Sejenak Bersama Seorang Penasehat Kepresidenan

Oleh: Fauzan Al-Asyiq

Russy (20), seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran UII, terlihat sedang memperagakan cara menjahit luka pada sebuah tangan palsu. Rekannya, Jeem (20) turut membantu menerangkan pada para siswa SMA yang sedang menyaksikan keahlian Russy memainkan jarum dan benang. Disudut lain, Sastro (21) tak kalah sibuk. Ia dengan semangat membagikan lembaran informasi fakultas kepada orang yang lewat. Suasana seperti itu tampak tidak asing terlihat di ruang Assembly Hall, gedung Jakarta Convention Center (JCC). Tak lain adalah karena saat itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia sedang mengadakan acara Education & Training Expo 2011. Acara kali ini diklaim sebagai expo terbesar selama kurun waktu 20 tahun terakhir. 

Dalam acara yang mendatangkan siswa dari 180 SMA di Jabodetabek tersebut, tak kurang dari 120 lembaga pendidikan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri turut serta. UII, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terbaik di Yogyakarta pun tak mau ketinggalan. Dengan mengirimkan sebuah tim beranggotakan 8 orang, UII diharapkan mampu melebarkan pasarnya hingga daerah ibukota.Expo itu diadakan selama 4 hari, terhitung mulai 3 Februari 2011. Tiap harinya, hampir 300 siswa mengunjungi stand berukuran 5 X 4 meter yang disewa UII. Menurut Sigit Pamungkas (25), dosen yang juga merangkap sebagai ketua tim, ukuran tersebut terbilang masih sangat kurang bagi universitas sekelas UII. Padahal stand milik UI (Universitas Indonesia) saja berukuran 8X stand UII. Imbasnya, mobilitas tim terhambat, dan tidak setiap fakultas bisa mengirimkan mahasiswanya. 

Menanggapi hal ini, Pak Awan selaku Ketua Divisi Promosi Universitas menyatakan, “Ini hanya masalah waktu. Untuk tahun ini kita memang masih mengikuti konsep Expo tahun lalu. Hanya ada improvisasi interior sedikit. Kita lihat animo siswa yang datang. Jika meningkat, maka kemungkinan tahun depan kita akan menyewa 4 stand langsung, dan mendatangkan mahasiswa dari setiap fakultas.” Tandasnya. 

Mengenai masalah biaya, Bu Neni, selaku Pembantu Rektor III yang menyempatkan diri berkunjung ke lokasi menambahkan, “Perhitungan lainnya, sewa stand di JCC memang sangat mahal, untuk menyewa 1 stand seperti sekarang saja menghabiskan Rp2.500.000,- perhari. Empat hari berarti sudah Rp10.000.000,- dan itu belum termasuk jasa kontraktor untuk interior stand. Kalau kasusnya seperti UI, mereka pasti dapat subsidi dari pemerintah sehingga bisa menyewa 8 stand sekaligus.” Ujarnya tegas. 

Tamu yang datang pun tidak hanya sekadar siswa SMA saja. Beberapa alumni UII juga menyempatkan hadir. Salah satunya adalah bernama Agus Abdul Djalil. Namanya mungkin agak asing ditelinga orang awam. Tapi tidak ditelinga para pemangku amanah kenegaraan. Tak pelak karena ia adalah seorang konsultan kepresidenan dibidang ketatanegaraan. 

“Saya mulai jadi konsultan semenjak SBY pertama kali jadi presiden, sekitar tahun 2004. Sebelumnya saya cuma jadi pengamat politik dan konsultan hukum saja.” Tuturnya mengawali pembicaraan. 

Kakek berusia 70 tahunan ini juga menambahkan, “Alhamdulillah, ilmu hukum yang jadi modal saya ini didapatkan dari Fakultas Hukum STI (UII). Saya alumni tahun 60an. Saudara pasti belum pada lahir, hahaha.” Candanya. 

Ketika ditanya kejadian apa yang paling berkesan di UII, beliau menjawab sambil tersenyum, “Dulu itu ada seorang rektor, saya lupa siapa namanya, yang sering didemo oleh kita mahasiswa. Penyebabnya bukan karena masalah sistem kampus atau apa, tapi hanya karena jika berpergian, ia menggunakan sepeda ontelnya yang sudah butut, padahal kampus sudah memfasilitasinya dengan mobil ketika itu. Tapi ia menolak. Kita sebagai mahasiswa merasa malu karena rektor universitas lain sudah bermobil, sementara rektor kita, kemana-mana ngontel.” Paparnya sembari tertawa kecil. 

“Tapi kesederhanaan dan keteladanannya patut ditiru.” Ia mengakhiri ceritanya dengan sebuah nasehat. 

Usianya memang sudah tak muda lagi. Rambutnya memutih, beberapa bagian kepalanya bahkan sudah tak berambut. Matanya sayu, terlihat lingkar abu-abu disekeliling bola matanya, menandakan minus yang sudah parah. Tapi semangatnya tak lekang hanya karena kekurangan fisik tadi. Cara berjalannya masih tegap dan bicaranya sistematis, jelas, dan lancar. 

Ia datang bersama istri dan anaknya. Lucunya, mereka bertiga lebih tampak seperti cucu dengan kedua kakek neneknya. Putri semata wayang seorang Agus abdul Djalil ternyata masih duduk dibangku SMP. Namun begitu, prestasinya segudang. Salah satunya ia telah menjuarai lomba bahasa inggris seJawa Barat. Sayangnya, kondisinya sekarang agak mengkhawatirkan. Menurut ayahnya, ia sedang mengalami stress berat. 

“Ini anak saya, masih SMP. Alhamdulillah sudah banyak berprestasi. Tapi kondisinya sekarang sedang stress. Terlalu banyak belajar sepertinya.” Papar Agus Abdul Djalil. 

Tidak terasa, setengah jam pun berlalu. Mengobrol bersama seorang penasehat kepresidenan memang menyenangkan, namun juga memeras otak. Banyak cerita dan petuah yang ia berikan pada generasi muda, khususnya mahasiswa UII. Salah satu yang terpenting adalah agar mahasiswa merasa bangga memiliki almamater UII, karena UII telah lebih dulu melahirkan generasi pemimpin yang berkiprah tinggi, sebelum universitas lainnya. 

“Terakhir, nanti kalian bisa add facebook saya yah, namanya Agus Abdul Djalil. Kita bisa ngobrol banyak disana. Terimakasih souvenirnya! Wassalamu’alaikum!” serunya sembari pergi meninggalkan stand UII. Agaknya kerinduan seorang Agus Abdul Djalil dengan universitas yang telah membesarkan namanya itu telah terobati. Walau hanya sejenak mengobrol dengan mahasiswa sealmamater yang usianya 50 tahun lebih muda.[] 

Comments

Popular posts from this blog

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Menuju World Class University

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)