Investasi untuk Sebuah Regenerasi

Oleh: Fauzan Al-Asyiq 

Siang itu, Ia tampak sedikit gelisah. Matahari sudah sedikit condong ke barat, tak lagi memamerkan teriknya pada manusia. Matanya tak pernah lepas dari satuan angka yang menunjukkan waktu di telepon selulernya. Ia berharap, Musyawarah Besar LDF JAM yang saat itu sedang diikutinya akan segera berakhir, dengan begitu ia masih punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada kamarnya, karena malam-malamnya kini tak bisa ia habiskan disana. Maklum, kini setiap sore ia harus bertolak menuju kaki Merapi demi menunaikan kewajiban akademik bertajuk KKN yang dijalaninya saat itu. Datang sore, pulang pagi, begitulah ritme hidup yang harus ditempuhnya selama hampir 45 hari. 

Agaknya, bagi perempuan bernama lengkap Hemas Dea Suryanina ini, kegiatan sosial tersebut sedikit memberatkan. Pasalnya, gadis yang pada 6 April silam ini genap berusia 20 tahun mengaku, belum bisa mengatur waktu dan kegiatannya dengan baik. 

“Aku emang masih kurang dalam mengatur waktu. Masih sering menunda pekerjaan juga. Akibatnya jadi menumpuk. Kalau sudah begitu, tercecerlah semua jadwal dan aktifitasku.” Ungkapnya dengan wajah malu. Perasaannya berkecamuk karena (mungkin) merasa bersalah telah mengabaikan tugas menulis yang dibebankan seorang redaksi senior kepadanya. 

Memanage waktu dengan baik memang bukan perkara mudah. Setiap manusia didunia ini diberi Allah waktu yang sama, yaitu sebanyak 24 jam setiap harinya. Namun, dari waktu singkat itu, hasil yang dicapai tiap manusia bisa saja berbeda. Beberapa mampu berbuat lebih, tapi tak sedikit pula yang tidak menghasilkan. Maka, dalam hal ini sepantasnyalah manusia kembali merenungi sebuah pepatah Arab, “Al-Waqtu kas saifi, in lam taqto’hu qoto’aka.” Waktu ibarat pedang, jika kau tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, ia akan menebasmu. 

Mengenai kegiatan menulis, perempuan yang akrab disapa Nina ini berujar bahwa menulis merupakan aset penting yang harus dimiliki seorang mahasiswa. Kemampuan menulis tidak begitu saja berkembang dengan penugasan yang sifatnya bebas dikelas-kelas formal, akan tetapi melalui praktek yang berkelanjutan. Hemas menambahkan, sebenarnya dirinya gemar akan menulis. Ia suka menulis tulisan-tulisan kecil melalui notepad dilaptopnya, meski tanpa kaidah dan metode penulisan yang sesungguhnya. Ia yakin suatu saat kebiasaan tersebut akan membantunya dalam belajar menulis. 

Sambil memainkan tangan diatas botol minumnya, Hemas kembali bertutur, “Biasanya kecepatan menulisku juga tergantung teman-teman. Aku sering SMS teman untuk menanyakan tugas tulisan. Seringnya ke Siwi. Kalau dia jawab belum selesai, ya aku bakal santai mengerjakannya. Malah kita sering mengeluh bareng kalau sudah dekat deadline. Mungkin kalau Siwi jawab sudah, aku juga bakal cepet, hehehe.” 

Kendala lainnya, gadis penyuka warna pink ini menimpali bahwa dirinya juga sangat kurang membaca, khususnya mengenai artikel atau sumber-sumber terkait sesuatu yang harus ditulisnya. Ia lebih suka mengobrol bersama teman-teman. Menghabiskan waktu dengan membicarakan hal yang menurutnya menarik. Bagi Hemas, mengobrol juga dapat menimbulkan dampak positif. Diantaranya ketika yang diobrolkan mengenai topik serius, bukan gosip. Ia mengaku lebih suka mengobrol ketimbang membaca. 

Padahal, membaca pun tak kalah pentingnya dengan menulis. Membaca merupakan proses input informasi ke dalam otak manusia. Sementara menulis merupakan input sekaligus output informasi yang manusia terima. Sebagai contoh, saat seorang mahasiswa mencatat ilmu yang diberikan oleh dosen, maka itulah yang disebut sebagai input. Sementara ketika mahasiswa menuliskan jawaban ujian diatas selembar kertas, maka itulah output pikiran kita. Keduanya jelas saling berkesinambungan, apalagi jika disangkutpautkan dengan status mahasiswa yang kita sandang. 

Namun, agaknya Hemas bukan pribadi yang mudah menyerah dan pasrah terhadap keadaan. Jauh dari lubuk hatinya ia ingin berubah menjadi lebih baik. Ia merasa bersyukur, banyak teman yang memotivasi dan mengapresiasi dirinya, khususnya dalam latihan menulis yang ia jalani saat ini. Rasa penasaran dan keingintahuan tentang ilmu kepenulisan telah mengantarkan mahasiswi Akuntansi 2008 ini memasuki dunia jurnalistik, sebuah ranah yang nadir terjamah olehnya. Terbukti, meski baru bergabung dalam sebuah klub kepenulisan, karyanya sudah banyak menghiasi tautan notes disebuah jejaring sosial. Bahkan, puluhan orang memuji tulisan perdananya yang bertema Wisuda di Tengah Kemelut Merapi. 

Gadis asal Batang ini sebenarnya telah memiliki modal utama bagi siapa saja yang ingin berkembang. Kemauan dan sikap pantang menyerah. Kemauan menuntun kita berjalan menuju apa yang kita inginkan. Sementara sikap pantang menyerah menjadi benteng disetiap keadaan yang menimpa kita. Kondisi atau keadaan lingkungan manusia memang sesuatu yang diluar kontrol manusia itu sendiri. Lingkungan bisa sedemikian membentuk manusia menjadi sangat keras bagai batu karang, atau sangat rapuh seperti kayu lapuk. 

Diakhir pembicaraan, Hemas menutup wawancara dengan memberikan masukan bagi jalannya latihan kepenulisan yang ia jalani. “Kalau aku boleh usul sih, sekali-sekali latihan menulis kita adakan di tempat terbuka, diluar kampus misalnya. Bosan kalau dikampus terus. Lagipula, diluar lebih mudah untuk mendapat inspirasi dari kejadian-kejadian disekitar kita. Soalnya aku suka jalan-jalan.” Ungkapnya tersenyum. 

Beberapa saat kemudian, Hemas pamit dan segera meninggalkan tempat untuk bergegas menunaikan shalat Ashar. Dari belakang, langkahnya terlihat lebih mantap. Saya optimis sekaligus berharap bahwa gadis ini akan mulai menyadari, bahwa latihan kepenulisan yang ia jalani sekarang bukan hanya diberikan untuk saya, dia, dan rekan yang lain. Latihan menulis ini tidak lain adalah sebuah investasi berharga yang ditanamkan seorang senior bagi juniornya. Dengan harapan, ketika kelak sang senior sudah tak lagi bisa menularkan ilmunya, atau bahkan tak bisa ditemui lagi, kami ada disini untuk menggantikannya. Sehingga, regenerasi penulis yang senantiasa menebarkan dakwah di kampus FE melalui jemarinya takkan lekang dimakan sang waktu.[] 









Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)