Tangan Dingin Sang Penjaga Fotokopi
Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq
Dua meja hitam itu selalu tampak berantakan. Permukaannya sudah tidak mulus lagi lantaran ratusan goresan benda tajam telah mengenainya. Diatasnya hanya ada sebuah mesin pemotong kertas manual serta sesekali terlihat tumpukan kertas tak beraturan. Serpihan kertas dan isi klip kecil tersebar hampir disetiap sudut meja tersebut. Disebelah kanan terdapat mesin copy besar yang jika sedang beroperasi suaranya mampu meredam riuh manusia yang sedang berlalu lalang disekelilingnya.
Sejatinya, ruang sempit berukuran 2,5 X 3 meter yang ditempati dua meja hitam tersebut, sejak beberapa tahun lalu merupakan pusat fotokopi kopma (koperasi mahasiswa) Fakultas Ekonomi UII. Ranah usaha itu dikelola oleh dua orang pekerja. Salah satunya adalah seorang bapak paruh baya bernama Amrozi, dan satunya lagi perempuan muda yang biasa dipanggil Mbak Mur. Keduanya sering terlihat berjaga bersamaan ditempat fotokopi yang buka setiap Senin sampai Jum’at, dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 tersebut.
Penampilan bapak Amrozi cukup unik. Dari namanya saja sudah mengingatkan orang pada terdakwa kasus bom Bali serta beberapa aksi terorisme yang marak beberapa tahun silam. Salah satu ciri khas bapak yang sekaligus menjadi pemilik usaha fotokopi di kampus antara ini adalah kepalanya selalu tertutup peci haji berwarna putih. Sementara partnernya, Mbak Mur, adalah orang yang dipekerjakan beliau sebagai karyawan fotokopi. Perempuan berkulit gelap tersebut agaknya sangat pendiam, sehingga sedikit sekali informasi yang bisa digali darinya.
Walaupun bertempat di kampus yang notabene merupakan kawasan menggiurkan bagi bisnis fotokopi, tempat ini tak selalu ramai. Kebanyakan mahasiswa yang datang hanya membeli cemilan atau minuman di warung yang terletak tepat disebelah fotokopi tersebut. Pada hari-hari biasa, bapak Amrozi dan Mbak Mur lebih sering terlihat duduk dan mengantuk sembari menunggu datangnya konsumen yang membutuhkan jasa mereka. Selain itu, pesanan datang dari dosen-dosen yang menghendaki modul/handout mereka diperbanyak demi kepentingan belajar mahasiswanya. Tidak banyak yang mampu diperbuat Amrozi dan Mur untuk lebih menarik konsumen untuk datang. Mereka tidak leluasa mengubah layout ruang usaha karena statusnya masih menyewa dari pengurus kopma fakultas.
Namun, sepinya pengunjung pada hari-hari biasa tampaknya tidak membuat Amrozi dan Mur patah arang. Mereka sadar betul bahwa yang harus mereka lakukan hanya menunggu. Bukan menunggu pengunjung, melainkan menunggu saat ujian mahasiswa tiba.
***
“Pak, minta tolong pesanan saya jadi nanti sore ya...” , seru seorang mahasiswa yang baru saja menyerahkan sebuah catatan milik temannya untuk difotokopi.
“Wah mas, ya ndak bisa nanti sore. Besok wae ya? Masih ngantri ini soalnya. Motokopinya kok ya ndak dari kemarin-kemarin?” , timpal bapak Amrozi seraya menumpuk catatan setebal 100 halaman yang baru saja diterimanya.
“Hehe pak, biasa lah. Saya sibuk banget. Besok pagi ya pak! Makasih ya!” Balas si mahasiswa sambil berlalu tanpa memperdulikan perubahan mimik wajah bapak Amrozi.
Demikianlah tema percakapan yang sering terjadi di fotokopi kopma jika sudah mendekati ujian. Mahasiswa berbondong-bondong datang untuk menuntaskan hajatnya; memfotokopi jadwal ujian, modul/handout dosen, makalah, catatan teman, dan duplikasi naskah lainnya. Membuat pekerjaan bapak amrozi dan Mbak Mur kian menumpuk, padahal mereka bekerja hanya berdua. Fenomena ini juga tidak hanya terjadi sekali, akan tetapi hampir disetiap ujian tiba, entah itu UTS, UAS, dan pra ujian. Tampaknya hal ini juga tidak terjadi pada fotokopi kopma saja, tetapi dua tempat fotokopi disekitar kampus pun turut terkena imbasnya; pesanan membludak.
Mengenai hal ini, Arum, mahasiswi Akuntansi 2009 menyatakan pendapatnya, “Memang sih, aku juga berpendapat sama. Tapi aku bukan tipe orang yang suka motokopi pas mepet ujian. Pokoknya begitu dosen ngasih modul, biasanya langsung aku copy, buat jaga-jaga saja.”
Putri terakhir dari tiga bersaudara tersebut juga menambahkan, “Aku juga pernah sih motokopi pas mepet-mepet ujian, tapi itu karena sebelumnya aku nggak masuk atau sakit, terus minjem catatan teman, hehehe.” Ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Dhita. Dara kelahiran tahun 1991 ini terkadang merasa iba ketika melihat bapak Amrozi dan Mbak Mur berjibaku dengan kertas dan mesin copy. “Kadang waktu istirahat pun mereka tinggalkan demi memenuhi pesanan mahasiswa. Saya merasa kasihan. Padahal, walau kata orang bapak Amrozi orang jutek, tapi sebenarnya dia baik, orangnya juga lucu, pinter ngelawak.” Lanjut pengurus kopma yang menjabat sebagai staf administrasi dan humas ini.
Dibalik perbuatan seseorang, entah itu baik atau buruk, pasti ada alasannya. Ketika ditanya mengenai alasan mahasiswa sering menunda kebutuhannya tersebut, Wenny, mahasiswi asal Kota Reog ini menjawab, “Menurutku itu hal yang cukup lumrah kok, soalnya beberapa dosenku nggak mewajibkan mahasiswanya untuk motokopi modul, dan modul tersebut juga nggak dipake ketika ngajar.”
Lain Wenny, lain pula Letisha. Mahasiswi Manajemen 2009 ini mengaku sering memotokopi saat mendekati ujian. “Masalahnya bukan aku malas atau apa, cuman biasanya kalau aku motokopi diawal, pas deket ujian modulnya udah jelek, kertasnya robek-robek, klipnya lepas, bikin malas belajar. Makanya aku suka diakhir aja. Hehehe. Selain itu, aku belajar dari catatanku sendiri.” Ujar mahasiswi yang ketika ditemui mengenakan jilbab pink dan bawahan putih ini.
Dari beberapa asumsi diatas, tampaknya tidak adil rasanya jika kebanyakan pelaku fenomena aneh ini dituding sebagai orang yang pemalas dan suka menunda pekerjaan. Banyak dari mereka yang justru punya alasan unik, seperti yang diutarakan Risma. Mahasiswi yang lahir 19 tahun silam ini selalu merasa tidak percaya diri pada catatannya dikelas. Ia selalu merasa ada yang kurang, sehingga memaksanya untuk meminjam catatan teman untuk difotocopy. Pilihan tempat fotokopi ternyata juga merupakan pertimbangan penting baginya, dimana ia hanya memotokopi catatan teman diluar fotokopi kopma. Walaupun sebenarnya fotokopi kopma judga tidak melarang adanya mahasiswa yang menduplikasi catatan.
“Kalau modul, jadwal ujian, dan naskah “legal” lainnya aku fotokopi di kopma, tapi khusus catatan teman, aku fotokopi diluar kopma. Soalnya menurutku itu hal yang kurang etis (fotokopi catatan) dilakukan, kita harusnya punya catatan sendiri. Tapi emang dasarnya aku nggak pede dengan catatanku, jadinya mau bagaimana lagi? Biasanya aku baru dapat catatan teman ya pas mendekati ujian.” Timpal Letisha. Ada raut wajah penyesalan yang tampak pada dirinya karena merasa melakukan hal yang tidak benar.
Arum, Dhita, Wenny, dan Letisha hanya segelintir mahasiswa yang punya alasan tersendiri mengapa mereka terlambat memotokopi. Selain mereka, tentunya masih banyak mahasiswa lain yang berperilaku serupa, dengan ribuan alasan yang mungkin berbeda. Meskipun demikian, kedua sosok bapak Amrozi dan Mbak Mur tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk para mahasiswa. Tak terlintas sedikitpun dibenak mereka rasa jenuh, jengah, dan muak terhadap mahasiswa atas perlakuan yang diterima. Kelak, sekecil apapun keberhasilan mahasiswa dalam ujian, semua itu tak luput dari tangan dingin bapak Amrozi dan Mbak Mur.[]
Comments
Post a Comment