Atas Nama Seni
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Suasana malam yang sesekali diiringi hujan tampaknya tidak mengurangi niat orang untuk mengunjungi acara tersebut. Demikian pula dengan kami bertiga, dengan sepasang motor, berangkat menerobos padatnya arus lalu malam Minggu di Yogyakarta. Kalau boleh berterus terang, sebenarnya tidak ada yang menjanjikan dari acara itu. Acara yang bertajuk Festival Seni Islami itu tidak menghadirkan goresan kaligrafi Ahmad Nuril, lukisan Pak Tinosidin, apalagi buah tangan Pablo Picasso. Tapi entah mengapa, hati saya terpanggil untuk datang melihat. Mungkin karena ingin merasakan nostalgia ketika tangan ini masih sering berkutat dengan kuas, cat, kaleng bekas, dan menorehkannya diatas kanvas atau triplek.
Memasuki gerbang festival, suasana dingin mencekam tiba-tiba menyeruak. Andai saja tidak ada acara tersebut, lokasi Jogja Nasional Museum itu sangat cocok untuk syuting ‘dunia lain’. Jalan becek yang tidak rata, arsitektur kuno, penerangan yang minim, serta kumpulan pepohonan rimbun dengan akar gantung menjuntai, seolah menambah kesan angker disana. Untungnya, kesan tersebut segera lenyap sesaat setelah sambutan hangat panitia terdengar.
Setelah menuliskan nama dibuku tamu, kami segera naik ke lantai dua untuk melihat-lihat pajangan karya seni mahasiswa ISI Yogyakarta. Memasuki ruangan pertama, ada sekitar 4 karya terpampang. Salah satunya mempunyai konsep berupa kumpulan lipatan kertas berbentuk bangau yang sebagian digantung dilangit-langit ruangan, sebagian lagi dikurung disebuah kurungan kayu. Bangau diluar kurungan berwarna putih dengan berbagai ukuran, sementara bangau didalam kurungan berwarna-warni, dengan ukuran yang sama. Inilah Manusia. Demikian judul yang tertulis disecarik kertas kecil yang tertempel didekatnya.
Menafsirkan dan menginterpretasikan sebuah karya seni memang menimbulkan keasyikan tersendiri. Setiap orang mungkin saja punya interpretasi yang berbeda. Tergantung imajinasi individual. Tidak ada yang salah, semua bisa saja benar. Diruang itu pula lah, saya bertemu dengan seorang rekan sekaligus panitia Festival tersebut. Entah bagaimana awalnya, kami bisa begitu saja kenal, dan ini merupakan pertemuan kedua kami.
Rekan saya itu biasa dipanggil Anjar, mahasiswa ISI jurusan Desain Komunikasi Visual. Mungkin karena sama-sama berlatarbelakang seni, pembicaraan kami mengalir begitu saja. Anjar banyak bercerita mengenai kehidupan seniman dikampusnya. Dengan logat Jawanya yang khas, ia mulai bertutur.
“Mahasiswa di ISI terdiri dari 2 macam. Satunya mahasiswa murni, maksudnya mahasiswa yang menekuni jurusan seni-seni dasar seperti seni lukis, seni musik, seni teater, seni gambar, dan sebagainya. Satu lagi mahasiswa seperti saya, disebut seni kontemporer seperti desain grafis, fotografi, komunikasi visual, dll.” Ujar lelaki asal Batang ini.
Sambil membetulkan letak syal batiknya, Anjar melanjutkan, “Untuk mahasiswa murni, biasanya setiap bulan mereka harus mengumpulkan tugas minimal 500 sketsa kepada dosen.”
Ketika ditanya mengenai aktifitas seniman beraliran muslim dan aliran konvensional dikampusnya, Pria 21 tahun ini mengaku tidak ada masalah. Semua berjalan secara harmonis, meski dua aliran tersebut tak jarang bertolak belakang.
Menurutnya, seni akan lebih indah jika dikemas secara islami. Seni tidak melulu harus mengeksploitasi tubuh wanita, kebebasan berekspresi yang berlebihan, dan idealisme individu yang kelewatan. Ia sangat menyayangkan teman-temannya yang memilih tugas akhir dengan tema nude modelling, yang ironisnya disetujui para dosen. Berbicara mengenai kebebasan berekspresi. Muda-mudi Indonesia masih salah kaprah mengartikannya. Seperti kasus yang terjadi dikampus FE, tentang teater yang dimainkan KOIN beberapa waktu silam. Teater yang beralmamater universitas Islam justru mengangkat kehidupan pelacur sebagai temanya. Mengumbar penampilan mahasiswi berbusana minim. Sontak, dunia pendidikan Yogyakarta terperangah.
Titi (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswi Manajemen FE UII bahkan mengaku sering melihat temannya di teater menenggak miras sesaaat sebelum tampil dipanggung. Menurut mereka aktivitas tersebut bisa menghilangkan ketegangan, rasa malu, dan grogi. Sehingga mereka bisa tampil all out. Alasannya klasik, atas nama seni dan profesionalisme.
Gadis berkulit gelap itu memang sekarang sudah tidak begitu aktif di teater. Ia menyesal, dan kini mulai kembali menata hidupnya dengan selektif memilih organisasi dan teman bergaul. Tindik dipangkal lidahnya juga sudah lama ia lepas.
“Menurutku seorang seniman itu wajar kalau tingkah laku dan penampilannya nyentrik, aneh, dan tampil beda. Soalnya ia punya pola pikir yang unik, yang nggak bisa disamain orang lain. Mungkin juga itu cara dia beraktualisasi.” Ungkapnya ketika ditanya tentang penampilan seorang artist.
Manusia, terutama remaja, memang membutuhkan wadah aktualisasi diri. Namun, kita harus mampu mencari wadah yang tepat, yang pas dengan apa yang kita tuju dimasa depan. Sebagai mahasiswa yang bernaung dibawah instansi Islam, kita selayaknya berpedoman pada nilai-nilai yang sudah diajarkan, apapun aktifitas yang kita kerjakan. Islam sebagai agama yang kaffah lagi sempurna telah memberikan batasan-batasan mu’amalah dan syakhsiyyah yang syumul.
Sebuah kaligrafi karya Ahmad Nuril yang bernilai Rp 1,2 milyar bertuliskan Innallaha Jamiilun yuhibbul jamaala. Sesungguhnya Allah itu Indah dan Ia menyukai keindahan. Mungkin, di dunia ini senilah yang menjadikan segala sesuatu menjadi indah. Demikian pula Allah telah mewariskan salah satu dari 99 nama-Nya untuk manusia, sifat menyukai keindahan (seni). Maka, tidak sepantasnya manusia berucap ‘atas nama seni’ untuk alasan kebebasan ekspresinya. Akan lebih bermanfaat jika ekspresi yang kita punya ditujukan untuk maslahat. Seperti Anjar misalnya, ia memilih untuk menekuni dunia desain, terutama desain produk, lantaran merasa kecewa dan prihatin melihat fenomena periklanan Indonesia saat ini yang penuh dengan materi eksploitasi tubuh wanita. Saya jadi teringat seorang rekan saat dulu masih berkutat dengan kesenian di pesantren. Ia biasa disapa Hafidz. Seperti seniman pada umumnya, penampilannya terkesan gembel dan apa adanya. Tidak ada kaos miliknya yang tidak bernodakan cat. Ia mampu terjaga semalaman jika sudah mengerjakan suatu karya. Badannya kurus, lantaran sering lupa makan. Karyanya hampir bisa ditemui diberbagai sudut pesantren Darussalam, menghiasi pagar, pintu, dinding. Satu karya akbarnya adalah sebuah kaligrafi raksasa berukuran 1,5 X 60 meter yang terpajang disebuah gedung. Tapi satu hal yang membuat saya menghormatinya sebagai seniman. Hanya ada satu hal didunia ini yang mampu menghentikan Hafidz sejenak dari hobinya itu. Suara adzan berkumandang.[]
Comments
Post a Comment