Sekelumit Opini tentang Media Dakwah (Part 2)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Landasan kedua adalah dasar psikologis. Pada waktu menyusun desain untuk media, tujuan dan sasaran media harus dirumuskan dengan jelas terlebih dahulu. ini berguna untuk mengantisipasi psikologis sasaran media yang berbeda-beda, dengan demikian mereka akan menangkap pesan dengan tanggapan yang berbeda pula. Jika sudah demikian, akan terjadi disordered massive interpretation. Sebuah kesalahan interpretasi secara masal, yang mana hal ini justru akan mengaburkan pesan sebenarnya dari media tadi.
Landasan kedua adalah dasar psikologis. Pada waktu menyusun desain untuk media, tujuan dan sasaran media harus dirumuskan dengan jelas terlebih dahulu. ini berguna untuk mengantisipasi psikologis sasaran media yang berbeda-beda, dengan demikian mereka akan menangkap pesan dengan tanggapan yang berbeda pula. Jika sudah demikian, akan terjadi disordered massive interpretation. Sebuah kesalahan interpretasi secara masal, yang mana hal ini justru akan mengaburkan pesan sebenarnya dari media tadi.
Tulisan ini tidak akan membahas mengenai seluruh media dari ketiga macam dakwah diatas, melainkan hanya salah satunya saja, yaitu media dakwah bil kitabah. Nah, mengapa penulis memilih membahas media tersebut? Pertama, adanya relevansi antara Sintaksis dengan metode dakwah bil kitabah. Kedua, potensi berdakwah dengan tulisan saat ini tidak hanya terletak pada pena-pena tua yang hampir kehabisan tinta, tapi juga pada generasi muda yang kian lihai memainkan jarinya diatas keyboard. Ketiga, karena penulis adalah mahasiswa, dan mahasiswa itu identik dengan aktivitas menulis.
Media tulis mempunyai beberapa kelebihan dibanding media lainnya. Salah satunya adalah media tulis mempunyai tingkat proximity (kedekatan) yang lebih besar dibanding media elektronik. Hal ini dikarenakan pengontrolan media sepenuhnya terletak pada konsumen. Sebagai contoh, orang kerap menyimpan majalah agar informasi yang ia temukan dapat dibaca ulang kapanpun ia mau. Berbeda dengan televisi yang tidak bisa diatur sesuka hati, melainkan harus sesuai dengan ketentuan operator channel TV.
Kelebihan lainnya, saat ini mahasiswa merupakan makhluk yang mempunyai segudang aktivitas harian. Tak jarang aktivitas satu dan lainnya bertabrakan. Tidak sedikit pula yang terbengkalai. Jika sudah demikian, kita dituntut untuk mempunyai prioritas. Kebutuhan sehari-hari seperti makan, mandi, dan istirahat pun dipangkas. Namun, kita kadang lupa akan satu kebutuhan penting lainnya, yaitu suplemen ruhani kita. Sintaksis tampaknya berusaha menjawab itu semua. Dimana dakwah Islam yang menggunakan media tulis tidak menuntut kehadiran objek dakwah pada satu waktu dan tempat tertentu, seperti yang disyaratkan oleh ceramah maupun khutbah.
Berbicara mengenai media Islam, ada satu hal yang menjentik pikiran penulis. Dewasa ini—bahkan sejak dulu—Islam terus dikesankan sebagai ajaran yang suka kekerasan, peperangan, dan penyimpangan. Opini ini mutlak diperkuat oleh media-media massa barat secara kolektif. Mereka sering disebut sebagai eksekutor konspirasi Islamphobia. Sementara itu, media-media Islam tentu saja gencar mereaksi propaganda barat yang terus menyudutkan Islam. Tetapi kendalanya adalah tidak adanya koordinasi yang baik antar media Islam dalam merespon gerakan propaganda tersebut. Pada saat yang sama, media-media anti Islam terus memojokkan Islam. Media elektronik dinilai sebagai media yang paling sering digunakan pihak anti Islam dalam melakukan propaganda. Berita-berita miring tentang Islam kerap muncul di TV, radio, bahkan internet. Hampir bisa dipastikan, berita-berita di TV selalu mengandung unsur kepentingan sebuah pihak. Tidak lagi transparan. Tak lain karena media tersebut paling mudah dimanipulasi, mempunyai jangkauan yang luas, serta berdampak besar bagi perspektif masyarakat, terutama di Indonesia. Ironisnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang lebih suka menonton ketimbang membaca.
Sepertinya sulit bagi muslim awam di negeri ini untuk mendapatkan pemahaman tentang Islam yang benar dari media. Bagi para ahli ilmu komunikasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa media massa selalu menunjukkan keberpihakan maupun kontra terhadap opini tertentu. Media selalu memiliki kepentingan, yang itu selalu tertuang pada sudut pandang pemberitaan mereka. Termasuk sikap pro dan kontra terhadap sebuah isu, terutama yang berhubungan dengan agama. Sehingga satu-satunya ikhtiar yang bisa kita lakukan adalah mengambil pena dan kertas, atau mengetikkan sesuatu yang bisa mengubah fenomena ini. Kembali lagi penulis tekankan, dampak sebuah tulisan mampu melebihi media lainnya. Sebuah karya tulis bisa menjelma menjadi senjata pemusnah massal bagi virus-virus pemikiran sesat para orientalis. Seperti doa yang selalu dipanjatkan sahabat jurnalis kenalan, “Ya Allah berikan penulis kemampuan untuk membuat tulisan-tulisan yang mampu menggetarkan hati orang-orang kafir...”.

Comments
Post a Comment