Review: Pacific Rim (2013)
Oleh: Fauzan Al-Asyiq
Well made script, passionally acted and crafted precisely with reasonable hi-tech in not too distant future environment. Del Torro once again made a great job. This movie is huge, massive, although the ending was predictable, but it still manages audiences to hold their breath in the last 30 minutes. And for the final conclusion: "Sometimes you just gotta accept that some people can only be in your heart, in your memories, not in your life."
Bagi saya pribadi, menonton Pacific Rim seperti menyaksikan kembali fantasi masa kecil saya—penuh imajinasi dan khayalan bahwa kartun seperti Patlabor, Gundam, dan monster dalam saga Ultraman suatu saat menjadi kenyataan—namun kali ini, dengan visualisasi brilian dan cerita yang logis bagi penonton dewasa.
Alur film ini maju, dengan pace yang cepat. Diawali dengan kedatangan Kaiju, istilah Jepang untuk beast (Inggris, red) yang dapat diartikan sebagai makhluk raksasa yang buas, dengan kata lain; monster, melalui portal dimensi lain yang terletak di laut Pasific. Ukuran Kaiju yang bagaikan gedung pencakar langit membuat pihak militer kewalahan, belum lagi seiring berjalannya waktu, jumlah Kaiju yang datang semakin banyak, semakin cerdas, dan semakin besar.
Untuk mengantisipasi apocalypse, didirikan sebuah proyek yang disebut ‘Jaeger Project’. Jaeger sendiri berarti mesin pemburu atau Hunter dalam bahasa Inggris. Diciptakan untuk membunuh para Kaiju guna menyelamatkan umat manusia. Mampukah para Jaeger yang dikendalikan oleh 2 orang manusia ini mencegah kehancuran dunia?
Premise yang umum dan predictable memang, namun Sang Sutradara, Guillermo Del Torro berhasil membawanya ke arah yang jauh dari kesan picisan. Film ini epik, menggelegar, dan menyentuh. Semua scene sangat efektif dan berkesinambungan, sehingga minim sekali ditemukan plot hole di film yang berdurasi 131 menit ini.
Budget film yang hampir senilai $200 juta ini berhasil dialokasikan dengan baik oleh sutradara yang angkat nama lewat Hellboy (2004) dan Hellboy II (2006). Tim visual efek pun patut diberi apresiasi dalam menampilkan detail kostum, rangkaian mesin, bahkan tekstur kulit Kaiju terlihat sangat nyata. Sekali lagi, film ini merupakan eyegasm bagi pecinta sci-fi, sekaligus tribute bagi masa kanak-kanak di era 90an.
Nilai plus film ini adalah, meski mengetengahkan cerita robot vs mosnter, unsur-unsur lain seperti drama keluarga, konflik batin, dan pengorbanan tak lupa diselipkan. Jangan bandingkan dengan saga Transformers (2007-2011) yang menjual efek semata dengan naskah cemen, Pacific Rim tampil jauh lebih berbobot dan bergizi.
My verdict: 9/10

Comments
Post a Comment