. Bagi mahasiswa baru, kegiatan ini sering disebut Rusunawa.
Kegiatan macam ini sebenarnya tidak asing baginya. Irham menamatkan pendidikan SMA-nya disalah satu pesantren terbesar se-Asia Tenggara yang terletak dikota Indramayu, Jawa Barat. Namun ia mengaku, hal tersebut sama sekali bukan pilihannya saat itu.
“Masuk pesantren bukan jaminan hidupmu akan senantiasa ma’shum (terlindung dari maksiat) selamanya. Justru godaan terbesar datang ketika kita telah keluar dari pesantren.
Dimana sebagai anak muda, adalah fitrah untuk selalu ingin tahu, mencoba hal baru, dan ingin hidup bebas setelah 6 tahun terkekang peraturan monoton. Inilah yang kadang menjadi boomerang bagi kebanyakan alumni lembaga pendidikan serupa. Semua itu tergantung sekuat apa nilai-nilai yang telah tertanam dibenakmu. Banyak yang jatuh, tapi tak sedikit pula yang bertahan.” Timpal Irham dengan logat Makassar nya yang kental. Setelah menamatkan Sekolah Dasar, ia terus merantau ke pelbagai kota hingga sekarang kuliah di Yogyakarta, demi menuntut ilmu.
Dimana sebagai anak muda, adalah fitrah untuk selalu ingin tahu, mencoba hal baru, dan ingin hidup bebas setelah 6 tahun terkekang peraturan monoton. Inilah yang kadang menjadi boomerang bagi kebanyakan alumni lembaga pendidikan serupa. Semua itu tergantung sekuat apa nilai-nilai yang telah tertanam dibenakmu. Banyak yang jatuh, tapi tak sedikit pula yang bertahan.” Timpal Irham dengan logat Makassar nya yang kental. Setelah menamatkan Sekolah Dasar, ia terus merantau ke pelbagai kota hingga sekarang kuliah di Yogyakarta, demi menuntut ilmu.
Di kampusnya, Irham kerap dicap sebagai seorang mahasiswa sempurna seutuhnya. Tampaknya ia berhasil memetik dan mengecap manisnya buah kesungguhannya di pesantren. Kini ia telah menguasai 3 bahasa. Skill bahasa Inggrisnya mampu disejajarkan dengan dosen S-2 jebolan luar negeri. Ia juga kerap ditunjuk menjadi penerjemah ketika pihak universitas kedatangan tamu dari negara-negara di Timur Tengah. Ketika berbicara di depan kelas, tak seorangpun mahasiswa berkedip melihat betapa piawainya Irham merangkai kata-kata, merajut mimik muka, dan menyelaraskan bahasa tubuh. Ia pun sering dijadikan referensi temannya dalam belajar, terutama mengenai ilmu agama. Keaktifannya di berbagai organisasi membuatnya dikenal oleh hampir seluruh mahasiswa di kampusnya.
“Seluruh prestasi yang mungkin aku dapatkan sekarang nggak bisa dilepaskan dari peran pesantren dalam mendidikku selama 6 tahun terakhir. Aku jadi teringat pesan pimpinan pondok; Tolak ukur keberhasilan alumni bisa dilihat setelah 5 tahun, dimana jika kalian belum berhasil menjadi seseorang yang berpengaruh terhadap lingkungan kalian, kalian telah GAGAL menjadi alumni pondok ini.” Ungkap lelaki bernama lengkap Muhammad Irham Roihan ini.
Namun diluar itu semua, Irham hanyalah pemuda biasa, bukan wali, apalagi rasul. Disatu sisi ia disanjung oleh banyak orang atas prestasi dan pencapaiannya yang luar biasa. Disisi lain, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Dimana sesuatu tersebut jauh lebih penting dari segala nikmat duniawi yang kini telah ia peroleh. Ia merasa hatinya hampa. Ia merasa tak bisa lagi merasakan nikmatnya tuma’ninah dalam shalat, tak bisa mengecap nikmatnya tegukan pertama saat berbuka puasa, tak bisa lagi menikmati lantunan bait-bait sastra terindah di dunia. Ia merasa apa yang ditakutkan oleh kebanyakan alumni pesantren, terjadi pada dirinya. Ia merasa jauh dari Tuhannya.
Baju koko dan kain sarung yang terlipat rapi dilemari dan tidak pernah dipakainya setahun terakhir ini cukup membuktikan bahwa Irham sempat terjatuh dalam kelalaian. Ia mengaku, kadar keimanannya turun drastis semenjak keluar dari pesantren. Kini, walau masih 5 kali sehari, shalatnya sering telat, dan otomatis jarang berjama’ah. Membaca Al-Qur’an pun hanya sesempatnya saja. Terlebih, sekarang pergaulan semakin bebas.
“Bayangkan saja. Enam tahun di pesantren. Aku nggak pernah melihat dan berkenalan dengan makhluk yang namanya perempuan. Nah, sekarang? Bisa sekelas, bisa sekelompok, siang malam ketemu. Bahkan bisa tetanggaan dengan perempuan. Bisa dibilang, inilah nikmat sekaligus godaan terbesar dalam hidupku. Tapi, gini-gini aku masih lebih suka mengenal perempuan yang berjilbab. Nggak tahu kenapa, pokoknya adem aja kalau melihat mereka. Serasa ada chemistry yang cocok.” Celoteh Irham sembari terkekeh.
Terlepas dari semua itu, Irham tampaknya tidak mau begitu saja terhempas menuju jurang kemaksiatan. Mungkin inilah salah satu nilai lebih dari pemuda berkacamata yang tampaknya sedang tertimpa gejolak problematika dimensi keimanan. Disaat banyak alumni pesantren yang membiarkan dirinya terlena dengan masa mudanya, bisikan hati kecil Irham masih bisa membentenginya dari rusaknya moral dan aqidah yang kerap menyerang pemuda seusianya. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan mengikuti organisasi lembaga dakwah difakultasnya. Irham memaparkan, dengan ikut didalam organisasi tersebut ia merasa mempunyai sahabat yang senantiasa mengingatkannya ketika khilaf. Selain itu, lingkungan lembaga dakwah memberi pengaruh positif pada dirinya. Ilmu agama yang dimilikinya pun bisa tersalurkan dengan baik serta bermanfaat bagi sahabat-sahabatnya.
Namun, Irham berharap dirinya mampu berbuat lebih dari itu. Dengan segudang pencapaiannya, ia ingin kembali merasakan nikmat iman dan islam yang dulu pernah bersemayam dalam hatinya. Diakhir wawancara, matanya menerawang. Merenungi keberadaan dzat yang telah menganugerahinya banyak hal. Irham memejamkan mata. Kini yang harus dilakukannya adalah mencari titik pertemuan yang mentautkan hatinya pada dzat tersebut.[]
Comments
Post a Comment