Dominasi Teknologi sebagai Aspek Budaya
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Perubahan dinamis dan arus globalisasi agaknya mulai menyebabkan masyarakat Indonesia yang dulunya memiliki beragam kebudayaan kini kurang memiliki kesadaran akan pentingnya memper-tahankan budaya lokal demi memperkokoh identitas dan nilai budaya bangsa. Menurut Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat.
Perubahan dinamis dan arus globalisasi agaknya mulai menyebabkan masyarakat Indonesia yang dulunya memiliki beragam kebudayaan kini kurang memiliki kesadaran akan pentingnya memper-tahankan budaya lokal demi memperkokoh identitas dan nilai budaya bangsa. Menurut Soekanto (1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat.
Perubahan sosial yang kini banyak ditemukan di masyarakat tidak lain adalah bagian dari perubahan budaya. Dimana masyarakat mulai belajar menerima cara-cara baru yang diinjeksikan oleh bangsa luar sebagai produsen barang yang banyak dikonsumsi masyarakat saat ini. Ambil contoh Research in Motion (RIM) sebagai produsen Blackberry telah menyuguhkan cara baru untuk berkomunikasi jarak jauh dengan Blackberry Messangernya. Bagi masyarakat, hal ini praktis menjadi alternatif yang sangat efisien—mengingat aktivitas yang semakin menumpuk, serta menuntut waktu lebih. Demikian pula dengan peran jejaring sosial yang sekarang menggantikan budaya tulis menulis surat, saling mengunjungi, atau silaturrahmi.
Semua itu tidak lepas dari perkembangan teknologi—yang merupakan salah satu aspek budaya juga. Teknologi, secara kasar dapat diartikan sebagai sesuatu yang mempermudah manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Ironisnya, perkembangan teknologi yang diadopsi Indonesia dari bangsa asing agaknya bertolak belakang dengan budaya lokal. Komunikasi dan sarana informasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Mengubah masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, serta nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma sosial.
Fenomena ini hampir terlihat diseluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Apalagi mahasiswa berperan banyak dalam penggunaan teknologi demi mempermudah proses pembelajaran mereka. Tapi pada kenyataannya, teknologi memang sangat membantu mahasiswa dalam berprestasi. Akan tetapi seperti pedang bermata dua, teknologi pula yang lambat laun mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka cenderung ke arah yang negatif. Seperti plagiarisme, kemudahan googling artikel, dan academic crime lainnya.
Padahal, sebagai institusi Islam yang merupakan bagian dari budaya Indonesia, UII telah membekali mahasiswanya dengan norma dan nilai-nilai agama yang kuat. Mahasiswa sebagai intelektual muda, mestinya harus mempunyai kesadaran kultural sehingga keberlanjutan identitas bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Teknologi memang salah satu aspek budaya, namun ia bukan segalanya. Teknologi boleh saja membantu mempermudah aktivitas manusia, namun jangan sampai menciptakan ketergantungan. Budaya yang baik adalah budaya yang menjunjung tinggi aspek sosial dan kemaslahatan bersama. Seperti budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kemanusiaan, seperti itulah budaya Islam sebagai agama yang universal dan rahmatan lil ‘alamin.[]
Comments
Post a Comment