Banjir di Lahan Miskin Perhatian
Oleh: Hemas Dea Suryanina, Herawati Shahnan, dan Muhammad Fauzan Al-Asyiq
Sudut itu hampir tak pernah sepi. Tiap hari, tidak kurang dari seribu motor selalu melewatinya. Namun demikian, hanya ada segelintir orang yang ditunjuk sebagai penjaga salah satu titik terpenting di kampus Fakultas Ekonomi UII tersebut. Salah seorangnya bernama Fajar. Tidak seperti biasanya, sore itu ia duduk sendiri tanpa rekannya yang lain. Tampaknya sebungkus rokok, sepasang kursi tua, dan sebuah meja lapuk sudah cukup menemaninya. Tepat dihadapan lelaki itu, ada lapangan seluas 40 X 25 meter. Didalamnya berjajar rapi ratusan motor yang menunggu kepulangan pemiliknya. Tempat itulah yang harus dijaga Fajar; parkiran motor mahasiswa FE UII. Ketika itu parkiran terlihat sepi dari kehadiran manusia, namun tetap tampak penuh sesak motor berjajar. Keadaan tersebut membuat Fajar memilih untuk berdiam diri. Melamun. Sambil duduk diatas meja, kakinya disilangkan. Ditangannya ada sepuntung rokok yang hampir habis dihisapnya. Ketika didatangi tim Sintaksis untuk diwawancarai, air mukanya seketika berubah ceria. Senyum ramah menggantung menghiasi wajah sendunya.
Pak Fajar. Begitu ia biasa disapa. Lelaki berumur sekitar 40 tahun itu adalah karyawan FE UII yang sudah cukup lama menggeluti pekerjaannya sebagai penjaga parkir motor mahasiswa. Tinggal setengah jam lagi ia harus berjaga. Tapi hal itu tidak membuat pak Fajar enggan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Dengan lincah ia mengambil sebatang rokok (lagi) dibalik sakunya sementara jemari tangan lainnya beradu untuk menyalakan korek api. Pak Fajar pun menghisap rokok djarumnya dengan nikmat. Tepat setelah ia mengepulkan asap pertamanya, ia mulai bertutur.
“Saya sudah sejak tahun 2001 bekerja disini, mbak, mas. Tepatnya bulan September.” Ujarnya sambil kembali menghisap benda yang membuatnya kecanduan sejak SMA itu.
“Di parkiran ini biasanya bekerja ditemani dengan rekan saya yang lain. Ada empat orang, Jana, Adi, Purwanto, dan Muhaini. Tapi kebetulan sore ini lagi giliran saya jaga.” Senyumnya kembali dikembangkan, tapi kali ini ia arahkan kepada mahasiswa yang lewat menyapanya.
Pak Fajar dan rekannya memang biasa seperti itu. Mereka selalu berusaha bersikap ramah pada mahasiswa. Kecuali dengan mahasiswa yang lempeng-lempeng saja kalo berjalan. Pak Fajar selalu berlaku santai. Mungkin itu alasannya kenapa banyak mahasiswa sering terlihat duduk-duduk menemaninya berjaga. Lucunya lagi kadang ada mahasiswa yang tidak malu meminta rokok sambil ngobrol dengan Pak Fajar ataupun dengan penjaga parkir yang lain.
“Pak, ada rokok? Sela seorang mahasiswa yang tiba-tiba datang ditengah wawancara.
“Iya ada ambil saja.” Timpal Pak Fajar. Keduanya mengobrol beberapa saat, kemudian si mahasiswa tersebut pergi dan melambai kepada Pak Fajar dari kejauhan.
Jam kerja pak Fajar sama dengan jam kerja karyawan penjaga parkir lainnya. Ia bekerja lima hari dalam seminggu. Dua hari bekerja penuh dan tiga hari bekerja berdasarkan shift. Tepat pukul 07.00 pagi, pria berambut semi ikal ini membuka pintu parkir. Pintu parkir ditutup setelah adzan maghrib berkumandang.
“Setiap hari kerja biasanya saya ngontrol kunci, ada yang ketinggalan atau tidak, mengatur kerapian motor. Kalau ada yang ditengah ya dipinggirkan.” Lanjutnya.
“Teman lain yang berjaga dipintu keluar, tugasnya mengecek mahasiswa yang mau keluar kampus dan harus menunjukkan STNK. Kalau lupa tidak membawa STNK, kami suruh mahasiswa untuk menunjukkan KTM (Kartu mahasiswa) dan menulis di buku absen. Ini untuk mengantisipasi hilangnya motor mahasiswa, tapi alhamdulillah beberapa tahun ini tidak ada kejadian seperti itu.” Jawab Pak Fajar ketika ditanya tugas sehari-harinya.
Pekerjaan merapikan motor ternyata bukan perkara mudah. Pak Fajar dan keempat rekannya setiap hari harus memindahkan dan merapikan puluhan motor yang parkir sembarangan di area seluas 1000 m2. Tugas mereka mungkin bertambah berat ketika langit memuntahkan airnya. Hujan yang datangnya tidak bisa diduga terkadang menyisakan genangan air yang cukup tinggi.
Mengenai hal tersebut, pak Fajar memberi tanggapan bahwa sebenarnya masalah hujan bisa diatasi. Disekitar daerah parkir motor FE UII telah dibangun beberapa sumur yang siap menampung air hujan, walaupun tidak dalam skala besar. Banjir yang juga sering menjadi kendala mahasiswa itu disebabkan sumur galian tersebut tidak mampu menahan guyuran hujan deras yang berdurasi lebih dari satu jam.
“Kalau hujannya deras, terus lebih dari satu jam, pasti banjir.” Ujar pak Fajar.
“Tapi kan sekarang jarang-jarang ada hujan selama itu. Kalau deras banget paling Cuma sebentar, atau lama nggak apa-apa asal Cuma gerimis.” Beliau melanjutkan.
***
Ketika ditemui di tempat dan waktu yang berbeda, Irfan, seorang mahasiswa pengendara motor Yamaha Vixion berplat AB 3712 EM, tidak terlalu ambil pusing dengan masalah di parkiran. Ternyata ia punya trik sendiri dalam memarkir motor hitam kesayangannya itu.
“Kalo banjir nggak terlalu masalah, soalnya saya biasanya parkir didekat pintu keluar. Disana permukaan tanahnya tinggi, jadi banjir nggak sampai situ. Keluarnya juga gampang.” Ungkapnya.
Pemuda 19 tahun ini jarang parkir disatu tempat secara terus menerus, kecuali tempat parkir langganannya kosong. Ia mengaku, dulu pernah muter-muter lima menitan sebelum menemukan parkiran kosong. Lulu dan Fitri malah memberikan respon kontradiktif dengan Irfan mengenai masalah parkiran. Kedua mahasiswi Akuntansi 2010 ini dengan kompak mengatakan bahwa tempat parkirnya kurang nyaman.
“Motor-motornya nggak rapi, terus tampatnya kurang luas.” Aku Lulu agak ragu.
“Terus kalau hujan parkirannya juga sering banjir.” Tambah Fitri menyetujui pengakuan sahabatnya.
Senada dengan pengakuan Lulu dan Fitri, Denissa, mahasiswi pengguna Honda Beat putih ini menyatakan keluhannya perihal keadaan tempat parkir.
“Kan motor saya tipe matic, jadi kalau hujan airnya masuk ke mesin. Soalnya ceper.” Tuturnya dengan wajah yang agak ditekuk, layaknya orang yang sedang kesal. “Apalagi saya sering pakai rok ke kampus, basah deh jadinya kalau parkiran banjir. Nggak mungkin dong saya singkap roknya, hehehe.” Seloroh Denissa.
Di pojok dan terbelakang, mungkin inilah gambaran umum sebuah parkiran. Dipandang sebelah mata, bisa jadi. Banjir, sesak, dan tidak rapi, demikianlah yang dapat ditangkap dari pandangan mahasiswa mengenai tempat yang menjadi ‘kandang‘ bagi berbagai jenis motor yang jumlahnya mencapai ribuan setiap harinya. Terutama saat hujan, genangan keruh air hujan bisa sampai melewati mata kaki, bahkan lutut. Tidak adil memang bila mahasiswa hanya menyalahkan pihak fakultas tentang ketidaknyamanan ini. Mahasiswa pun punya andil. Pak Fajar beserta rekannya tentu kecewa terhadap mahasiswa yang meletakkan motor dengan semaunya. Tergesa-gesa dan masih dengan alasan yang klasik; kelas sudah dimulai, atau takut terlambat ketika ada ujian.
Bagaimana dengan pihak fakultas? Tentu saja mereka yang harus lebih peka dengan hal ini. Setiap tahun jumlah mahasiswa selalu bertambah. Sebuah data dari www.fecon.uii.ac.id menyatakan, tahun 2009 jumlah mahasiswa baru FE UII mencapai kisaran seribu orang, dan tahun 2010 ini jumlahnya mencapai lebih dari angka seribu dua ratus. Jika dibandingkan dengan mahasiswa yang lulus tiap tahunnya, maka jumlah mahasiswa baru sangat jauh melampauinya. Jangankan penambahan, perbaikan fasilitas pun sangat jarang dilakukan untuk mengikuti bertambahnya jumlah mahasiswa. Tempat parkir apalagi, keadaannya tetap begitu dan begitu. Hanya terlihat beberapa pembenahan kecil disana-sini.
Belum lama ini juga pernah ada desas desus mengenai perluasan area parkir dengan pemugaran tanah kosong di samping masjid. Bisa dibilang hal ini bukan isu yang baru lagi. Namun sama sekali tidak ada realisasinya sampai sekarang. Agaknya terjadi saling tarik menarik antara isu perluasan area parkir dengan isu dipindahkannya Fakultas Ekonomi ke kampus pusat. Tampak sekilas bahwa isu perpindahan kampus menjadi pertimbangan besar mengapa perluasan area parkir tetap menjadi isu. Mubadzir, mungkin itu pikiran para pengambil kebijakan.
Benang merah inti dari permasalahan diatas mungkin adalah kurang adanya transparansi informasi yang beredar di lingkungan civitas akademika FE UII. Disatu sisi, pihak fakultas termakan isu-isu tidak bertanggungjawab tentang pemindahan kampus FE ke kampus terpadu yang hingga sekarang indikasinya pun belum ada. Hal ini terkadang dijadikan dalih minimnya pembenahan fasilitas penunjang kegiatan mahasiswa di kampus antara ini. Akhirnya, realita tersebut berujung pada lambatnya pengambilan keputusan pihak fakultas. Disisi lain, mahasiswa kian menuntut haknya. Percuma uang SPP persemester hingga 4 jutaan namun parkir motor saja nggak kebagian tempat, demikian keluhan segelintir mahasiswa perihal tempat parkir mahasiswa FE. Siapa yang paling susah? Yang paling susah justru karyawan –dalam kasus ini, penjaga parkir. Mereka hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat banyak menyaksikan tarik ulur tali egoisme masing-masing kubu. Tak jarang mereka menerima cemoohan mahasiswa tentang fasilitas parkir.
Pak Fajar mengelus dada ketika berusaha mencari lebih dalam akar permasalahan yang tak ada pangkalnya itu. Tampaknya lelaki itu tak mau ambil pusing memikirkan ranah yang bukan wewenangnya. Tapi, bukan berarti ia tak punya harapan. Tugasnya kini kian berat. Ia berharap, mahasiswa dapat memarkir motornya dengan rapi, jika tak ingin terlambat maka datanglah 15 menit sebelum jam masuk. Selain itu, tunjukkan STNK sebelum keluar, jika tidak bawa, perlihatkan KTM dan tulis identitas dibuku yang sudah disediakan. Jangan langsung kabur, walaupun merasa sudah kenal dengan penjaga. Kondisi parkiran yang sudah seperti ini hendaknya jangan diperparah dengan hilangnya motor mahasiswa. Paling tidak, itulah guna kenapa STNK harus ditunjukkan. Beberapa harapan diatas mungkin dianggap sepele dimata mahasiswa, tapi bagi mereka itu bisa sangat membantu. Setidaknya, hanya itulah yang bisa mahasiswa lakukan untuk Pak Fajar dan rekannya yang sudah hampir 10 tahun mendedikasikan hidupnya demi menjaga keamanan motor mahasiswa FE UII.[]
Comments
Post a Comment