Posts

Showing posts from September, 2013

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)

Image
Bakmi yang Membisukanmu Oleh: Fauzan Al-Asyiq Masakan bakmi jawa selalu menjadi ciri khas kuliner Jawa Tengah danYogyakarta. Berbeda dengan mi instan, bakmi jawa yang sama-sama bisa digoreng maupun rebus, mempunyai rasa yang berbeda. Terkesan manis dan wangi. Ada ribuan pedagang bakmi jawa yang bisa ditemukan dipinggir jalan, kolong jembatan, maupun restoran bintang lima. Namun, hanya segelintir yang rasanya benar-benar mampu membuat saya terbisu, khusyuk menikmati suap demi suap bakmi yang tersaji hangat beruap.  Bakmi tersebut ialah bakmi Si Bisu atau sesuai yang tertulis di kaca gerobaknya, Shibitshu, warung bakmi sederhana yang berlokasi di Jalan Bantul (sekitar 100 meter utara Pasar Satwa Jogja). Jangan tertipu dengan bentuk warungnya yang sangat tradisional. Hanya gerobak berhias 2-3 meja besar dengan sekian hamparan tikar lusuh. Tapi jangan salah, setelah pukul 9 malam, warung tersebut dipastikan seakan menghilang tertelan pemandangan puluhan motor dan mobil yan...

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mengenai sisi emosionalnya, para pengidap LLI cenderung mampu mengendalikan mood mereka dan menjaganya tetap stabil, bahkan dalam keadaan tertekan sekalipun. Kebanyakan orang mungkin kurang bisa menjaga mood lantaran kondisi lingkungan dan sugesti orang lain (termasuk dirinya sendiri) yang terus terngiang-ngiang seperti suara yang berbicara didalam kepala mereka. Pengidap LLI hampir tidak pernah mengalami hal ini karena kontrol pikiran sepenuhnya berada dalam alam sadar mereka. Sayangnya, kondisi seperti ini justru berimbas pada pembawaan sang pengidap. Ekspresi mereka cenderung datar dan agak kurang bisa bersimpati terhadap keadaan orang lain. Meski bisa dibilang pengidap LLI mempunyai sedikit 'keistimewaan' dibanding manusia normal pada umumnya, bukan berarti mereka tak punya sisi humanisme yang dikorbankan. Satu kekurangan yang dimiliki pengidap LLI ialah ia kesulitan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, terutama melalui komunikas...

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Dalam sebuah sudut penjara di bilangan Illinois, Amerika Serikat, seorang pria terlihat mengendap-endap penuh waspada. Ia tengah bersembunyi dibalik rak besi yang berisi dokumen para tahanan yang disekap ditempat tersebut. Pria berkepala plontos itu merencanakan sebuah pelarian unik untuk melepaskan kakaknya, Lincoln Burrows dari jerat hukuman mati karena sebuah kasus berbahaya. Mata pria yang bernama Michael Scofield ini terus menatap sebuah kotak besi yang terletak 5 meter persis didepan batang hidungnya. Diatas kotak itu ada 9 tombol yang bertuliskan angka-angka, semacam kunci pengaman berpassword untuk mencegah orang yang tak diinginkan masuk ke lorong yang tak lain adalah sel tahanan. Tak berapa lama, seorang sipir penjara datang dan menekan beberapa angka kombinasi, lalu masuk begitu saja. Michael tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil membawa segenggam debu, ia bergerak mendekati kotak besi tersebut. Dengan satu tarikan nafas, ia lantas meni...

Embracing an Early Sunshine

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Mendaki setinggi hampir 3.000 meter ternyata tidak mudah. Tanpa peralatan dan fasilitas memadai ala film 5 cm, menapaki satu persatu batuan disekujur badan Merapi bahkan terasa semakin berat bagi saya yang berkacamata. Tak terhitung berapa kali saya harus mengelap lensa yang berembun terkena hembusan napas dingin yang keluar dari mulut yang tertutup masker. It's extremely painful . Belum lagi sepatu pinjaman jebol sesaat sebelum mencapai puncak. Mungkin jika saya lanjutkan, daftar keluhan yang saya alami tidak akan cukup sampai bawah. But that's it. No pain no gain. I would rather suffer more and more when I knew my pain would be paid off by the time I stepped my feet at the top, embracing the early sunshine, believing in the beauty of God's creation. Setiap 23 September, untuk mengenang kelulusan dari sebuah lembaga pendidikan di Ponorogo, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa dibilang challenging , menantang. Setelah 3 tahun silam saya mend...

Jidatmu Identitasmu (Part 2: End)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq Semua Hal-hal tersebut seakan menjadi barcode khusus yang membedakan mereka dari produk-produk lain dipasaran. They just stand out among the others . Not in the good way, but in the very distinctive one.  Fakta inilah yang membuat saya (mungkin beberapa orang juga berpikiran sama) menjadi stereotype—hanya pada kaum tersebut diatas. Diluar, kami memang bebas dan terpisah untuk terjun ke ranah perjuangan masing-masing, namun sebenarnya ada benang merah yang dengan mudah mampu manyatukan kami kembali: kemampuan untuk mengenali kaum kami sendiri. Kalimat saya sebelumnya tolong jangan dinilai diskrimnatif. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya sulit menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menerjemahkan apa yang ada diotak saya saat ini. :) Sudah tak terhitung berapa kali saya bertemu teman satu sekolahan saya diluar. Mau masih nyantri ataupun yang sudah beranak cucu, yang kenal maupun yang belum pernah ketemu.

Jidatmu Identitasmu (Part 1)

Image
Oleh: Fauzan Al-Asyiq  Siang itu saya sedang bersantai sembari berjaga di toko ketika 2 orang remaja putri datang untuk menanyakan tersedia atau tidaknya sebuah buku yang mereka cari. Melihat dari busananya, tak heran mereka mencari buku tersebut. Keduanya mengenakan jilbab lebar menutupi bahu, baju panjang diilengkapi rok gelap, tak lupa berkaos kaki. Saya tersenyum. Tipe-tipe busana seperti ini sangat tidak asing. Bukan yang sering saya pakai tentunya. Hanya saja ketika melihat perempuan berbusana demikian, atau laki-laki bercelana kain lebar, dandanan necis berbaju rapi, saya merasa mereka dan saya setidaknya pernah dibesarkan dalam satu lingkungan yang sama: Pesantren.  Ah, tadinya saya hendak menulis cerita lucu tentang buku yang mereka cari, tapi mari kita simpan sejenak hikayat tersebut.  Pendidikan nonstop 24 jam dalam lingkungan pesantren memang mencakup segala aspek. Dari terkecil hingga terbesar. Dari mulai bangun tidur hingga mata kembali memeja...

Review: This is The End (2013)

Image
This is How They Described Apocalypse. Literally. Oleh: Fauzan Al-Asyiq Entah apa yang merasuki pikiran para kritikus film Hollywood sehingga memberikan rating tinggi pada film ini. Jarang sekali ada film komedi memiliki rating 84% ( certified fresh ) di situs review film terkemuka: rottentomatoes . This is The End merupakan film yang menurut saya hanya sedikit diatas rata-rata, namun film ini saya akui menawarkan resep dan bumbu baru yang sangat segar. Oke, apocalypse-or-dooms-day-or-whatever-you-name-it memang tema lawas, tapi bagaimana jika aktor dan aktris masyhur Hollywood bermain sebagai dirinya sendiri? Well, this is good. Bagi penonton awam, mungkin sensasi menyaksikan hal demikian terkesan biasa saja, namun bagi saya—yang sudah sangat familiar dengan Seth Rogen, Jay Baruchel, James Franco, Jonah Hill, hingga Emma Watson— it’s just hillarious . Menyenangkan sekali menonton mereka memainkan dirinya sendiri, bergumul bersama, melontarkan humor slapstick me...

Product Placement Dalam Film (Part 2: End)

Image
BMW Vision dalam Mission Impossible: Ghost Protocol  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Tak jarang pula dalam satu film, terdapat keroyokan product placement dari berbagai merk, tapi merk-merk tersebut mempunyai perbedaan fungsi. Seperti misalnya Mission Impossible: Ghost Protocol. Film yang rilis di penghujung 2012 ini menampilkan jajaran merk mewah seperti Apple dengan produknya macam iPhone, iPad, dan Macbook Air, maupun BMW dengan konsep mobil futuristiknya, BMW Vision, yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mempunyai fitur display layar sentuh raksasa dibagian kemudinya.  But well, semua contoh diatas belum apa-apa jika dibandingkan dengan Sony, merk raksasa manufaktur elektronik Jepang. Sony begitu digdaya dalam mempromosikan produknya melalui film-film yang didistribusikan dibawah bendera Columbia Pictures dan Screen Gems. Keduanya merupakan anak perusahaan Sony. Bedanya, Columbia bergerak dalam distribusi film berbudget besar seperti franchise Spiderm...

Product Placement Dalam Film (Part 1)

Image
Honda Acura dalam film Marvel's The Avengers (2012) Oleh: Fauzan Al-Asyiq Sampai sekarang, saya masih tidak habis pikir ketika menyaksikan kejanggalan yang amat sangat mengganggu begitu melihat penampakan sebuah cemilan cokelat dalam sebuah film biografi yang bertajuk Habibie Ainun. Terlepas dari 4 juta pasang mata yang telah menontonnya, jujur saya sendiri tidak begitu antusias terhadap film tersebut. Bagi saya yang penikmat film, film ini luar biasa dari segi cerita dan isinya, namun sedikit kedodoran dibagian make up dan aspek keotentikan setting properti. Untuk alasan make up saya masih memaklumi karena mengubah raut wajah seseorang menjadi 20-30 tahun lebih tua tidaklah mudah bagi tim visual efek film Indonesia. Namun, atas nama seni, alasan kedua kurang bisa ditolerir dengan alasan apapun.  Habibie Ainun bukan satu-satunya film Indonesia yang secara gamblang memamerkan sebuah produk untuk kepentingan promosi. Jauh sebelum itu (meski tidak separah Habibie Ainun)...

Gontor itu Indah

Image
Ada alasan kuat yang membuat saya tak dituduh "memuji-muji dan membangga-banggakan Gontor karena memang bekas almamaternya". Pada awal 1968, pasca-"revolusi lokal" yang gagal, saya mathrud alias diusir atawa dipecat dari pondok modern itu. Ketika itu berlangsung semacam martial law. Hukum darurat. Gara-gara memprotes ketidakadilan Qismul Amn, semacam kopkamtib. Pak "pangkopkamtib" mengadili saya jam 02.00 dini hari hingga bakda subuh. Vonisnya, saya dideportasikan pagi itu juga, alias "gulung tikar-angkat koper"- demikian istilahnya di sana. Beberapa hari kemudian, saya ke Gontor lagi khusus untuk petentang-petenteng. Tak sampai setahun kemudian "panglima" keamanan dan ketertiban ini mengalami nasib seperti saya, "gulung tikar-angkat koper". Namun, sejak itu "situasi politik" normal kembali.  Saya mensyukuri hikmah dari pengadilan subyektif itu. Bahkan penghargaan saya terhadap Gontor sama sekali tak pernah men...

Review: Star Trek Into Darkness (2013)

Image
The Sequel That Deserves Another One Oleh: Fauzan Al-Asyiq The best science-fiction movie that I ever seen. Saya harap kalimat pertama tersebut bisa mewakili keseluruhan review yang saya tulis ini. Lupakan Saga Transformers yang bermandikan spesial efek, namun bernaskah cemen. Buang jauh-jauh Prometheus yang garing dan terlalu berfilosofis. Ah, mereview STID membuat saya melupakan film fiksi ilmiah apa saja yang telah saya tonton, hampir, semuanya tak begitu berkesan, tentu saja selain Star Trek (2009) itu sendiri, prekuel dari STID. Saya terhitung telat menyaksikan saga penjelajah luar angkasa ini. Terus terang, pada awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Star Trek karena sudah terlalu banyak diadaptasi menjadi berbagai media: film, serial tv, game, novel grafis, dsb. Lantaran Star Trek booming di era 80an, saya pikir saat ini sudah terlalu telat untuk mulai menyukainya.  But, guess what? Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mencintai sesuatu. Sem...

Review: Elysium (2013)

Image
Sometimes an Asshole Can Be a Hero Too  Oleh: Fauzan Al-Asyiq Dalam menikmati sebuah film yang relatif asing bagi saya (film orisinil atau adaptasi dari source yang relatif belum pernah saya dengar), saya sering mengkategorikan film tersebut menjadi 2 hal: berbobot dan menghibur. Tidak banyak film yang mampu menyatukan keduanya dengan porsi seimbang, setidaknya belakangan ini, sampai saya menonton Elysium minggu kemarin. Film yang bergenre, science-fiction, adventure, dan action ini mengemas sebuah hiburan menegangkan dalam balutan sinematografi CGI ( Computer Generated Imagery ) yang dahsyat, tanpa harus mengorbankan esensi dari kritik sosial yang terkandung didalamnya. Ya, film ini berbobot dan menghibur.  Elysium ber plot maju, dengan beberapa flashback guna mendukung gaya penceritaan Neill Blompkamp, sang sutradara. Kisahnya diawali dengan penuturan keadaan bumi tahun 2153, dimana keadaannya sudah tidak layak dihuni karena overpopulated . Kondisi ini menyebabka...