Menulis Sebagai Identitas Mahasiswa


Oleh: Muhammad Fauzan Al-Asyiq

“Al ‘Ilmu Shoidun Wal Kitabatu Qoiduhu”

Demikianlah sepenggal pepatah Arab yang kurang lebih berarti “Ilmu itu bagai binatang buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya”. Kalimat tersebut telah menekankan kepada kita tentang pentingnya menulis. Riset pun telah membuktikan bahwa menulis dapat meningkatkan kepahaman dan respon ingatan hingga 6X dibandingkan dengan hanya membaca sebuah informasi.

Memang membaca pun tak kalah pentingnya dengan menulis, akan tetapi hal tersebut hanya merupakan input informasi dalam otak saja, sementara menulis merupakan input sekaligus output informasi yang kita terima.

Sebagai contoh, saat kita mencatat ilmu yang diberikan oleh dosen, maka tulah yang disebut sebagai input. Sementara ketika kita menuliskan jawaban ujian diatas selembar kertas, maka itulah output pikiran kita. Keduanya jelas saling berkesinambungan....

Apalagi jika disangkutpautkan dengan status mahasiswa yang kita emban.

Sayangnya, budaya menulis saat ini makin jauh saja dari yang namanya mahasiswa. Cobalah periksa binder/buku catatan kuliah beberapa teman mahasiswa, mungkin hanya beberapa lembar saja yang berisi goresan tinta miliknya, sisanya hanyalah lembaran HVS hasil fotocopy, catatan teman atau printout hasil browsing atau slide show powerpoin dari dosen. Sungguh ironis. Terkikisnya tradisi menulis ini tak lepas dari rasa malas, kurang percaya diri, ingin yang praktis, atau apapun itu. Ditambah lagi dengan kemudahan akses informasi dan teknologi, serta kemudahan akses jaringan “teman yang rajin mencatat”, yang akhirnya semakin mendukung kemalasan seorang mahasiswa untuk menulis.

Padahal, urgensi menulis sebenarnya bukan terletak pada sejauh mana kita bisa menangkap sebuah informasi dan menginterpretasikannya kembali dalam kata-kata maupun coretan, tapi lebih kepada bagaimana kita menjadikan “menulis” sebagai aktivitas yang menunjang kualitas pendidikan dan pembelajaran kita sendiri (mahasiswa).

Rasanya tidak perlu dicontohkan lagi siapa saja tokoh-tokoh yang namanya menjadi besar karena menulis. Tradisi menulis ini sangat erat dengan kalangan intelektual seperti ulama-ulama abad pertengahan. Maka, kita sebagai kalangan intelektual (baca: mahasiswa) abad modern, sudah selayaknya menapaki jejak yang sama dengan menanamkan kebiasaan menulis sejak dini dalam diri kita. Jadikan menulis sebagai sebuah jembatan prestasi untuk menggapai segenap mimpi, menapaki masa depan, serta menuliskan sejarah dengan tinta keemasan.[]

Comments

  1. I like it,,, betul banget tuh brader, menulis memang asik.. salam W presiden republik goblok

    www.republikonar.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menuju World Class University

Penyakit Idaman yang Mencerdaskan (Part 1)

Review Kuliner: Bakmi Si Bisu/ShiBitshu (Yogyakarta)