Mengenal Seorang Agung Baskoro

 Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq


“Kita menulis untuk mengubah peradaban.” Demikian pernyataan seorang Agung Baskoro diakhir pertemuannya dengan kami. Saya tentu tak akan begitu saja percaya kata-kata tersebut andai bukan ia yang bicara. Agung Baskoro bukan siapa-siapa sampai penghujung tahun 2004. Ia hanya seorang pria perantauan asal Medan yang mencoba menjawab takdir di Yogyakarta. Gagal diterima sebagai mahasiswa dikotanya membuatnya berani kabur dari rumah, dengan modal seadanya, nekad mengadu nasib.

Dilihat sekilas, Agung Baskoro tampak seperti seorang mahasiswa kutu buku biasa. Ketika menemui kami disuatu sudut kampus FE UII, pria berkacamata itu mengenakan atasan hem biru kotak-kotak yang dibalut jaket—suasana pagi itu memang cukup dingin—dengan bawahan celana bahan biru dongker. Rambutnya yang klimis sederhana semakin menambahkan kesan ‘pria lugu dan innocent’ pada dirinya, namun setelah berkisah, siapapun tidak akan menyangka bahwa dibalik penampilannya tersebut, Agung Baskoro merupakan salah satu pemuda multitalenta yang sangat jarang ditemui, bahkan dalam waktu 20 tahun terakhir ini.




“Luangkan waktumu, dan rencanakan apa yang ingin kamu dapatkan.” Itulah prinsipnya ketika pertama kali menginjakkan kaki dikota Jogja. Agung tampaknya serius saat mengatakan bahwa ia ingin kuliah tanpa membebani sang Ibu. Hasilnya, ia meraih beasiswa Tanoto Foundation untuk kuliahnya di Jurusan Ilmu Sosial dan Politik UGM, sekaligus beasiswa biaya hidup dan tempat tinggal disebuah asrama kalangan akademisi bernama PPSDMS. Keduanya telah ia rencanakan sejak setahun sebelumnya. 

Peraihannya yang gemilang ini tidak lepas dari sosok keluarga yang selalu memotivasinya. Terutama sang ibu sebagai single fighter. Semenjak ditinggal sang suami, ibunya bekerja ke Jakarta demi menghidupi dua anaknya. Keadaan inilah yang membuat Agung merasa harus berbuat yang terbaik bagi sang Ibu. Beruntung, ia menginjakkan kakinya ditempat yang tepat. Ketika ia menumpang tinggal disebuah kost sederhana milik teman SMAnya, ia mendapatkan pengalaman yang berharga dalam membentuk budaya literasi yang kini sudah melekat erat dalam dirinya. Suasana kondusif itu muncul berkat perkenalan Agung dengan beberapa tokoh masyarakat sekitar, seperti Ustadz Sakti Ariseno, Shofwan Assegaf, dan Ronald Hutagalung. Mereka sering berinteraksi disebuah Masjid bernama Nurul Islam.

“Kalau berada di dekat Masjid, saya bisa merasa lebih baik. Walaupun saya sebenarnya juga bukan orang baik. Dari situ juga saya banyak berkenalan dengan orang-orang yang menginspirasi hidup saya.” Ujarnya. Lalu Ia menambahkan, “Ustadz Salman al-Jogjawy (Sakti Ariseno) misalnya, dulu ia seorang artis dan musisi, tapi perilaku dan pola pikirnya tidak seperti artis kebanyakan. Shalat malamnya tidak pernah putus, dan rakaatnya panjang-panjang. Kemudian ada Shafwan Assegaf, seorang mahasiswa S2 Kedokteran UGM, lalu Ronald Hutagalung, seorang trainer yang sekarang sedang bertugas di Manado. Semuanya masih muda, tapi kalau sedang berjama’ah, mereka selalu menempati shaf pertama.” Kenang Agus saat mengingat masa suramnya dulu.

Sebelum mengenyam pendidikan di SosPol UGM, Agung sempat merasakan pendidikan D1 Manajemen Rumah Sakit. Namun, ia merasa itu belum apa-apa, tidak sebanding dengan prestasi teman-teman sepermainannya. Kini, bukan hanya telah mendapatkan beasiswa S2 penuh di Universitas Paramadina, tapi ia juga ditawari pendidikan S3 tanpa harus mempunyai gelar S2 lebih dulu. “Sebenarnya saya kepengin, cuman apa daya, IPK belum kesampaian. Syarat minimalnya harus 3.7 kalau nggak salah, sekarang IPK saya Cuma 3,57.” Respon Agung terhadap tawaran tersebut.

“Tapi jujur saya katakan,” Lanjutnya, “Bagi saya, IPK cumlaude itu biasa, bukan sesuatu yang spesial. Cari nilai lebih yang lain, seperti aktif diorganisasi, mengikuti training, seminar, atau semacamnya lah. Insya Allah itu akan lebih bermanfaat.”

Dengan IPK yang bisa dikatakan cumlaude, 3.57, Agung sebenarnya mudah saja meluluskan dirinya dari Universitas terbaik di Jogja itu, bahkan mulai tahun 2009 silam. Tapi pilihan itu ditinggalkannya, dengan alasan memerlukan waktu lebih lama untuk membukukan skripsinya. Inilah salah satu prinsip yang Agung pegang. Ketika orang lain menyandingkan visi dengan misi, pria peraih 5 beasiswa sekaligus ini menyandingkan visi dengan inovasi. “Misi adalah media kita mewujudkan visi, akan tetapi inovasi punya nilai lebih dari misi.” Ketika Agung melakukan sesuatu yang normal dilakukan orang lain, ia ingin membuat sesuatu yang berbeda, yang mempunyai nilai lebih. Contoh lainnya adalah saat ia menunaikan kewajiban KKN. Orang lain mungkin lebih memilih untuk beroperasi didaerah terdekat, atau sesuai ketentuan lembaga terkait. Sementara, Agung memilih untuk mengumpulkan teman-temannya, dan berinisiatif melancong jauh ke Papua, selama dua bulan, hanya untuk menunaikan kewajiban yang sama, KKN.

Selain jawara dibidang akademis, Agung ternyata menyimpan segudang prestasi lain. Sekitar tahun 2008, ia kembali menuai prestasi saat menjuarai kompetisi kepemimpinan nasional bertajuk The Next Leader yang diadakan Metro TV. Agung mengaku, keikutsertaannya dalam acara ini adalah ketidaksengajaan. “Awalnya saya menolak, soalnya teman saya yang mengajak itu agak memaksa, resek banget deh pokoknya.” Agung tertawa kecil. Singkat cerita, dengan penuh keterpaksaan Agung akhirnya mengikuti ajang kompetisi bergengsi itu. Lolos kualifikasi dan masuk peringkat 7 besar regional tidak membuatnya cukup puas, ia yakin ditingkat nasional masih banyak peserta yang lebih baik. Tapi tampaknya angin keberuntungan belum mau berpaling darinya. Tak lama berselang, panitia The Next Leader menghubungi Agung dan memintanya menggantikan wakil Yogyakarta untuk hadir ditingkat nasional. “Saat dihubungi, saya langsung menolak. Keburu malas duluan, habis jeda waktunya lama banget.” Ia menimpali. “Tapi tiba-tiba saya ingat sebentar lagi ulang tahun ibu saya. Orang tua zaman dulu kan senang kalau lihat anaknya masuk TV. Jadi niat saya sebenarnya untuk menerima tawaran panitia tadi ya karena ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk ibu saya. Kebetulan Metro TV bisa memfasilitasinya, hehehe.” Tawanya yang khas kembali terdengar.

Agung akhirnya maju sebagai wakil dari Jogja. Setelah melalui proses penjurian yang bisa dibilang tidak menyenangkan—sempat diacuhkan dan beradu mulut dengan juri—ia akhirnya keluar sebagai juara. Dengan bangga Agung melanjutkan ceritanya, “Wah, ketika itu saya benar-benar nggak nyangka, padahal saya itu paling muda diantara peserta lainnya.” Prestasi itulah yang membuatnya mendapatkan beasiswa penuh S2 di Universitas Paramadina.

Menjadi mahasiswa selama 6 tahun ternyata membuat Agung mengerti betul filosofi hidup sebagai orang yang dianggap tahu segalanya (baca: mahasiswa) itu. Menurutnya, mahasiswa merupakan orang yang sangat beruntung, dimana mereka dengan bebas bisa mendapatkan informasi, pengetahuan, pengalaman, serta sumber daya yang tidak terbatas dari lingkungannya. Dari situ mereka sebenarnya mempunyai kewajiban mendistribusikan sumber daya tadi kepada orang yang kesulitan mengaksesnya. “Tapi sayangnya,” Agung menggelengkan kepala, “Fenomena seperti itu jarang banget bisa saya lihat sekarang. Hampir tidak ada perbedaan antara mahasiswa dengan orang biasa. Kalau anak sekolahan mungkin jelas, mereka memakai seragam.” Paparnya dengan menggebu-gebu. “Tapi kalau mahasiswa, mereka kan tidak pakai seragam. Dan setahu saya, seragam seorang mahasiswa itu adalah intelektualitas.”

Kata-kata tersebut tidak semata-mata keluar begitu saja dari mulut seorang Agung Baskoro, melainkan dengan segenap pembuktian yang luar biasa sulit. Kabur dari rumah, merantau ala kadarnya, ditolak berbagai perguruan tinggi, adalah keterbatasan-keterbatasan yang berhasil didobraknya. Kini, dengan puluhan prestasi ditangannya, hampir tak ada yang mustahil untuk dilakukan. “Mungkin teman-teman disini belum pernah merasakan keterbatasan yang saya alami, maka dari itu tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak bisa menjadi yang lebih baik dari saya. Jika ingin mencapai sesuatu, luangkan waktumu dan rencanakan.” Penggalan kalimat yang dilontarkan Agung Baskoro ini benar-benar menjentik semangat saya saat itu. Terlalu lama menetap dalam zona kenyamanan membuat seseorang semakin tidak peka dengan perubahan. Jalan perubahan memang sepi dan gelap, tapi tetap saja yang bisa memahami jalan itu hanya diri kita sendiri. Kita memang harus mengambil risiko untuk tetap berjalan kedepan. Menuju sebuah perubahan. Menuju sebuah masa depan penuh harapan.[]





Comments

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)